Rabu, 22 Juni 2011

Berita Pertanian : Distan Sumut Minta Petani Manfaatkan Lahan Nonirigasi Tanam Padi

Medan. Saat ini kebutuhan warga Sumatera Utara (Sumut) akan beras sangat tinggi. Sedangkan produksi padi di Sumut sendiri belum mencukupi. Bahkan berdasarkan angka ramalan (ARAM) II tahun 2011, produksi padi Sumut kira-kira 3.600.231 ton.

"Kemungkinan besar itu masih kurang, hal ini bisa diihat dari kuota impor beras yang terjadi sekarang," kata Kepala Seksi Data dan Perumusan Program Dinas Pertanian Sumatera Utara (Sumut), Lusyantini ketika ditemui, di kantornya Jalan AH Nasution, Medan, Selasa (21/6).

Dikatakannya, untuk menambah produktivitas padi dan lahan kering, pihaknya mulai memberdayakan petani-petani yang ada di Sumut untuk memanfaatkan lahan non irigasi yang masih ngganggur untuk ditanami padi. "Biasanya orang bilang padi gogo atau padi ladang," ungkapnya.

Menurutnya, saat ini lahan kering atau lahan non irigasi yang ada di Indonesia khususnya Sumut sangat banyak dibandingakan dengan lahan irigasi atau sawah. Karena itu, pemanfaatan lahan nonirigasi sangat berpotensi untuk ditanami padi dalam rangka pemenuhan kebutuhan beras lokal.

Dikatakab Lusy, pemanfaatan lahan kering yang belum termanfaatkan tersebut dapat dilakukan dengan penanaman padi gogo. "Dengan penanaman padi gogo diharapkan dapat menambah produksi padi lokal maupun nasional," tambahnya.

Khusus untuk Sumut sendiri, dia mengaku, produksi dan luas panen panen padi gogo mengalami peningkatan sejak 2009. Pada 2009 luas panen padi gogo sekitar 49.824 hektare dengan produksi mencapai 145.833 ton. Kemudian meningkat pada 2010 dengan luas panen menjadi 52.366 hektare dengan produksi mencapai 160.038 ton.

Sedangkan pada 2011, berdasarkan angka sementara (Asem), luas panen padi gogo telah mencapai 52.401 hektare dengan jumlah produksi 161.279 ton.

Meskipun begitu, katanya lagi, saat ini produksi padi gogo belum maksimal karena banyak lahan nonirigasi yang belum termanfaatkan. Selain itu banyak lahan nonirigasi yang berubah menjadi bangunan.

“Saat ini padi gogo sulit berkembang meskipun potensi lahan di Sumut masih luas. Karena banyak petani yang kurang meminati tanaman ini karena produktivitas dan kualitas padi gogo sangat rendah dibanding tanaman palawija seperti jagung dan ubi,” sebutnya.

Dikatakan Lusy, di Sumut sendiri sentra produksi padi gogo dibedakan berdasarkan ketinggian tempat. Di dataran tinggi seperti di Tanah Karo, Dairi dan Simalungun serta dataran rendah seperti Labuhan Batu, Labuhan Batu Utara dan Langkat. "Namun itu tadi, produksinya masih rendah walau mengalami peningkatan luas tanam dan panen," katanya.

Mengenai jenis, dia mengatakan sebagian besar padi yang ditanam petani adalah jenis Ramos dan Kuku Balam. "Produktivitas padi gogo antara 2,5 ton sampai 3,5 ton gabah kering giling per hektare," jelasnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar