Rabu, 02 Maret 2011

Berita Pertanian : Sayur Berastagi Ekspor ke Singapura


KARO. Puluhan petani sayuran di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang mengelola lahan pertanian sekitar 20 hektar mendapatkan kepastian pasar untuk produk sayuran yang mereka budidayakan. Kepastian pasar diperoleh setelah ada kerja sama pemasaran antara petani dan eksportir sayur ke Singapura.

Hal itu terungkap saat kunjungan lapangan Menteri Pertanian Suswono ke lokasi sayur ekspor hasil kerja sama petani dan eksportir, PT Hortijaya Lestari, Rabu (2/3/2011) di Brastagi, Karo. Suswono menyatakan, kerja sama pemasaran ini merupakan langkah positif untuk memberikan kepastian pasar dan harga bagi petani. Selama ini harga sayuran fluktuatif dan tidak menguntungkan petani. ”Ini upaya terobosan pasar dari pemerintah untuk menjaga harga supaya stabil,” kata Suswono yang juga menegaskan pentingnya menjaga pasar lokal dari produk impor.

Bijak Ginting (42), petani sayuran anggota Kelompok Tani Matahari di Desa Rumah Brastagi-Ujung Aji, Kabupaten Karo, mengungkapkan, sebelum ada kerja sama dengan eksportir petani kesulitan mendapatkan pasar.

Harga sayur tidak stabil akibat permintaan pasar lokal yang kadang tak pasti. Dengan adanya kerja sama ini, pasar sudah jelas. Petani bisa tenang berproduksi dan tinggal mengutamakan kualitas.

Pihak eksportir membeli sayur, seperti peleng, dengan harga kontrak Rp 4.500 per kilogram. Bijak menyatakan, untuk setengah hektar lahan, bisa menghasilkan peleng hingga 10 ton. Benih yang dibutuhkan 2,5 kilogram dan dibeli dari pihak eksportir seharga Rp 85.000 per 250 gram. Bijak sendiri memiliki lahan 1 hektar dan akan ditanami peleng semua.

Agusta Kemit (40), petani sayur anggota Mitra Tani Horti Jaya di Desa Ajijulu, Kecamatan Tiga Panah, Kabupaten Karo, menyatakan, dalam kerja sama ini ia menanam sayuran 4.000 meter persegi. Salah satunya sayuran peleng. Tanaman peleng bisa panen 40 hari sekali. Produksinya juga tinggi, bisa 700 kilogram per 400 meter persegi. ”Yang paling utama bagi kami adalah adanya kepastian pasar,” katanya.

Selama ini petani menjual produk sayuran ke pasar lokal. Harganya fluktuatif. Kadang Rp 3.500 per kilogram, kadang Rp 6.000. ”Dengan sistem kerja sama dengan eksportir, pasar menjadi lebih jelas dan harga stabil,” katanya.

Menurut rencana, para petani akan menandatangani kontrak dagang pemasaran sayuran untuk ekspor ke Singapura, yaitu antara Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Mitra Tani Lestari di Kabupaten Karo dan PT Hortijaya Lestari. Selain itu, juga Gapoktan Dolok Meriah di Kabupaten Simalungun dan Gapoktan Maju Bersama dengan PT Alamanda Sejati Utama. Penandatanganan kontrak akan disaksikan Menteri Pertanian Suswono.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar