Kamis, 02 Juni 2011

Perubahan Iklim Akan Pengaruhi Buah-buahan dan Kacang-kacangan

PARA periset memperingatkan bahwa perubahan iklim diduga keras akan mempengaruhi industri buah-buahan dan kacang-kacangan global secara dramatis saat tanaman seperti kenari hijau dan ceri terpukul di tengah meningkatnya suhu udara.

Sebuah studi menyebut bahwa sekalipun jika pihak-pihak penyebab polusi mengambil tindakan lebih luas untuk menurunkan emisi karbon, dampak perubahan iklim mungkin akan cukup parah sehingga industri bernilai hampir 100 miliar dolar itu dinilai perlu mengkaji ulang perencanaan.

Penelitian itu, yang dipublikasikan dalam jurnal online PLoS One edisi Mei, memperkirakan pohon-pohon buah-buahan dan kacang-kacangan akan terkena pengaruh besar di California, AS tenggara, propinsi Yunan baratdaya China dan Australia selatan dan baratdaya. Daerah-daerah yang telah mengalami kehilangan terparah akibat sengat udara musim dingin meliputi Israel, Maroko, Tunisia dan wilayah Cape, Afrika Selatan.

Wakil ketua tim riset itu Eike Luedeling dari World Agroforesty Centra yang berkantor pusat di Nairobi, mengemukakan bahwa para petani yang menanamkan investasi jangka panjang perlu menyadari secepatnya bahwa buah-buahan dan kacang-kacangan kini semakin rentang dibanding banyak tanaman lain.

Terkungkung

"Kalau saya menanam gandum atau jagung, lantas dari satu tahun ke tahun berikutnya saya dapat memutuskan apakah akan menanam sedikit lambat atau sedikit lebih dini atau menanam suatu varietas yang berbeda," kata Luedeling.

"Namun untuk pohon, anda tidak bisa berbuat banyak. Begitu anda telah mengambil keputusan untuk menanam tanaman tertentu maka anda akan terkungkung selama 30 tahun," ujarnya.

Luedeling, yang meneliti problema merosotnya hasil panen saat meriset pohon-pohon di Oman, mengatakan dampak ekonomi dari perubahan iklim terhadap buah-buahan dan kacang-kacangan akan bergantung pada keputusan-keputusan yang diambil sekarang.

"Jika para petani menyadari fakta tentang perubahan iklim dan mulai melakukan berbagai penyesuaian -- beralih ke jenis-jenis yang tepat pada masa mendatang, akan tetapi tidak harus sekarang ini -- maka kekacauan terhadap pasar bisa jadi minimal," ungkapnya.

"Tapi jika kita beralih, kalau para petani berkeyakinan bisa terus melakukan apa yang nenek moyang mereka lakukan maka kita akan melihat sejumlah problema serius."

Lebih Kecil

Perubahan iklim diramalkan menimbulkan dampak lebih kecil terhadap wilayah bersuhu udara sedangan yang lebih sejuk dan sengatan udara musim dingin malah bisa saja meningkatkan di wilayah-wilayah lebih dingin, papar studi tersebut.

Wakil ketua riset Evan Girvetz, ilmuwan iklim senior dari Nature Conservancy, sebuah kelompok lingkungan AS, mengatakan wilayah lebih sejuk punya jendela lebih besar untuk meningkatkan suhu udara karena wilaya-wilayah tadi mengawalinya dengan lebih banyaknya hari musim dingin.

Kendati demikian, banyak area yang bersuhu udara lebih hangat "sudah berada di ambang tak memiliki suhu udara dingin memadai selama musim salju justru bagus untuk produksi buah-buahan dan kacang-kacangan," singkap Girvetz. "Mereka melalui tahun-tahun ketika anda tak memiliki produksi cukup dan saat kita memasuki masa depan, kita mendapati bahwa hal itu akan jadi lebih wajar.

Bahkan jika dunia mengurangi emisi gas rumahkaca, "kami masih memproyeksikan bahwa kelayakan menanam tanaman-tanaman ini mungkin akan menurun," ujar pakar tadi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar