Kamis, 31 Maret 2011

ENERGI ALTERNATIF BIOGAS. Tak Perlu Lagi Elpiji


Nyoman Suwena (40, kiri) memasukkan kotoran ternak sapinya ke reaktor biogas yang dibangun di rumahnya di Dusun Penyabangan, Desa Kerta, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar, Bali, Sabtu (26/3). Biogas yang dihasilkan dapat digunakan untuk memasak selama empat jam lebih. Suwena pun kini tidak lagi membeli elpiji untuk memasak.

Oleh Herpin Dewanto

Andaikan harga elpiji atau minyak tanah terus melambung, Nyoman Suwena (40) tidak perlu waswas lagi. Selama ternaknya sehat dan menghasilkan banyak kotoran, ia selalu punya persediaan bahan bakar gratis untuk memasak.

Sudah enam bulan Suwena mengolah kotoran delapan sapinya untuk dijadikan biogas. Gas metan yang diperoleh dari kotoran ternak itu dialirkan ke rumah menggunakan pipa.

Setelah disambungkan ke kompor, biogas itu dapat digunakan untuk memasak hingga empat jam per hari, bahkan lebih.

Di Banjar atau Dusun Penyabangan, Desa Kerta, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar, Bali, tempat tinggal Suwena, pengolahan energi alternatif berupa biogas sedang diminati. Sudah ada 44 keluarga dari total 145 keluarga di dusun yang sebagian besar memiliki ternak itu memanfaatkan biogas.

Pengolahan biogas yang dilakukan Suwena tak memerlukan peralatan yang rumit. Ia hanya membutuhkan kubah reaktor dari beton berukuran 10 meter kubik, lubang masuk (inlet) kotoran berdiameter 50 sentimeter dan tinggi 40 cm, pipa-pipa air, dan kompor khusus biogas.

Kotoran yang dihasilkan ternak dimasukkan melalui inlet dan dicampur air dengan perbandingan satu banding satu. Kotoran itu akan masuk ke kubah reaktor yang dibangun di dalam tanah untuk diambil gas metannya. Adapun ampas kotoran masih bisa diolah menjadi pupuk organik.

Biaya pembuatan sistem pengolahan biogas milik Suwena itu sekitar Rp 9 juta, sebanyak Rp 2 juta di antaranya sudah disubsidi oleh Biru (Biogas Rumah), yakni program pengadaan biogas. Program ini merupakan kerja sama Pemerintah Indonesia dan Belanda.

Kubah reaktor biogas di Dusun Penyabangan pada umumnya lebih kecil, rata-rata berukuran 4 meter kubik dan 6 meter kubik. Pembuatan kubah reaktor biogas seukuran itu hanya membutuhkan biaya Rp 5 juta-Rp 7 juta. Itu pun sudah termasuk subsidi dari Biru berupa barang seperti pipa, pengukur gas, dan kompor khusus biogas.

Sejak memakai biogas, Suwena tak lagi membeli tabung elpiji ukuran 12 kilogram untuk memasak. Biasanya ia membutuhkan dua tabung elpiji 12 kg setiap bulan dengan harga per tabung Rp 75.000.

”Saya punya cadangan satu tabung gas untuk jaga-jaga, tetapi sampai sekarang tidak pernah dipakai,” katanya, Sabtu (26/3).

Ni Ketut Murdi (39), pengguna biogas lain, juga tak lagi membutuhkan elpiji. Pasokan biogas yang diolah dari kotoran ternak babinya cukup untuk memasak lebih dari empat jam per hari. Sebagai pedagang bubur, ia membutuhkan dua kompor.

Di dekat kompornya ada alat pengukur volume gas. ”Kalau kompor saya matikan beberapa jam, gasnya bisa tambah lagi,” kata Ketut Murdi.

Bantuan kredit

Dusun Penyabangan merupakan daerah di Bali yang terbanyak memanfaatkan biogas. Berdasarkan data Biru, hingga akhir Maret 2011 sudah ada 71 keluarga di Pulau Bali yang memanfaatkan biogas, yaitu di Kabupaten Gianyar, Buleleng, Bangli, Tabanan, Badung, dan Klungkung.

Di Nusa Tenggara Barat (Pulau Lombok) sudah ada 81 unit biogas yang dibuat. ”Di Bali dan Lombok ini, kami menargetkan memasang hingga 600 unit biogas rumah tangga hingga 2012,” kata Koordinator Biru wilayah Bali dan Lombok I Gede Suarja.

Menurutnya, Bali sangat potensial untuk pengadaan biogas rumah tangga karena sebagian besar warganya hidup dari pertanian dan peternakan. Untuk menghasilkan biogas selama empat jam dibutuhkan sekitar 3-4 ternak sapi.

Oleh karena itu, tantangan yang dihadapi kini adalah mempertahankan supaya ternak warga tetap utuh sebagai sumber daya energi. Koperasi Tani Amerta Nadi di Dusun Penyabangan pun meluncurkan program kredit bagi warga yang ingin membangun sistem biogas.

”Jangan sampai membangun biogas, tetapi menjual ternaknya, nanti dari mana bisa memperoleh kotoran ternak,” kata Manajer Koperasi Tani Amerta Nadi Nyoman Suardana.

Sejak diluncurkan pada Januari 2011 sudah ada enam warga yang memanfaatkan kredit itu. Setiap bulan mereka membayar angsuran Rp 320.000 per bulan selama 20 bulan dari dana yang diperoleh koperasi.

Koperasi itu kini juga berharap dapat bekerja sama dengan pihak ketiga untuk mengembangkan peternakan di dusun itu. Mereka tidak ingin program pengadaan biogas itu hanya menjadi seremonial belaka dan tidak berkelanjutan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar