Senin, 27 Juni 2011

Ayo Makan Singkong

Oleh : Mei Rosseliny Gultom

Kemiskinan Negara Indonesia seperti kisah klasik yang jika didengar bagaikan hembusan angin lalu, terpatri dalam benak masyarakat untuk menikmati kondisi tersebut bukan menyelesaikannya.

Kondisi kemiskinan seperti ini hanya berujung pada pemikiran "ini salah siapa?" jawaban pun kembali menyalahkan pemerintah. Atau pemikiran lain, "Dasar rakyatnya yang bodoh, malas, tidak mau bekerja keras, sehingga kondisinya miskin dan kelaparan". Pemikiran ini telah menjadi paradigma di masyarakat sehingga tidak ada solusi dan keyakinan bahwa masalah kemiskinan dan kelaparan ini dapat teratasi.

Kelaparan, kemiskinan, kekurangan pangan dan ketertinggalan sudah menjadi kondisi yang dianggap biasa terjadi di Indonesia. Dan benarlah pepatah yang mengatakan "bagaikan tikus mati di lumbung padi". Gambaran tikus mati di lumbung padi sesungguhnya sangatlah tragis. Ada tikus yang mati di tempat yang berlimpah makanan. Kondisi tersebut merupakan deskriptif dari kondisi masyarakat sekarang. Banyak masyarakatnya miskin, kelaparan dan menderita kekurangan pangan di negara subur yang berlimpah kekayaan alamnya.

Beras vs Singkong

Rakyat dan pemerintah sangat menyibukkan diri dengan konsumsi beras yang berlebih. Bahkan pemerintah sibuk sekali dengan impor beras dengan jumlah yang sangat besar, Padahal wilayah kita dikenal sebagai wilayah subur dan mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani yang menanam padi. Kesuburan tanah kita juga telah membuahkan hasil yang baik sehingga beberapa tahun yang lalu, Negara Indonesia menjadi Negara swasembada beras. Namun, kini kita harus mengimpor beras dari negara lain agar kebutuhan akan beras terpenuhi. Alasan klasiknya adalah gagal panen yang disebabkan karena cuaca yang saat ini tidak dapat diprediksikan, serta maraknya hama tanaman padi. Selain itu, maraknya masyarakat mengubah lahan pertaniannya menjadi lahan tanaman produksi seperti kelapa sawit juga menjadi ancaman terbaru akan kekurangan beras.

Keadaan impor beras, bukanlah keadaan yang baik malah menjadi image yang buruk bagi Negara kita, mengingat tanah kita subur. Oleh karena itu, sudah seharusnya bahan pangan masyarakat beralih kemakanan alternatif yang setara kadar dan kegunaannya dengan beras (nasi). Kita juga telah tahu bahwa beberapa daerah di Negara ini bahan makanan pokoknya bukanlah beras tetapi sagu, jagung atau singkong. Beras (nasi) menjadi sumber karbohidrat utama bagi tubuh, sama halnya dengan sagu, jagung atau singkong. Sagu memang sangat jarang kita jumpai, demikian juga jagung yang perawatannya sedikit rumit. Namun, singkong dapat menjadi makanan alternatif pengganti beras.

Singkong juga sering menjadi tanaman yang ditanam diladang-ladang masyarakat. Perawatannya pun sederhana serta kecil kemungkinan terkena hama penyakit tanaman. Jika kita membandingkan singkong dan beras, sesungguhnya tidak terlalu banyak perbedaan yang didapat mengenai kelebihannya, justru singkong lebih banyak keuntungannya dilihat dari segi ekonomisnya. Untuk jenis-jenis kandungan yang ada didalamnya, beras dan singkong sama-sama sumber karbohidrat, air, fosfor, vitamin, protein walaupun hanya berbeda kadarnya saja. Jika beras harus dimasak dengan direbus, singkong juga bisa direbus ataupun dibakar.

Jika beras dapat dicampur dengan lauk pauk dalam penkonsumsiannya, seperti ikan dan sayur, singkong juga dapat dicampur dengan ikan, sayur, atau lauk pauk lainnya. Malah keunggulan singkong dari beras yaitu harganya yang cukup murah yaitu kurang lebih seperempat dari harga beras. Sehingga sejumlah uang yang seharusnya dibelikan beras dapat dialihkan menjadi membeli lauk pauk yang dapat menambah gizi bagi tubuh manusia. Singkong juga dapat divariasikan menjadi bahan pangan lain, sepeti jenis kue-kuean dan menjadi tepung. Sangat mungkin untuk mengkonsumsinya menggantikan beras sebagai bahan pokok, karena kondisi kehadiran beras yang semakin menyiksa masyarakat.

Dibatasi Gengsi

Masalahnya, masyarakat saat ini malah "ngotot" harus makan nasi dan mengorbankan dana yang besar untuk mendapatkannya, padahal sesunggunya dana itu bisa dialokasikan untuk hal yang lain. Misalnya untuk lauk pauknya. Lidah masyarakat telah dimanjakan oleh nasi dan menilai orang miskin apabila ia makan singkong. Akibatnya, demi gengsi tersebut rela kelaparan atau makan tidak menentu. Padahal, kita telah tahu bersama bahwa masyarakat Indonesia dikatakan miskin karena penghasilannya yang sangat rendah bukan karena ia makan singkong atau makan beras.

Andai saja masyarakat yang tergolong miskin mau sedikit rendah hati dengan menkonsumsi singkong sebagai bahan pangan pengganti beras maka masyarakat tidak kesulitan untuk makan pagi, siang atau malam. Masyarakat juga tidak perlu kelaparan atau menerapkan makan sehari dua kali, bahkan makan nasi aking. Akan tetapi, masyarakat dapat menikmati enaknya singkong ditambah lauk pauknya karena singkong sangat mudah terjangkau dan harganya relatif murah.

Selain harga singkong yang relatif murah, singkong juga sangat gampang didapat bahkan ditanam sendiri. Tidak ada kamus atau istilah gagal panen dalam menanam singkong. Jika saja rakyat miskin mau sedikit rendah hati dan sabar dengan menanam singkong di halaman depan, belakang, atau samping rumahnya (jika mereka tidak mempunyai lahan), kurang lebih empat bulan mereka sudah dapat memanen singkong tersebut dan dapat mereka konsumsi. Seperti sebuah lagu yang menggambarkan kesuburan tanah Indonesia, bahwa batang kayu diletakkan atau "dicocokkan" ke tanah saja akan tumbuh menjadi pohon karena suburnya tanah Indonesia. Sesungguhnya itu juga menggambarkan gampangnya menanam singkong. Hanya tinggal memotong–motong batangnya, lalu "mencocokkannya" ke tanah maka akan tumbuhlah pohon singkong dan menghasilkan umbi, yang dapat dikonsumsi. Dan kelaparan tidaklah menjadi masalah yang mengglobal bahkan sampai merenggut nyawa manusia.

Demi pemulihan perekonomian Negara, sudah sepatutnya pemerintah tidak menghambur-hamburkan uang hanya untuk mengimpor beras. Akan tetapi dapat mensosialisasikan singkong sebagai ganti beras. Pemerintah perlu belajar dari cara hidup orang tua dahulu yang setiap harinya hanya bisa makan singkong untuk memenuhi perutnya, namun tetap cerdas dan bertenaga. Beras (nasi) hanya dimakan pada saat-saat tertentu saja atau sebagai variasi dari singkong.

Jika memungkinkan seluruh masyarakat Indonesia yang lain (di luar rakyat yang tidak mampu tadi) sepakat untuk memvariasikan makanan pokoknya dengan singkong sekali dalam satu minggu untuk mengurangi konsumsi beras dan dapat mengurangi impor beras. Jika saja 350 juta jiwa penduduk tidak mengkomsumsi beras satu hari dalam satu minggu, yang rata–rata konsumsi beras per orang dalam satu hari (tiga kali makan) 500 gr, kita dapat menghemat beras sekitar 175 ribu ton dalam seminggu dan dalam setahun ada 2,1 juta ton beras yang bisa kita hemat. Jika dirupiahkan, kita dapat menghemat sekitar 1,47 triliun rupiah dengan asumsi harga beras Rp 7000 perkilogram.

Masyarakat sudah seharusnya mandiri dan bijaksana dalam mengatasi kekurangan pangan, jangan hanya menunggu subsidi dari pemerintah berupa raskin. Dengan memakan singkong selama satu hari dalam satu minggu, telah menolong pemerintah untuk lebih focus pada persoalan bangsa yang lain. Selama ini rengekan rakyat telah membuat pemerintah gamang dalam mengambil kebijakan, sehingga kebijakannya hanya sebatas jangka pendek saja sebagai respon atas rengekan rakyat.

Singsingkan gengsi, demi perbaikan perekonomian bangsa dan mulailah makan singkong hanya satu hari dalam seminggu. Mari kita tetapkan hari makan singkong nasional. Ayo makan singkong.

Penulis adalah Alumnus Jurusan Bahasa Inggris Universitas Negeri Medan dan Aktif di UKMKP UNIMED.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar