Kamis, 23 Juni 2011

Berita Pertanian : Mentan Tutup Penas XIII di Tenggarong

Tenggarong. Menteri Pertanian (Mentan) Suswono menutup Pekan Nasional (Penas) XIII Petani dan Nelayan di Desa Perjiwa, Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, yang dihadiri ribuan petani dan nelayan setelah berlangsung sepekan.

"Penas kali ini merupakan kegiatan yang terbesar dibanding kegiatan serupa pada tahun-tahun sebelumnya, karena Penas ini dihadiri 30.000 peserta dari seluruh Indonesia," ujar Suswono dalam sambutannya ketika menutup acara tersebut, Kamis (23/6).

Mentan mengatakan, sesuai dengan hasil rembug petani dan nelayan nasional di Tenggarong beberapa hari lalu, peserta rembug sepakat bahwa pelaksanaan Penas XIV 2014 akan digelar di Jawa Timur.

Dalam acara yang dipusatkan di Stadion Aji Imbut Tenggarong Seberang itu, Mentan juga mengingatkan kepada para kepala daerah, pejabat dan semua petani di Indonesia tentang sambutan Wakil Presiden (Wapres) Boediono saat membuka Penas XIII pada 18 Juni lalu.

Boediono meminta agar Indonesia tidak kekurangan pangan lokal, swasembada dan swasembada pangan berkelanjutan. Untuk itu semua pihak terkait, terutama petani yang merupakan pelaku langsung harus melakukan berbagai upaya meningkatkan produktivitas pangan.

Terkait dengan pesan wakil presiden tersebut, ujar Suswono, semua pihak yang berkepentingan harus betul-betul berusaha melakukan berbagai inovasi untuk meningkatkan pembangunan pertanian dan sub sektornya.

Sesuai dengan hasil rapat yang dihadiri para gubernur dan bupati se-Indonesia pada 18 Juni, lanjutnya, Indonesia harus mampu memproduksi beras pada 2011 sebanyak 70,6 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Untuk itu, semua pihak harus melaksanakan optimalisasi tanam. Hal ini dimaksudkan agar produksi beras terus meningkat sehingga mampu menjadi swasembada, bahkan optimalisasi itu harus terus dilakukan agar mampu swasembada berkelanjutan yang selanjutnya mampu juga mengekspor beras.

Saat ini rata-rata produktivitas beras di Indonesia sebesar 5,1 ton per hektare, keadaan ini masih bisa dinaikkan dengan melakukan optimalisasi. Semua pihak terkait harus memberikan dukungan, terutama para kepala daerah dan instansi terkait.

Ia juga mengajak para generasi muda agar lebih mencintai pertanian, pasalnya tantangan ke depan lebih besar. Hal ini terjadi karena jumlah penduduk dunia bertambah, jika generasi muda banyak yang meninggalkan pertanian, maka kekurangan pangan akan terjadi. (ant)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar