Senin, 23 April 2012

Tips Ampuh : Perasan Jeruk Nipis Ampuh Perangi Bakteri Air Minum















ANDA
khawatir akan air putih yang Anda konsumsi? Cobalah untuk menambahkan sedikit perasan jeruk nipis.

Hal tersebut bukan tanpa alasan, dari penelitian yang dilakukan oleh Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health and the Johns Hopkins School of Medicine, menyatakan bahwa menambahkan air jeruk nipis ke air minum mampu mengurangi tingkat bakteri berbahaya seperti E coli.

"Bagi banyak negara, akses ke air minum yang bersih masih menjadi perhatian utama. Penelitian sebelumnya memperkirakan bahwa secara global, separuh dari semua tempat tidur rumah sakit ditempati oleh orang yang menderita penyakit yang berhubungan dengan air," papar Schwab Kellogg, PhD, MS, salah seorang penulis senior di studi tersebut, seperti dalam situs Zeenews 18 April 2012.

Dalam penelitian sebelumnya, tim menemukan metode SODIS (Solar water Disinfection) untuk mentralisir kandungan bakteri pada air siap minum.

Metode SODIS membutuhkan mengisi 1 atau 2 polietilen tereftalat L, dan setelahnya harus dipapar oleh sinar matahari selama enam jam.

Namun setelah dilakuakn penelitian mengenai manfaat perasan jeruk nipis untuk air minum, para peneliti mengatakan bahwa metode merupakan metode yang mudah dan efektif untuk mengusir bakteri E. coli.

"Hasil menunjukkan penelitian ini sangat mengurangi tingkat E. coli hanya dalam 30 menit, metode tersebut mampu menyetarakan dengan tingkat air mendidih.รข€ Pungkas Kellogg.

Tips Ampuh : Lengkuas Usir Empat Penyakit Kulit














LENGKUAS
jamak dikenal sebagai rempah pelengkap pada masakan. Namun bagi para ahli herbal, rempah dengan nama latin Alpinia purpurata ini disebut-sebut dapat menghilangkan berbagai masalah, terutama pada kulit, berikut di antaranya:

1. Panu : panu atau jamur pada kulit merupakan keadaan yang sangat mengganggu penampilan. Cobalah untuk mengambil satu rimpang segar lengkuas merah yang dipotong miring, kemudian pukul-pukul bagian ujungnya sehingga mengeluarkan sedikit air. Gosokkan pada kulit yang terdapat panu secara rutin.

2. Kurap : untuk resep penghilang kurap, Anda bisa mencampur lengkuas sebanyak 4 ruas dengan bawang putih yang ditumbuk halus. Tambahkan 1 sendok cuka makan dan panaskan. Setelah dingin, oleskan pada bagian tubuh yang terserang kurap.

3. Eksim : parut satu rimpang langkuas yang telah dicuci bersih. Tambahkan air kapur sirih sebanyak satu sendok makan, aduk hingga rata. Oleskan ke bagian kulit yang terkena eksim, kemudian balut dengan perban.

4. Bercak putih pada kulit : campurkan dua jari rimpang lengkuas merah dengan cuka sebanyak satu sendok makan. Oleskan pada bagian tubuh yang terdapat kelainan kulit. Lakukan hingga bercak dan tahi lalat mengempis atau hilang.

Berita Pertanian : Petani Tebu Tuntut Kejelasan HPP Gula

JAKARTA. Wakil Sekjen Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Nur Khabsyin meminta pemerintah segera menetapkan harga pokok pembelian (HPP) gula secepatnya.

Hal tersebut penting karena musim giling akan segera dimulai. Bahkan, pabrik gula di Lampung sudah mulai menggiling gula sejak 1 April lalu.

"Kami mendesak Menteri Perdagangan secepatnya menetapkan HPP gula tani mengingat musim giling 2012 sebentar lagi akan dimulai," ujar Khabsyin dalam siaran persnya yang diterima Media Indonesia, sENIN (23/4).

"Petani tebu sangat menunggu penetapan HPP gula tani, karena HPP merupakan jaminan pendapatan yang akan digunakan untuk menghitung pendapatan petani tebu selama setahun. HPP juga digunakan sebagai acuan besaran dana talangan gula tani oleh investor dana talangan."

Musim giling tebu 2012 di Jawa akan dimulai pada Mei 2012. Sebagian pabrik akan mulai menggiling pada awal bulan tersebut, sebagian lagi pertengahan, dan sebagian lainnya pada akhir Mei.

Khabsyin menekankan lagi usul APTRI agar HPP diberlakukan Rp9.218 per kg. Dasar perhitungannya merupakan sebagai berikut. {roduksi tebu per hektar 1.100 kuintal dengan rendemen 7,2% untuk jenis tanaman tebu pertama (plane cane) dihargaiRp9.496 per kg sedangkan kedua, ketiga, dan seterusnya (ratoon) dengan produksi 900 kuintal per ha rendemen 6,8% HPP-nya Rp8.941 per kg. "Perhitungan tersebut sudah termasuk keuntungan petani 10%," katanya.

Harga tersebut, kata Khabsyin, tidak tinggi. Hanya saya, harga jadi terasa tinggi karena rendemen gula rendah. Apalagi, harga eceran gula saat ini cukup tinggi di level Rp11.100-Rp11.400 per kg.

Sebagai perbandingan, Dewan Gula Indonesia (DGI) mengusulkan besaran HPP sebesar Rp8.750 per kg.

"Sebetulnya usulan besaran HPP tersebut belum memperhitungkan kenaikan ongkos produksi, termasuk biaya tebang dan angkut, yang dipicu oleh rencana kenaikan BBM," tambah Khabsyin. Dia juga mengingatkan agar tidak ada rembesan gula rafinasi saat masa giling tiba.

Hingga Kini, Jeruk Karo Belum Bisa Diekspor






















Medan
. Hingga kini, jeruk Berastagi Sumatera Utara (Sumut) belum mampu menembus pasar ekspor. Selain banyaknya serangan hama lalat buah, produksi jeruk yang tidak seragam dari besar dan warna membuat kalah bersaing dengan jeruk luar negeri. Pelaksana tugas (Plt) BBI Kutagadung Berastagi, Jonni Akim Purba mengatakan, meski jeruk merupakan salah satu komoditas hortikultura andalan di Sumut, namun buah ini tidak sanggup menembus pasar ekspor. Kondisi ini membuat petani enggan mengembangkan tanamannya sehingga harga jual juga masih rendah meski biaya produksi mencapai Rp 70 juta per hektare.

"Selama ini jeruk kita masih dijual ke pasar domestik seperti ke Medan, Pekan Baru, Batam dan Jakarta. Kalau dari luar negeri permintaan ada saja, tapi produksi kita belum sesuai dengan yang diinginkan pasar tersebut," ujarnya kepada wartawan di Medan, Senin (23/4).

Dikatakannya, kualitas produksi jeruk lokal belum sesuai yang diinginkan pasar ekspor seperti besar dan warna buah yang tidak seragam atau jauh berbeda dengan produksi jeruk dari luar negeri. Ditambah lagi, tanaman jeruk lokal masih mengenal musiman sehingga produksi tidak bisa kontinu.

Kendala lainnya, tambah Akim, serangan hama lalat buah membuat buah jeruk tidak bagus dalam penampilan dan produksinya yang menurun. Dimana serangan hama ini merupakan momok menakutkan untuk petani lokal, karena pengendalian hama tersebut membutuhkan biaya tinggi dan perhatian ekstra dari awal tanam hingga pasca panen.

Menembus pasar luar atau menghasilkan buah sesuai yang diinginkan pasar luar ini, kata Akim tidak terlalu sulit untuk petani, asalkan harga jual tinggi dan pemasaran jelas. Karena, petani untuk mendapatkan produksi berkualitas harus menambah modal sebesar 1,5 kali lipat dari biasanya yang mencapai Rp 70 juta perhektare.

"Biaya tambahan itu untuk pengendalian hama, bibit dan perawatan lainnya sehingga buah yang dihasilkan seragam dan sesuai diinginkan pasar," jelasnya.

Selain pengendalian serangan hama lalat buah ini, ia juga menyatakan, tanaman jeruk yang sudah tua atau tidak berproduktif dengan usia rata-rata 20 hingga 25 tahun harus segera diremajakan atau sekitar 25% dari total luas areal tanaman jeruk di Tanah Karo sekitar 2.000-an hektare sudah tidak produktif. "Tanaman itu harus diganti baru. Karena tanaman tua ini dapat menjadi inang penyakit," jelasnya.

Petani Jeruk di Brastagi, Sadrah menyatakan, produksi jeruknya masih menembus pasar domestik dengan harga jual mengikuti mekanisme pasar. "Harga saat ini Rp 7.000 perkg, ini memang tinggi dan hanya bisa dijual ke Sumatera hingga Jawa. Kalau ke luar negeri belum ada yang pesan dan kita tidak sanggup memenuhi keinginan pasar tersebut," akunya.

Untuk serangan hama lalat buah, lanjutnya, belum dapat dikendalikan sehingga banyak petani yang enggan mengembangkan tanaman jeruk ini bahkan banyak yang beralih ke komoditas lain. Sebab, untuk mengendalikan hama itu membutuhkan biaya besar dan perawatan sehingga produksi tetap bertahan dan banyak.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Indag) Sumut Darwinsyah mengatakan pemasaran jeruk lokal sudah menembus pasar ekspor, yakni ke Singapura dan Malaysia. Namun memang, kualitas dan kuantitasnya belum banyak yang dapat memenuhi permintaan pasar international. “Ini karena petani belum dapat memproduksi buah jeruk secara massal sesuai permintaan. Namun, jeruk hasil olahan yang diekspor sudah banyak,” tandasnya.

Kamis, 12 April 2012

Tomat, Buah atau Sayur ?































WARNA
cantik dan rasa asam-manis membuat tomat digunakan pada banyak masakan, belum lagi gizi di dalamnya. Pernahkah Anda bertanya, tomat termasuk buah atau sayuran?

Alasan dari kebingungan apakah tomat tergolong buah atau sayuran bermula dari dua definisi berbeda yang melekat pada buah, secara ilmiah dan kuliner. Para ilmuwan menjabarkan buah adalah bagian dari tanaman yang tumbuh dari benih lewat proses penyerbukan. Bila mengacu pada definisi ini, maka tomat tergolong buah.

Secara khusus, tomat diklasifikasikan sebagai buah karena memiliki biji. Alpukat, pisang, labu, dan semangka bergabung dengan tomat dalam kategori buah berri.

Ada juga yang beragumen bila buah yang memiliki banyak biji, seperti mentimun, juga termasuk dalam kategori sayuran. Nanas bisa saja memiliki biji, tapi memerlukan penyerbukan, dan proses ini dihindari pada nanas yang ditanam secara komersial karena ada efek negatif yang bisa mempengaruhi kualitas buah. Proses ini bahkan dilarang di Hawaii, oleh karena itu nanas dianggap buah.

Lain lagi dengan mentimun yang dianggap buah secara ilmiah, seperti juga labu, kacang polong, jagung, terong, paprika, biji-bijian sereal seperti gandum dan beras, bahkan beberapa jenis botanikal juga diklasifikasikan sebagai buah-buahan.

Jika memiliki rasa manis dan bisa digunakan dalam makanan, seperti pie, itu berarti buah. Jika rasanya cenderung gurih dan biasanya digunakan sebagai bagian dari nonmakanan penutup, seperti sarapan, makan siang, ataupun makan malam, itu dianggap sayuran.

Secara botanikal, tomat masuk dalam klasifikasi sayuran, tetapi sering dianggap buah pada dunia kuliner karena memiliki rasa manis dan penggunaan dalam makanan hanya sebatas pencuci mulut.

Perdebatan ini sebenarnya sudah sangat lama, bahkan sempat masuk dalam Mahkamah Agung pada 1893, dalam Nix V Hedden. Mahkamah Agung secara bulat memutuskan bahwa tomat diklasifikasikan sebagai sayuran, bukan buah. Pada saat itu, sayuran impor telah dikenakan pajak berdasarkan Undang-Undang Tarif tahun 1883, tetapi tidak dengan buah impor. Alhasil, tomat impor harus dikenakan pajak karena dikategorikan sebagai sayuran.

Jadi, menurut Anda, tomat masuk kategori buah atau sayuran?

Rabu, 04 April 2012

Peluang Usaha Pertanian : Budidaya Melon Ladika

Bisnis Manis Dari Melon Ladika

Buah melon merupakan salah satu buah tropis yang banyak digemari orang Indonesia. Seiring berjalannya waktu, kini muncul varian baru dari tanaman ini. Salah satu yang mulai populer adalah melon ladika.

Melon ini merupakan melon hibrida hasil pemuliaan tanaman di daerah Karanganyar, Jawa Tengah. Bentuknya lebih oval dari melon biasa. Selain itu, rasanya juga lebih manis dengan tekstur daging lebih renyah dan berwarna oranye.

Bobot per buah melon ini bisa mencapai dua hingga tiga kilogram (kg). Budidaya melon ini mulai ramai sejak dua tahun terakhir. Kendati ditemukan di Jawa, melon ini sudah mulai banyak dibudidayakan di daerah-daerah lain di luar Jawa. Di Sumatra Utara, misalnya, banyak petani yang membudidayakan melon jenis ini dalam skala besar.

Salah satu pembudidaya melon di daerah ini adalah Amin, 45 tahun. Ia tertarik membudidayakan melon ini karena permintaan pasar cukup besar. Ia sudah menekuni budidaya melon ladika sejak tahun 2010.

Ia membudidayakan melon ladika di lahan seluas 8 hektare (ha). Lokasinya berada di Desa Ujung Rambung, Kecamatan Pantai Cermin, Kabupaten Deli Serdang. Dengan lahan seluas itu, ia mengaku bisa memanen melon ladika setiap hari.

Ia bilang, dengan lahan yang luas memungkinkannya melakukan penanaman dalam waktu berbeda-beda. Dengan begitu, melon dapat berbuah secara bergiliran setiap hari. Menurut Amin, setiap 1 ha melon ladika menghasilkan 15 ton sekali panen. Maka, dengan luas lahan 8 ha, ia bisa menghasilkan 120 ton sekali panen.

Saat ini, ia bisa memanen rata-rata 2 ton per hari. Dengan harga jual Rp 7.000 per kg, maka sekali panen dalam sehari ia bisa meraup omzet Rp 14 juta. Ada pun total omzet dalam sebulan sebesar Rp 420 juta dengan laba bersih sekitar 35%.

Budidaya melon ladika juga ditekuni Aenudin, petani asal Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Ia terjun ke usaha ini sejak 2009.

Selain dari NTB sendiri, kini ia juga banyak mendapat pesanan melon ini dari Jakarta, Semarang, Surabaya, dan Bali. Aenudin membudidayakan melon ladika di lahan 2 ha hingga 15 ha, tergantung musim.

Jika sedang musim kemarau, seluruh lahan ia tanami melon ladika. Tapi jika sedang musim hujan, ia hanya menanam di lahan seluas 2 ha saja. "Melon tidak terlalu bagus jika musim hujan," ujarnya.

Dengan lahan 2 ha, Aenudin bisa panen setiap 60 hari-70 hari. Setiap satu ha bisa ditanami 200-250 batang pohon melon. Satu batang menghasilkan 2 kg-3 kg melon. Dari situ, omzetnya dalam sekali panen bisa mencapai Rp 80 juta, dengan laba sekitar 50%.


Tanpa Pupuk Kimia, Melon Ladika Berlimpah

Amin, petani melon ladika dari Serdang, Medan bilang, tanaman ini dapat dibudidayakan di ketinggian tanah antara 300 meter-900 meter di atas permukaan laut (dpl).Melon juga tumbuh baik di suhu optimal 25 derajat celcius-30 derajat celcius.

Adapun jenis tanah cocok untuk tanaman ini adalah tanah liat berpasir. Sebab, tanah ini mengandung banyak bahan organik, seperti andosol, latosol, regosol, dan grumosol.

Namun, jika tanah tidak memiliki unsur-unsur tersebut, petani dapat mengakalinya dengan menambahkan bahan organik dan pemupukan. Jauh lebih baik jika menggunakan pupuk alami.

Tanah yang terlalu basah dan memiliki tingkat curah hujan yang tinggi tidak disarankan. Sebab, tanaman ini membutuhkan panas matahari yang cukup dari pagi sampai sore.

Nah, untuk bibitnya bisa didapat dari para petani di Jawa Tengah. Amin membeli bibit dalam kemasan kiloan. "Harga bibitnya Rp 150.000 per kilogram," ujar Amin.

Sebelum ditanam di lahan, bibit disemai dulu di polybag selama enam hari. Setelah itu akan tumbuh kecambah seukuran 10 senti meter (cm). Bila kecambah telah tumbuh, bibit siap ditanam di lahan perkebunan dengan jarak tanam sekitar 40 cm.

Tanaman melon ini harus rajin disiram minimal sekali dalam sehari. "Bisa pagi atau sore," ujar Amin.

Petani lain, Aenuddin asal Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) menambahkan, budidaya melon tidak bisa sembarangan. Menurutnya, butuh perhatian khusus, terutama dalam hal pemupukan, pengairan, dan penyiangan. “Setiap 200 meter persegi bagusnya dijaga dua orang. Baru hasilnya bisa maksimal,” ujar Aenuddin.

Terkait dengan pilihan tanah, ia menyarankan untuk menggunakan lahan bekas tanaman padi. Aenuddin juga menyarankan untuk tidak menggunakan pupuk kimia, seperti NPK (nitrogen phospate kalium). Soalnya, penggunaan pupuk ini tidak menjamin tanaman melon bisa berbuah banyak.

Ia justru menyarankan petani menggunakan pupuk organik, seperti pupuk kandang atau kompos. Dari pengalamannya, dengan menggunakan pupuk organik, tanaman melon sudah berbuah sekitar 60 hari-70 hari sejak ditanam, dengan hasil lumayan banyak.

Aenuddin membenarkan melon ladika membutuhkan penyinaran cukup. Makanya, kalau musim hujan ia hanya menanam melon di lahan seluas 2 hektare. "Terlalu banyak air tidak bagus. Bunganya banyak pecah dan tak jadi buah,” ujarnya. (KONTAN)

Revitalisasi Sektor Pertanian Dinilai Tidak Efektif

Jakarta. Sampai dengan saat ini pemerintah dinilai tidak efektif dalam menjalankan program revitalisasi di sektor pertanian, terlihat dari belum bangkitnya kegiatan industri di sektor ini. "Revitalisasi pertanian yang dicanangkan pemerintah sejak 2005 tidak efektif membangun . Hal ini yang membuat ekspor bahan baku di sektor pertanian semakin meningkat,” kata pengamat pertanian HS Dillon di Jakarta, Selasa (3/4).

Menurut Dillon, kebijakan ekspor bahan baku selama ini hanya menguntungkan pengusaha besar. Kesadaran untuk membuat produk yang memberikan nilai tambah masih sangat kurang. "Ekspor bahan baku pertanian seperti kakao, kelapa sawit serta tambang batubara memberikan keuntungan yang besar tetapi petani tidak menikmati hasilnya dan membuat kesejahteraan semakin menurun sehingga berdampak pada tingginya angka kemiskinan, " ujarnya.

Lebih lanjut, Dillon mengatakan pemerintah perlu memberikan insentif untuk investasi di sektor pertanian. "Jangan hanya memberikan insentif pada sektor tertentu saja," ujarnya.

Pemberian "tax holiday" seharusnya diperuntukkan bagi sektor industri pertanian yang bisa memberikan kesempatan dan lapangan kerja yang luas. “Pertanian bisa diandalkan untuk menumbuhkan optimisme bangsa karena pemberdayaan ekonomi petani yang notabene kaum buruh paling cepat mengentaskan masalah pengangguran dan kemiskinan,” tutur Dillon.

Ia menambahkan, untuk berhasil memberdayakan sektor pertanian, pemerintah harus mengerahkan semua sumber daya negara. Untuk memancing minat rakyat membangun pertanian, pemerintah cukup menyediakan kredit berbunga rendah, mengamankan stok pupuk, serta menyediakan benih dan bibit tepat waktu dengan harga terjangkau.

"Pengembangan sektor pertanian juga harus dilandasi pola pikir yang strategis dan kebijakan yang berpihak pada masyarakat tani. Untuk tahap awal, ketersediaan sarana dan prasarana pertanian yang terjangkau, serta infrastruktur pertanian yang memadai, harus direalisasikan pemerintah sebagai wujud keberpihakan kepada petani," tandasnya. (ant)

2013, BPS Keluarkan Data Statistik Sektor Pertanian

Medan. Sektor pertanian merupakan salah satu penyumbang perekonomian Indonesia selain sektor pertambangan dan industri. Namun, selama ini, sektor pertanian dilupakan. Karena itu, Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengeluarkan statistik tentang sektor pertanian pada tahun 2013 mendatang.

"Selama ini, sektor pertanian sudah terlupakan. Padahal, sektor ini menjadi penyelamat pada saat krisis ekonomi tahun 1998 lalu. Karenanya, BPS akan melakukan pendataan mulai tahun 2013. Dengan begitu, kita akan mengetahui potensi. Mulai dari berapa tenaga kerja yang terlibat, berapa luas lahan, apa saja jenis tanaman dan lainnya,” kata Kepala BPS Pusat Suryamin, seusai meresmikan gedung baru BPS Sumut, di Jalan Asrama Medan, Selasa (3/4).

Pertanian kan lanjut dia, bukan hanya padi, tapi juga pangan, hortikultura, peternakan, dan perikanan. Karena itu, dengan adanya data statistik, pertanian akan bisa tumbuh seperti sektor-sektor lainnya.

Suryamin mengatakan, Indonesia merupakan negara agraria jadi harus melihat berapa besar potensinya. Dengan begitu, tenaga kerja yang selama ini bergelut dalam bidang pertanian juga akan mendapatkan keuntungan yang sama dengan sektor lainnya, seperti industri maupun pertambangan.

Dikatakannya, pendataan ini juga sesuai dengan amanat Undang-undang. "Selama ini, kita sudah ada sensus penduduk dan ekonomi. Jadi kita juga perlu mengetahui potensi pertanian. Harusnya menjanjikan, karena banyak juga daerah di Indonesia yang menjadi sumber bahan baku untuk kota-kota lainnya. Bahkan, ada juga yang di ekspor. Negara kita kan kaya dan dengan adanya statistik nanti, akan diketahui bagaimana potensinya, sehingga sektor pertanian juga bisa menjadi penyumbang untuk pertumbuhan ekonomi," katanya.

Meksi selama ini pertanian di Indonesia belum menggunakan teknologi, namun hasilnya sudah mulai terlihat. Terbukti, sektor ini mampu menyerap ribuan bahkan hingga jutaan tenaga kerja.
"Meski belum terdata, namun melihat pasar, masyarakat maupun dunia usaha Indonesia masih mengandalkan bahan baku lokal. Jadi memang besar kemungkinan kalau selama ini sektor pertanian mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri. Ini yang akan diketahui jika pendataan sudah dimulai tahun 2013,” kata dia.

Dengan begitu, lanjut Suryamin, akan bisa menekan jumlah impor juga. Karena jika datanya ada, akan diketahui apakah selama ini harga yang ada di pasar karena stok yang sedikit ataukah memang disebabkan permainan spekulan. Sebab, lanjutnya, selama ini banyaknya impor yang beredar di pasar Indonesia karena harganya lebih murah dari produk lokal.

Kepala BPS Sumut Suharno, mengungkapkan, pihaknya akan mendukung penuh rencana kerja untuk pendataan sektor pertanian tahun 2013 mendatang. "Sumut termasuk daerah yang memiliki potensi yang besar di sektor pertanian. Dengan adanya statistik, akan cukup memudahkan bagi pemerintah daerah (pemda) juga untuk meningkatkan produktivitasnya. Kita juga berharap, data ini akan membantu pengusaha maupun sektor industri yang selama ini menggunakan bahan baku dari sektor pertanian," katanya.

Bangka Barat bangun hutan kota 10 hektar

Muntok, Bangka Barat. Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung, pada 2012 akan membangun hutan kota seluas 10 hektar di ibu kota Kabupaten tersebut.

"Lokasi sudah kami tetapkan tinggal menunggu pencanangan dari Kementerian Kehutanan," ujar Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Bangka Barat Kemas Arfani Rahman di Muntok, Rabu.

Ia menjelaskan, rencananya dalam hutan kota tersebut akan dibangun untuk menunjang berbagai bidang seperti pariwisata, konservasi hutan, pengembangbiakan hewan dan tumbuhan, pusat ilmu pengetahuan, perpustakaan, sarana "out bond" dan kegiatan lain yang bermanfaat untuk masyarakat.

"Selain itu, hutan kota tersebut juga diharapkan dapat berfungsi seperti hutan pada umumnya yaitu sebagai daerah resapan air hujan dan melindungi habitat hewan dan tumbuhan asli daerah tersebut," katanya lagi.

Kawasan hutan tersebut rencananya juga akan dibuatkan pagar pembatas agar lebih aman dari gangguan aktivitas pembalakan dan perusakan habitat asli di hutan tersebut.

"Kami juga berharap ke depan hutan kota tersebut mampu diandalkan menjadi paru-paru Muntok dan menjadi salah satu ikon Muntok selain Wisma Menumbing," ujarnya.

Menurut dia, hutan kota tersebut memiliki manfaat untuk menjaga kelestarian, keserasian dan keseimbangan ekosistem perkotaan meliputi unsur lingkungan, sosial dan budaya.

Selain itu, hutan kota juga berfungsi mengurangi peningkatan suhu udara, mengurangi pencemaran udara, mencegah terjadinya penurunan air tanah, mencegah terjadinya banjir dan lainnya.

"Kami mengharapkan adanya hutan kota tersebut dapat memperbaiki dan menjaga iklim serta memiliki nilai estetika selain menciptakan keseimbangan dan keserasian lingkungan fisik kota serta mendukung pelestarian keanekaragaman hayati yang ada di dalam hutan tersebut," ujarnya.

Melalui hutan kota tersebut diharapkan mampu menggambarkan identitas daerah Bangka Barat melalui koleksi jenis tanaman dan hewan yang ada dan sebagai kawasan pelestarian dan konservasi karena di dalamnya dapat dijadikan sebagai tempat penangkaran hewan dan tumbuhan dalam upaya mendukung riset.

"Dengan adanya hutan kota tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi stres melalui kesejukan dan keindahan alam yang diciptakan selain fungsinya sebagai penahan air tanah, pengurang polusi udara, penelitian tanaman, kawasan perkemahan dan pariwisata," demikian Kemas.

Selasa, 03 April 2012

Tom Cat Sebenarnya Menguntungkan Petani, karena Memangsa Serangga Hama





















Masyarakat tidak perlu panik, namun harus tetap hati-hati agar tidak terkena
oleh racun yang dikeluarkan kumbang kecil yang sering disebut Tom Cat.
Tom Cat ini mempunyai cairan yang mengandung toksin/racun Piderin untuk
melindungi diri. Bila kita dihinggapi Tom Cat, tidak usah panik dan usahakan
jangan ditepuk tetapi usirlah dengan cara meniup atau menghalaunya.
Bila ternyata Tom Cat sudah terlanjur ditepuk, segeralah dicuci dengan air sabun
agar dampak dari cairan yang mengandung racun tersebut dapat diminimalisir.
Binatang sejenis kumbang ini sudah ada di sekitar kita sejak lama
(bukan serangga baru) dan tidak mematikan.

Tom Cat yang mempunyai nama latin Paederus fuscipes ini berbentuk kumbang
kecil termasuk Ordo Coleoptera. Menyukai hidup pada daun-daun yang lapuk.
Kumbang kecil ini tidak menggigit atau menyengat, namun apabila diganggu akan
mengeluarkan racun yang disebut pederin yang menimbulkan iritasi serius pada kulit,
sehingga kulit terlihat seperti terbakar dan berlangusng sekitar satu minggu bahkan lebih.

Dalam penjelasannya Dr. Haryono yang didampingi para peneliti bidang
Entomologi Badan Litbang Pertanian mengatakan, sebenarnya kumbang kecil
ini temasuk predator yang memangsa serangga hama, sehingga dalam konteks
pertanian menguntungkan bagi petani karena turut menjaga dan menekan
populasi hama. Serangga ini menyukai cahaya, oleh karena itu ketika malam
hari dia akan pindah ke rumah yang terang dan masuk. Ledakan populasi
biasanya terjadi diakhir musim hujan dan akan menurun ketika musim kemarau.

Tindakan pertolongan pertama adalah dengan mencuci daerah terkontaminasi serangga
dengan air sabun untuk menghilangkan racun pederin yang dikeluarkan oleh serangga,
namun apabila sakit terus berlanjut segera pergi ke dokter. Racun pederin tidak
menular atau menyebar ke bagian lain (bersifat iritasi kulit lokal) dan tidak
akan sampai mematikan seperti diberitakan di media TV bahwa racunnya 12 kali
racun ular. Namun, apabila tidak ditangani dengan baik, misal karena gatal lalu
digaruk dengan tangan kotor, sehingga timbul serangan sekunder berupa bakteri
atau jamur atau mungkin virus, maka hal inilah yang mengakibatkan dampaknya
akan meluas.

Berita Umum : Pemerintah Bunuh Diri jika Harga BBM Naik Tengah Tahun

JAKARTA. Direktur Statistik Harga Badan Pusat Statistik Sasmito Hadi Wibowo mengatakan, kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi sulit dilakukan pada tengah tahun, seperti bulan Juli. Pasalnya, kata dia, bulan tersebut merupakan masa liburan sekolah dan masa menjelang Lebaran.

"Oh, riskan (tengah tahun). Saya kira pemerintah tidak akan berani. Kalau mau, September-Oktober kenaikannya, yang aman di sana," ujar Sasmito kepada Kompas.com, di BPS, Jakarta, Senin (2/4/2012).

Ia menerangkan, bulan Maret-April sebenarnya adalah yang paling aman untuk menaikkan harga BBM bersubsidi. Sebab, biasanya dua bulan ini terjadi deflasi atau sekalipun terjadi inflasi masih kecil besarannya mengingat bulan-bulan tersebut adalah masa panen raya. Masa panen raya juga berlangsung pada September-Oktober. Sasmito juga mengatakan, dua bulan tersebut merupakan masa setelah Lebaran. "Setelah Lebaran kan daya beli kita turun. Harga ayam jatuh, segala macam jatuh. Nah pas tuh," sebut dia.

Namun, jika harga BBM bersubsidi dinaikkan pada tengah tahun, itu adalah suatu hal yang sulit. Bulan-bulan pada tengah tahun biasanya merupakan musim liburan dan tahun ajaran baru. Sekaligus masa menjelang puasa. "Ditambah harga BBM naik, pemerintah bunuh diri kalau menaikkan pada bulan Juli. Tidak akan," tegas Sasmito.

Oleh sebab itu, BPS melihat lebih aman jika kenaikan harga BBM bersubsidi dilakukan September-Oktober. Ia memperkirakan, jika pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi sebesar Rp 1.500 per liter pada bulan tersebut, dampaknya terhadap inflasi tidak besar. Ia memperkirakan inflasi tidak akan sampai 6,8 persen seperti asumsi pemerintah dalam APBN-P 2012. Ia memprediksi inflasi hanya sekitar 6 persen. "Kalau (kenaikan) di bawah Rp 1.500, ya lebih kecil lagi (dampaknya terhadap inflasi)," tambahnya.

Sasmito kembali mengingatkan, hitungan BPS yakni setiap kenaikan harga BBM bersubsidi Rp 500, maka tambahan inflasi langsung sekitar 0,3 persen. Sedangkan, dampak inflasi tidak langsung sekitar satu hingga dua kali lipat dari dampak langsung. "Kalau misalnya naik Rp 500 maka inflasi di bulan itu berkisar 0,5 sampai 1,2 persen. Kira-kira di situlah," terang dia.

Sebelumnya, baik pemerintah maupun pengamat memprediksi harga BBM bersubsidi bisa naik pada bulan Mei atau Juli. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Widjajono Partowidagdo mengatakan, kenaikan harga BBM mungkin naik pada Mei mendatang. "Pokoknya asal 6 bulan, dari mana saja. Kalau sekarang enggak mungkin. Enam bulan sekarang belum mencapai 15 persen. Kalau Mei enam bulan ke belakang, sudah 15 persen naik. Mei juga bisa naik kalau jeblok harga minyaknya, ya langsung," ujar Widjajono, di Kompleks DPR, Jakarta, Sabtu (31/3/2012) dini hari.

Sementara itu, pengamat energi Kurtubi bahkan memperkirakan kenaikan harga BBM bersubsidi bisa terjadi pada bulan Juli. "Jika (enam bulan) dihitung dari Januari, akhir Juni atau awal Juli harga BBM bisa naik. Tapi itu tergantung kondisi pasar minyak dunia," ujar Kurtubi

Berita Umum : Selamatkan Dagangan, Syahrul Tenggelam

MAKASSAR. Syahrul (17), warga Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa, tenggelam saat berusaha mengambil barang dagangannya yang terjatuh ke laut, Selasa (3/4/2012) sekitar pukul 01.30 wita.

Berdasarkan informasi di lokasi kejadian, awalnya, Syahrul yang berprofesi sebagai pedagang kaki lima (PK5) Pelabuhan Internasional Soekarno Hatta hendak turun dari KM Tidar yang akan berlabuh. Tanpa sadar barang dagangannya terjatuh ke laut. Korban pun langsung terjun dan berusaha mengambil bungkusan rokok yang dijualnya di atas kapal. Ternyata, arus di pelabuhan sangat deras sehingga ia tenggelam dan sampai sekarang masih belum ditemukan.

Empat orang rekan korban berusaha menyelamatkannya dengan melompat ke laut. Namun mereka pun ikut tenggelam. Beruntung keempatnya berhasil selamat, setelah dievakuasi oleh petugas pelabuhan. Dua orang diantaranya, Guntur dan Feri sempat pingsan karena kelelahan di dalam air.

Kedua orang tersebut, dievakuasi oleh ABK KM Tanakeke sekitar 500 meter dari dermaga Pelabuhan. Hingga kini, tim SAR dari Polair Polresta Pelabuhan masih melakukan pencarian dengan menerjunkan penyelam serta menggunakan tiga perahu karet dan melakukan penyisiran di dermaga pelabuhan internasional Soekarno Hatta, Makassar.

BPS: Harga GKP Masih di Atas HPP

Jakarta. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani pada Maret 2012 sebesar Rp3.621,41 per kilogram (kg) atau turun 12,87% dibanding GKP periode Februari 2012 sebesar Rp4.156,31 per kg.
"Meskipun harga GKP sebesar Rp3.621,41 per kilogram mengalami penurunan, namun masih di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang ditetapkan sebesar Rp3.300 per kilogram GKP di tingkat petani," kata Kepala BPS Suryamin, saat menyampaikan Berita Resmi Statistik, di Gedung BPS, Jakarta, Senin (2/4).

Menurut Suryamin, memasuki panen raya pemerintah memberlakukan HPP terbaru melalui Inpres No3 Tahun 2012 tanggal 27 Februari 2012. Dalam Inpres tersebut GKP di tingkat ditetapkan sebesar Rp3.300 per kg, sedangkan gabah kualitas Gabah Kering Giling (GKG) sebesar Rp3.350 per kg di tingkat petani dan Rp4.4150 per kg di tingkat penggilingan.

Menurut Suryamin, berdasarkan survei BPS terhadap terhadap 1.760 transaksi penjualan gabah di 21 propinsi selama Maret 2012, transaksi terbesar terdapat pada GKP yang mencapai 60,57%, gabah kualitas rendah 36,19%, dan GKG 3,24%.

Survei tersebut juga menyebutkan, pada Maret 2012 bahwa GKG di tingkat petani mencapai Rp4.269,25 per kg turun 8,54%, dan di penggilingan Rp4.360,88 per kg atau turun 8,28% dibanding periode Februari 2012. Sedangkan gabah kualitas rendah di petani mencapai Rp3.157,24 per kg turun 11,04% dan di penggilingan Rp3.222,39 per kg atau turun 11,05%.

Disebutkan selama Maret 2012, harga gabah kualitas GKP tertinggi di tingkat petani mencapai Rp5.533,90 per kg terjadi di Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, GKP jenis Unus Mayang. Sedangkan harga gabah kualitas GKP terendah mencapai Rp2.700 per kg terjadi Kecamatan Kuala Kampar, Kabupaten Pelalawan, Riau yaitu GKP varietas Ceko dan Koria.

Di tingkat penggilingan harga tertinggi mencapai Rp5.630,90 per kg di Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Kalimatan Selatan dengan varietas Unus Mayang, dan harga terendah sebesar Rp2.900 per kg di Kecamatan Kuala Kampar, Kabupaten Pelalawan, Riau yaitu GKP varietas Ceko dan Koria.

BPS juga mengungkapkan, dalam setahun terakhir (Maret 2011-Maret 2012), rata-rata harga gabah tertinggi di tingkat petani terjadi pada Januari 2012 masing-masing kualitas GKP senilai Rp4.406,32 per kg, dan kualtas GKG senilai Rp4.776,92 per kg, dan kualitas rendah senilai Rp3.80,19 per kg.

Sementara itu berdasarkan kadar air (KA) dan kadar hampa/kotoran (KH), survei tersebut juga menunjukkan bahwa mutu gabah hasil panen yang diperjualbelikan petani selama Maret 2012, umumnya tidak sebaik dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Rata-rata KA dan KH gabah kualitas GKP masing-masing tercatat 19,65% dan 5,02%, sedangkan gabah kualitas GKG tercatat 26,61% dan 9,90%. (ant)

Harga cabai picu inflasi kota Malang

Malang. Harga cabai rawit yang terus melambung hingga mencapai Rp35 ribu sampai Rp40 ribu/kg dalam beberapa pekan terakhir ini menjadi salah satu pemicu inflasi pada Maret di Kota Malang, Jawa Timur, yang mencapai 0,01 persen.

Menurut Kasi Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang Erny Fatma Setyoharini, angka inflasi Maret tersebut mengalami penurunan jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai 0,18 persen.

"Tahun lalu harga cabai rawit sempat menjadi penyebab utama inflasi di Malang dan kelihatannya tren kenaikan harga cabai ini bisa mengulang 2011," katanya hari ini.

Selain harga cabai, katanya, yang menjadi pemicu utama inflasi di Kota Malang adalah kenaikan tarif angkutan antarkota, baik untuk orang maupun barang. Masyarakat Kota Malang banyak yang bekerja di luar kota, sehingga banyak menyedot anggaran.

Ia mengatakan, isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) membuat sejumlah pengusaha angkutan menaikkan tarifnya dengan memberlakukan tarif batas atas. Meski akhirnya tidak jadi naik, tarifnya tidak diturunkan.

Beberapa komoditas yang juga memicu inflasi adalah gula pasir, rokok kretek filter, upah pembantu rumah tangga, roti manis serta pertamax. Pada bulan lalu komoditas tersebut relatif ada kenaikan harga.

Sementara beberapa komoditas yang justru memicu deflasi adalah harga beras, daging ayam ras, kentang, kelapa, apel, telur ayam ras, tomat, bawang merah, emas perhiasan, dan angkutan udara.

ASEAN perlu lumbung pangan bersama


Jakarta. Ketersediaan pangan sangat penting sebagai dasar kerjasama antar-negara anggota Perhimpunan Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), sehingga memerlukan lumbung pangan bersama, kata Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI), Adhi S. Lukman.

"Lumbung pangan perlu diwujudkan untuk memperkuat anggota ASEAN. Selama ini, jika kondisi negara di ASEAN mengalami bencana alam, maka stok pangan yang ada akan terganggu," ujarnya di Jakarta, Senin.

Menurut Adhi, tingkat keamanan pangan dan kondisi masyarakat di negara-negara ASEAN sangat bervariasi.

Oleh sebab itu, ia menilai, sangat penting menyelaraskan hal ini di tingkat regional ASEAN, dan mengambil keputusan standar minimal yang harus diterapkan pada saat masuk Masyarakat Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community/AEC) 2015 guna memenuhi permintaan pasar global.

"Tentunya standar minimal keamanan pangan itu jangan sampai mengorbankan pelaku usaha pangan di suatu negara anggota, terutama UMKM yang tidak bisa memenuhi standar minimal pada saat memasuki AEC, sehingga mengubah dari pelaku usaha menjadi penonton saja di kancah bisnis pangan ASEAN," ujarnya.

Ia mengemukakan, permasalahan tata ruang di negara-negara ASEAN sangat mengganggu ketahanan pangan di kawasan.

"Pemerintah sudah mempunyai aturan yang jelas mengenai peruntukan lahan, tetapi di tingkat pemerintah daerah masalah tata ruang masih menjadi kendala. Ketahanan pangan sangat bergantung pada luasnya lahan pertanian," katanya.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bidang Pemberdayaan Daerah, Djimanto, secara terpisah mengatakan bahwa kelemahan cadangan pangan di ASEAN lantaran terbatasnya stok pangan. Kepala negara di ASEAN perlu membuat kebijakan untuk menjaga stabilitas pangan.

"Saat ini perlu dibuat standarisasi cadangan pangan antar negara ASEAN. ASEAN perlu membuat aturan agar stok pangan yang mencukupi untuk mengantisipasi terjadinya bencana alam," katanya.

Ia juga berpendapat bahwa perlu dibuat aturan tentang stok pangan di negara-negara ASEAN. Selain itu, program swasembada pangan juga perlu ditingkatkan.

"Untuk mendukung program ketahanan pangan di ASEAN, harus dibuat suatu peraturan mengenai jumlah pangan yang mencukupi di suatu negara. Program swasembada pangan harus ditingkatkan dan pembangunan food estate di ASEAN harus dipercepat," ujarnya.

Senin, 02 April 2012

Tips Ampuh : Usir Bau Mulut dengan Teh Hijau

















MESKIPUN
teh hijau sebetulnya berasal dari daun teh biasa, tetapi jenis teh ini diolah dengan cara yang berbeda sehingga mengandung sedikit kafein dan lebih banyak polyphenol yang sangat baik untuk kesehatan dan kesegaran mulut.

Institut Teknologi Israel baru-baru ini disebutkan bahwa teh hijau ampuh mengusir aroma tidak sedap pada mulut. Penelitian ini kemudian dikutip oleh Dailymail pada pertengahan Maret 2012 dan menyebutkan bahwa polyphenol dalam teh hijau mampu menghancurkan bakteri dalam mulut yang membuat pernapasan yang tidak sedap.

Dalam laporan penelitian yang dipublikasikan di Archives of Oral Biology peneliti menyebut teh hijau dengan julukan superfood karena manfaatnya untuk kesehatan, karena bukan hanya membasmi kuman-kuman yang menyebabkan bau mulut, namun kandungan super yang dimiliki teh hijau juga dipercaya sebagai penghancur bakteri penyebab kanker mulut.

"Radang rongga mulut, gangguan pernapasan, dan peradangan sebagai konsekuensi dari merokok yang diakibatkan adanya bakteri merugikan itu dapat dikurangi dengan teh hijau," ujar peneliti. Ia juga menyarankan agar Anda mengonsumsi teh hijau tanpa gula sebanyak dua cangkir sehari.

Berita Pertanian : Bangka Selatan Bangun Pabrik Kemasan Beras

TOBOALI. Dinas Pertanian dan Pertenakan (Distanak) Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Bangka Belitung, akan membangun pabrik kemasan beras untuk meningkatkan nilai jual beras lokal.

"Pada pertengahan tahun ini pabrik kemasan beras lokal akan dibangun di Kecamatan Toboali," ujar Kabid Tanaman Pangan Distanak Bangka Selatan Herman di Toboali, Senin (2/4).

Ia menjelaskan, pembangunan pabrik kemasan beras atas kerja sama Pemkab Bangka Selatan dengan badan usaha milik daerah (BUMD) dan Perhutani yang diharapkan segera dapat diwujudkan.

"Kualitas beras lokal sudah cukup baik namun belum mampu bersaing dengan beras premium dari luar yang memiliki kemasan lebih menarik untuk memancing minat konsumen," ujarnya.

Ia mengatakan, penjualan beras lokal masih berbentuk karungan, sehingga nilai jual beras lokal masih di bawah harga pasaran berkisar Rp8.000 hingga Rp8.500 per kilogram. Harga beras luar jenis premium mencapai Rp9.500 hingga Rp10 ribu per kilogram.

"Harga beras yang masih di bawah harga pasar ini belum mampu menutupi biaya pengelolaan dan produksi petani yang cukup tinggi, sehingga akan mengurangi minat petani untuk mengembangkan pertanian padi," ujarnya.(ant)

Berita Pertanian : Mentan Heran Pabrik Pakan Masih Impor Jagung

Jakarta. Menteri Pertanian (Mentan) Suswono menyatakan keheranannya pabrik pakan ternak dalam negeri masih mendatangkan jagung dari luar sebagai bahan baku, padahal produksi nasional mencukupi.
Menurut Mentan di Jakarta, Kamis (29/3), produksi jagung nasional saat ini mencapai 17-18 juta ton, sedangkan kebutuhan dalam negeri hanya sekitar 5 juta ton per tahun. "Produksi dalam negeri masih banyak, namun pabrik pakan ternak masih mengimpor jagung," ucapnya.

Menurut Mentan, impor jagung dalam negeri saat ini mencapai lebih dari dua juta ton per tahun yang sebagian besar untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri pakan ternak.

Suswono menyatakan, potensi produksi jagung dalam negeri masih tinggi, oleh karena itu pemerintah menargetkan pada 2014 tak akan ada impor komoditas pangan tersebut.

Sehari sebelumnya, Mentan melakukan panen raya jagung di Desa Pintoe Rimba, Kecamatan Trumon Timur, Kabupaten Aceh Selatan. Pada kesempatan itu menteri menyatakan, pemerintah akan menjadikan Aceh sebagai salah satu sentra produksi jagung nasional karena memiliki potensi produksi yang tinggi.

Dikatakannya, pengembangan jagung di dalam negeri saat ini menghadapi kendala lahan terlebih lagi di Jawa karena areal penanamannya dilakukan substitusi dengan tanaman padi. "Selain itu, di Jawa menghadapi alih fungsi lahan yang tinggi sehingga pengembangan jagung areal lebih layak di luar Jawa," tuturnya.

Sementara itu, Bupati Aceh Selatan Husin Yusuf menyatakan, dalam dua tahun terakhir luas tanam jagung di wilayah tersebut mengalami peningkatan, di mana pada 2011 mencapai 5.000 hektare dan pada 2012 ditargetkan 10.000 hektare.

Sedangkan produksi jagung Kabupaten Aceh Selatan, tambahnya, pada tahun lalu mencapai 30.000 ton dengan produktivitas tanaman 8 ton per hektare. "Pada tahun ini ditargetkan naik mencapai 60.000 ton dengan rencana pengembangan di 11 kecamatan," paparnya. (ant)

Bertani ala Masyarakat Perkotaan


Lahan yang sempit tidak menjadi kendala untuk mewujudkan kemandirian pangan masyarakat. Bahkan dapat dijadikan sumber pangan yang sehat untuk konsumsi sehari-hari. Urban farming atau dapat juga disebut dengan urban agriculture, salah satu solusi pemberdayaan masyarakat perkotaan yang memiliki keterbatasan dalam ketersediaan dan kepemilikan lahan.
Juliana Astuti, selaku Ketua Gapoktan Johor, yang berada di Jalan Eka Rasmi, Gang Eka Rosa, Kelurahan Gedung Johor, Kecamatan Medan Johor mengatakan, prinsip utama dari urban farming adalah pemanfaatan lahan sempit di perkotaan sebagai lahan pertanian yang tidak hanya menghasilkan keuntungan tetapi juga membangun masyarakat yang kokoh secara sosial dan ekonomi.

"Masyarakat perkotaan yang kebanyakan landless atau tak punya tanah atau punya tanah tapi sedikit, dari sisi ketersediaan pangan, harus bisa diatasi sendiri," katanya, Sabtu (24/3).

Ia menjelaskan, perkotaan adalah suatu kawasan yang mana pembangunan fisik terjadi sangat masif. Lahan seluas apapun seolah tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan akan perumahan, pertokoan dan properti lainnya. Pembangunan tersebut tak jarang memasuki kawasan yang sebenarnya jauh lebih potensial sebagai kawasan pertanian yang dapat menopang perekonomian masyarakat bawah yang jumlahnya sangat banyak.

Akibatnya, lahan untuk pertanian semakin berkurang padahal sejatinya masyarakat Indonesia adalah masyarakat agraris yang tidak bisa dipisahkan dengan kerja-kerja di bidang pertanian. "Agar perkonomian bisa bertahan dengan lahan sempit, masyarakat harus dapat
memanfaatkannya sebagai lahan pertanian yang menghasilkan manfaat ekonomi," ujarnya.

Masyarakat perkotaan memang sangat beragam latar belakangnya. Namun secara budaya tetap saja lebih memiliki kedekatan di bidang pertanian. Masyarakat perkotaan berprofesi di luar pertanian disebabkan tidak adanya lahan yang bisa digarap menjadi lahan pertanian. Dengan demikian, lebih memilih menjadi buruh ataupun profesi lainnya.

Menurutnya bakat alami sebagai petani tetap melekat dalam dirinya. Ketika mereka memiliki lahan kecil yang bisa dimanfaatkan, mereka berhasil mengolah tanahnya sehingga menghasilkan keuntungan ekonomi. "Bakat itu harus digali, kemudian akan muncul dengan sendirinya," katanya.

Bukti lainnya, menurutnya, masyarakat perkotaan yang bertani tersebut bahkan dapat menciptakan teknologi pertanian mulai dari pola tanam, pemupukan dan teknik menghalau hama dengan cara yang mereka temukan di lapangan. Dari pola tanam sendiri petani sangat mengetahui bagaimana tanaman sayuran yang di dalam pekarangan tidak diganggu oleh hama yakni dengan menanam tanaman kacang panjang yang mengelilingi pekarangan, misalnya.

Begitu juga dengan pemupukan, mereka lebih memilih untuk menggunakan apa yang ada di sekitar sebagai bahan pupuk dan menghindari penggunaan bahan-bahan kimia. "Petani sudah mengerti, penggunaan pupuk organik yang didapatkan dari sekitar dapat mengurangi risiko terkena dampak residu kimia yang dihasilkan dari pupuk kimia," katanya.

Dengan kata lain, urban farming adalah salah satu gerakan kemandirian pangan yang melibatkan masyarakat perkotaan dari pemanfaatan lahan-lahan sempit yang masih tersedia yang mana dalam perawatan tanaman tidak menggunakan bahan-bahan kimia sehingga produk pertaniannya tidak tercemar oleh zat-zat yang dapat membahayakan kesehatan, lebih segar dan tahan lama. Begitu juga dengan petaninya, tidak terkena penyakit yang ditimbulkan dari bahan-bahan kimia dalam pupuk.

“Dengan konsep urban farming, terjadi hubungan yang erat antara petani dengan masyarakat konsumen. Hal ini misalnya bisa dilihat dari sistem jual beli yang mana konsumen dapat langsung mengambil di lokasi pertanaman atau diantar oleh pengantar setelah sebelumnya melakukan pememesanan,” jelasnya.

Di samping itu, masyarakat konsumen juga dapat melihat secara langsung bagaimana proses penanaman dan perawatan yang ramah lingkungan sehingga dapat dipercaya produk pertanian organik. "Kalau masyarakat konsumen sudah mengetahui proses pertanian organik, dari situ lah kemudian disepakati harga produk pertanian organik dengan harga sekian, misalnya," ujarnya.

Juliana mengatakan, dalam urban farming, khususnya di Gapoktan Johor, penentuan organik tidak berdasarkan penelitian di laboratorium sebagaimana umumnya. Ini disebabkan karena selain proses membawa ke laboratorium memakan waktu cukup lama sementara produksi dan kebutuhan tidak bisa ditunda. "Kita menggunakan participatory guarantee system, yang mana konsumen melihat dan mengetahui secara langsung proses sejak awal hingga akhir, maka dari situ bisa disebut sebagai organik," katanya sembari menambahkan konsep urban farming sudah dikembangkannya sejak tahun 2008.

Gapoktan Johor ini sendiri, dikatakannya beranggotakan 5 kelompok tani antara lain Kelompok Melati, Kelompok Tani Anggrek, Kelompok Tani Pedasur, Kelompok Tani Serasi dan Kelompok Tani Suka Mandiri menjadi binaan dari Serikat Petani Indonesia (SPI) Wilayah Sumatera Utara dan Sintesa dengan luas lahan pertanian yang dikelola seluas 10 hektare.

Masih bersama Juliana Astuti. Menurutnya, petani sudah mengerti bahwa penggunaan bahan-bahan kimia untuk pertanian akan berpengaruh pada produk dan tanahnya. "Pupuk yang digunakan petani di sini berasal dari sekitar, tidak ada bahan kimia yang akan membahayakan konsumen," katanya.
Ia menjelaskan, urban farming adalah upaya paling mudah menjamin bahan pangan mereka tidak diintervensi bahan kimia seperti pupuk pabrik, insektisida, dan pestisida. Apalagi bahan pangan organik cenderung lebih mahal daripada bahan pangan biasa. Selain itu, urban farming juga memudahkan masyarakat ataupun para vegetarian memenuhi kebutuhan sayuran segar, yang dipetik langsung dari pekarangan.

Dari Gapoktan Johor, dengan luas lahan 10 hektare yang tersebar di beberapa titik, 5 kolompok tani yang beranggotakan 90 orang tersebut tidak ada yang menggunakan pupuk kimia. Pupuk tersebut dihasilkan dari sampah organik rumah tangga atau kompos dari kotoran ternak yang kemudian diolah. "Penggunaan pupuk lebih memanfaatkan apa yang didapatkan di lingkungan sekitar," katanya.

Dengan demikian, produk sayuran seperti bayam, kangkung, kacang panjang, sawi, cabai, terung, buncis, ubi roti, pok choy, selada terbebas dari bahan-bahan kimia yang membahayakan kesehatan manusia. Petani juga membuat pestisida nabati yang berfungsi untuk mengalihkan perhatian hama agar memakan tanaman lain.

Dari pengalaman yang didapatkan petani, ternyata daun sereh dapat mengusir hama tanaman. Begitu juga dengan tanaman bunga tahi ayam dan kenikir, cukup efektif menghilangkan hama dengan cara alamiah. "Jadi, alam juga menyediakan segalanya untuk mengatasi persoalan, tapi harus dicari dulu," katanya.

Sejak awal dikembangkan, produk pertanian dari kelompok tani yang tergabung dalam Gapoktan Johor sudah berkomitmen untuk memproduksi pertanian secara organik. Apalagi produk organik tetap memiliki pasar yang tidak sedikit.

Julianti mengatakan, jika di tingkat petani saja sudah sadar akan pertanian organik, apalagi masyarakat konsumen semakin selektif memilih kebutuhan pangan mereka. "Untuk kebutuhan sayuran, di daerah Medan Johor sudah bisa dicukupi dari sini," katanya.

Untuk mendapatkan sayuran organik misalnya, dapat dengan cukup menelpon atau mengirim pesan dan sayuran akan diantar ke rumahnya. Salah satu cara yang dilakukan Gapoktan Johor untuk memasarkan produknya adalah dengan cara promosi Senin Hari Konsumen. Cara promosi ini adalah dengan menginformasikan kepada masyarakat bahwa di hari Senin petani akan melakukan panen sayuran.

Umumnya masyarakat, akan merespon dengan memesan sayuran dalam jumlah tertentu. "Bisa juga datang langsung kemari dan memetiknya sendiri," katanya.

Ia mengakui, dari sisi harga, produk pertanian organik lebih tinggi dari pada produk pertanian dengan cara umum. Selisih harganya berkisar Rp 2.000 per kg. Namun hal demikian tidak menjadi kendala berarti dalam pemasarannya karena sasaran masyarakat yang menjadi konsumen sudah mengerti bagaimana proses pertanaman, perawatan hingga pemasaran yang membutuhkan biaya lebih banyak dan tenaga disribusi.