Jumat, 18 Maret 2011

Menanti Permata Hijau Karo Kembali Kemilau

















M BURHANUDIN DAN M HILMI FAIQ

”Tuhan menganugerahkan kesuburan luar biasa untuk tanah ini,” ujar Naksir Purba (52), petani sayur di dataran tinggi Karo. Kini, tanah itu masih subur, tetapi hasil jerih payah petani tak ubahnya setara sandal jepit.

Dataran tinggi Karo nan sejuk ini menjadi sentra sayuran terbesar di Sumatera Utara. Kecakapan budidaya hortikultura masyarakat dataran tinggi Karo berlangsung turun-temurun sejak sekitar 70 tahun silam. Hal itu terus meluas hingga ke sebagian Kabupaten Simalungun dan Dairi. Sayuran menjadi denyut nadi masyarakat setempat. Sebanyak 72,3 persen dari 370.619 penduduk Kabupaten Karo hidup sebagai petani.

Kabupaten Karo terletak sekitar 77 kilometer arah selatan Medan, ibu kota Provinsi Sumatera Utara. Suhu udaranya sejuk, 17-20 derajat celsius. Di ketinggian 800-1.400 meter di atas permukaan laut inilah Gunung Sibayak dan Sinabung bercokol. Pada zaman Belanda, para menir berakhir pekan di sini.

Dalam buku Karo dari Jaman ke Jaman (1981), Brahma Putro menjelaskan, pada tahun 1807, seluruh dataran tinggi Karo telah dikuasai Belanda. Setelah itu, Belanda membangun jalan dari Medan menuju Karo yang diprakasai Jacob Theodoor Cremer, Komisaris Nederlandsche Handel Maatschappij (Maskapai Perdagangan Belanda). Kini, jalan itu bernama Jalan Jamin Ginting, diambil dari nama pejuang setempat.

Awalnya, masyarakat Karo menanam jagung dan padi. Pada 1940-an, sekelompok orang China datang untuk menanam sayuran, seperti bayam peleng, sawi putih, dan wortel, untuk memenuhi kebutuhan warga Belanda yang tinggal di Berastagi. Sayuran pun terus bertambah hingga 27 jenis.

Orang China membudidayakan sayuran dengan menyewa lahan warga pribumi dan mempekerjakan mereka. Terjadilah transformasi pengetahuan sehingga warga pribumi paham cara menanam sayuran dengan baik. Lambat laun, warga Karo meninggalkan tanaman jagung dan padi lalu berpindah ke sayuran.

”Setelah tahu tata cara menanam sayur, kami tidak memperpanjang penyewaan tanah dan akhirnya menanam sayuran sendiri,” kata Bijak Ginting (43), petani setempat.

Namun, warga keturunan asal China masih menyimpan beberapa rahasia cara bertani. Itu mendorong warga Karo belajar mandiri dengan berpijak pada pengalaman empirik. Hal itu memunculkan beragam formulasi yang menjadi rahasia masing-masing keluarga Karo. Rahasia itu, antara lain, adalah tentang pengaturan jarak tanam, pemilihan bibit, perbandingan pupuk, pemilihan waktu panen, dan waktu menjual hasil panen.

”Ini memunculkan kearifan lokal yang tidak bisa digeneralisasi meskipun dalam lingkup dataran tinggi Karo itu sendiri,” tutur Sri Alem Sembiring, Antropolog dari Universitas Sumatera Utara.

Sampai kini setiap keluarga tidak membeberkan rahasia itu kepada keluarga lain dengan alasan demi stabilitas harga.

Namun, secara umum, terdapat kearifan lokal yang diterapkan oleh hampir seluruh petani setempat. Mereka menerapkan pola tumpang sari, contohnya menanam buncis di antara tanaman kol. Ada juga yang menggunakan pola tua-muda, yang berarti menanam tanaman muda di antara tanaman tua, seperti menanam kol (muda) di antara pohon jeruk (tua).

Sebagian petani lain menerapkan pola yang mereka sebut sada-sada, yakni menanam beberapa jenis sayuran di dalam satu hamparan. Cara ini dilakukan Lison Ginting (50), petani di Desa Lingga Julu, Kecamatan Simpang Empat. Dia menanam kol di satu petak dan kentang di petak lain pada saat bersamaan. Pola itu mereka pakai karena, berdasarkan pengalaman, selalu ada harga komoditas yang melonjak ketika harga komoditas lainnya anjlok.

Cara lainnya, petani menanam jenis tanaman yang sama, tetapi dikelompokkan berdasarkan usia tanam yang biasanya selisih 3-4 pekan untuk tiap kelompok. Prinsipnya, petani tetap punya persediaan sayuran ketika harganya bagus. Cara ini mereka sebut ragi-agi.

Pada tahun 1950-an, petani Karo mengalami masa keemasan dengan mengekspor sayuran ke Singapura dan Malaysia. Tidak ada cacatan pasti volume ekspor sayuran saat itu. Warga menggambarkan masa kejayaan itu dengan ungkapan serira sura-sura, ”Berapa pun harga yang kami patok, mereka siap bayar,” ujar Sri.

Pada masa itu, produk hortikultura Karo merajai pasar di Malaysia dan Singapura. Lapangan kerja terbuka lebar sehingga banyak orang Jawa, bekas kuli kontrak perkebunan karet, datang ke sini sebagai buruh tani.

Ekspor hortikultura sempat terhenti tahun 1962 sampai 1965 saat terjadi konfrontasi Indonesia-Malaysia. Namun, petani tidak berhenti menanam meski volumenya berkurang.

Tahun 1966, sayuran dataran tinggi Karo kembali merajai Singapura dan Malaysia. Hal itu membuat petani lupa mengontrol mutu sayuran dan hanya berpikir meningkatkan volume. Penggunaan pupuk kimia dan pestisida menjadi bumerang.

Sebelas tahun lalu, Singapura dan Malaysia menolak sayuran dari Karo dengan alasan tingginya residu kimia. Derasnya ekspor sayuran dari China, Vietnam, dan Thailand kian menyingkirkan Karo.

Sejak itulah ekspor hortikultura Karo merosot. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, Indonesia yang awalnya mampu memasok 30 persen kebutuhan sayuran Singapura dan Malaysia kini hanya bisa memasok 6 persen. Sayuran dari Karo yang semula menyumbang 7 persen untuk kebutuhan nasional kini hanya bisa menyuplai 2,5 persen.

Menteri Pertanian Suswono pernah berjanji untuk membantu petani menghidupkan kembali pasar di negeri jiran. Petani menunggu realisasi konkret agar permata hijau Karo kembali kemilau...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar