Minggu, 12 Juni 2011

Budidaya Cabai Merah Saat Ini, Modal Besar Keuntungan Minim

Cabai merah (Capsicuslanum) merupakan salah satu komoditas sayuran yang banyak digemari masyarakat Indonesia. Ciri dari jenis sayuran ini rasanya pedas dan aromanya khas, sehingga bagi orang-orang tertentu dapat membangkitkan selera makan. Permintaan cabai menunjukkan indikasi yang terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk.
Seiring dengan berkembangnya industri pangan nasional, cabai merupakan
salah satu bahan baku yang dibutuhkan karena merupakan bahan pangan yang
dikonsumsi setiap saat.

Pola permintaan cabai relatif tetap sepanjang waktu, sedangkan produksi berkaitan dengan musim tanam. Maka pasar akan kekurangan pasokan kalau masa panen raya belum tiba dan kesempatan itu keberuntungan bagi petani.

Berdasarkan hasil pengamatan, harga cabai mencapai puncaknya secara periodik tahunan pada Lebaran, dapat mencapai antara Rp 30.000 – Rp 50.000 per Kg, padahal dengan harga saat ini hanya berkisar Rp 6.000 hingga Rp 7.000 perkg.

Meskipun cabai merah bukan bahan pangan utama bagi masyarakat, namun komoditas ini tidak dapat ditinggalkan, harus tersedia setiap hari dan harus dalam bentuk segar. Ketersediannya secara teratur setiap hari bagi ibu rumah tangga menjadi suatu keharusan. Meningkatnya harga cabai merah atau kelangkaan pasokan di pasaran mendapat reaksi sangat cepat dari masyarakat dan pemerintah. Oleh sebab itu, penyediaan cabai merah dalam bentuk segar setiap hari sepanjang tahun perlu dirancang secara baik.

Cabai merah termasuk sayuran rempah yang tidak dapat disubstitusi atau digantikan oleh komoditas lain. Mengingat permintaan cabai merah relatif stabil sepanjang tahun, maka diperlukan manajemen produksi perlu diatur, agar tidak terjadi fluktuasi baik produksi maupun harga. Pola produksi cabai merah selama ini sangat tidak beraturan sehingga yang semestinya usahatani ini sangat menguntungkan, seringkali mendatangkan kerugian bagi petani maupun konsumen.

Kenyataan di lapangan, pada umumnya petani cabai merah mengkonsentrasikan usahanya pada saat musim tanam, sedangkan pada produksi luar musim tidak banyak petani yang membudidayakannya sehingga berakibat suplai ke pasar menjadi terbatas dan harga akan naik. Akan tetapi pada awal musim kemarau, petani berlomba-lomba menanam cabai merah, sehingga pasokan melimpah, dan harga menjadi jatuh.

Kondisi yang tidak menguntungkan bagi petani ini ditambah pula dengan terbatasnya serapan produk segar cabai merah oleh industri-industri pengolahan. Padahal sebenarnya dengan teknologi budidaya yang sedikit diperbaiki, seperti menggunakan mulsa plastik dan tanam pada bedengan, yang dikombinasikan dengan irigasi hemat air (irigasi tetes), cabai merah berhasil dibudidayakan kapan dan di mana saja.

Dengan iklim dan kondisi alam pertanian, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan untuk bertanam cabai. Di samping ancaman hama dan faktor cuaca, juga membutuhkan keterampilan pertanian dan dukungan modal yang cukup. Biaya produksi tanaman cabai mulai dari penanaman hingga panen berkisar antara Rp 7.000 hingga Rp 10.000 per batang dalam kondisi cuaca normal. Ketika cuaca ekstrem, biaya produksi meningkat hingga 25%.

“Jika cuaca tidak normal (hujan), penyemprotan harus dilakukan setiap 5 hari. Jika ditunggu seminggu, sesuai pola semprot cuaca normal, dapat dipastikan batang, daun dan buah akan rusak (busuk) dan daun keriting,” terang Senen.

“Harga yang melambung hanya beberapa saat. Kerusakan tanaman secara mendadak (mati gadis, busuk akar) dan harga yang kerap murah, jika dikalkulasikan tidak banyak membawa peningkatan ekonomi petani. Jika sekali gagal panen, petani bisa bangkrut,” tutur Senen.
Cabai merah (Capsicuslanum)merupakan salah satu komoditas sayuran yang
banyak digemari masyarakat Indonesia. Ciri dari jenis sayuran ini
rasanya pedas dan aromanya khas, sehingga bagi orang-orang tertentu
dapat membangkitkan selera makan. Permintaan cabai menunjukkan indikasi
yang terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk.
Seiring dengan berkembangnya industri pangan nasional, cabai merupakan
salah satu bahan baku yang dibutuhkan karena merupakan bahan pangan yang
dikonsumsi setiap saat.
Pola permintaan cabai relatif tetap sepanjang waktu, sedangkan produksi berkaitan dengan musim tanam. Maka pasar akan kekurangan pasokan kalau masa panen raya belum tiba dan kesempatan itu keberuntungan bagi petani.

Berdasarkan hasil pengamatan, harga cabai mencapai puncaknya secara periodik tahunan pada Lebaran, dapat mencapai antara Rp 30.000 – Rp 50.000 per Kg, padahal dengan harga saat ini hanya berkisar Rp 6.000 hingga Rp 7.000 perkg.

Meskipun cabai merah bukan bahan pangan utama bagi masyarakat, namun komoditas ini tidak dapat ditinggalkan, harus tersedia setiap hari dan harus dalam bentuk segar. Ketersediannya secara teratur setiap hari bagi ibu rumah tangga menjadi suatu keharusan. Meningkatnya harga cabai merah atau kelangkaan pasokan di pasaran mendapat reaksi sangat cepat dari masyarakat dan pemerintah. Oleh sebab itu, penyediaan cabai merah dalam bentuk segar setiap hari sepanjang tahun perlu dirancang secara baik.

Cabai merah termasuk sayuran rempah yang tidak dapat disubstitusi atau digantikan oleh komoditas lain. Mengingat permintaan cabai merah relatif stabil sepanjang tahun, maka diperlukan manajemen produksi perlu diatur, agar tidak terjadi fluktuasi baik produksi maupun harga. Pola produksi cabai merah selama ini sangat tidak beraturan sehingga yang semestinya usahatani ini sangat menguntungkan, seringkali mendatangkan kerugian bagi petani maupun konsumen.

Kenyataan di lapangan, pada umumnya petani cabai merah mengkonsentrasikan usahanya pada saat musim tanam, sedangkan pada produksi luar musim tidak banyak petani yang membudidayakannya sehingga berakibat suplai ke pasar menjadi terbatas dan harga akan naik. Akan tetapi pada awal musim kemarau, petani berlomba-lomba menanam cabai merah, sehingga pasokan melimpah, dan harga menjadi jatuh.

Kondisi yang tidak menguntungkan bagi petani ini ditambah pula dengan terbatasnya serapan produk segar cabai merah oleh industri-industri pengolahan. Padahal sebenarnya dengan teknologi budidaya yang sedikit diperbaiki, seperti menggunakan mulsa plastik dan tanam pada bedengan, yang dikombinasikan dengan irigasi hemat air (irigasi tetes), cabai merah berhasil dibudidayakan kapan dan di mana saja.

Dengan iklim dan kondisi alam pertanian, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan untuk bertanam cabai. Di samping ancaman hama dan faktor cuaca, juga membutuhkan keterampilan pertanian dan dukungan modal yang cukup. Biaya produksi tanaman cabai mulai dari penanaman hingga panen berkisar antara Rp 7.000 hingga Rp 10.000 per batang dalam kondisi cuaca normal. Ketika cuaca ekstrem, biaya produksi meningkat hingga 25%.

“Jika cuaca tidak normal (hujan), penyemprotan harus dilakukan setiap 5 hari. Jika ditunggu seminggu, sesuai pola semprot cuaca normal, dapat dipastikan batang, daun dan buah akan rusak (busuk) dan daun keriting,” terang Senen.

“Harga yang melambung hanya beberapa saat. Kerusakan tanaman secara mendadak (mati gadis, busuk akar) dan harga yang kerap murah, jika dikalkulasikan tidak banyak membawa peningkatan ekonomi petani. Jika sekali gagal panen, petani bisa bangkrut,” tutur Senen.


Bertahan di Tengah Harga Cabai Murah
Setelah sebelumnya sempat meroket hingga tembus dengan harga Rp 60.000 per kg dimulai dari akhir tahun 2011 yang membuat petani cabai bisa tersenyum sumringah mendapatkan keuntungan, kini harga cabai terus terjun bebas mencapai Rp 7.000 per kg membuat petani harus rugi puluhan juta. Bayangkan saja, dengan modal yang harus dikeluarkannya sebesar Rp 10.000 per batang cabai, Senen yang sudah menanam cabai merah sejak 10 tahun lalu ini hanya dapat menjual hasil panen nya sekitar Rp 3.500 per kg.
Dengan sedikit mengeluh, Senen yang mengembangkan tanaman cabai merah di belakang rumahnya di Desa Suka Mandi Hilir, Kecamatan Pagar Merbau, Kabupaten Deliserdang ini mengutip beberapa cabai yang sudah mulai memerah. Dikatakannya, saat ini harga cabai merah sangat murah sehingga uang yang didapat dari penjualan hanya bisa untuk membiayai perawatan seperti pupuk.

“Ini semua sudah risiko yang harus ditanggung. Meski merugi, tetapi saya tetap merawat tanaman cabai dan berharap harganya kembali normal,” ujarnya kepada MedanBisnis.

Modal yang harus dikeluarkan petani, sejauh ini jelas tidaklah sedikit. Dalam satu batang cabai bisa menghabiskan modal Rp 10.000 dengan asumsi mampu menghasilkan 1 kg sampai 1,5 kg. “Seharusnya harga jual di atas Rp 15.000 per kg, karena kalau di bawah itu akan sangat sulit mendapatkan untung,” aku Senen.

Ia yang memiliki luas lahan dua rante atau dengan 1.800 batang tanaman cabai ini memang belum memasuki masa panen karena baru ditanam pada April 2011 kemarin. Waktu tersebut memang dipilihnya untuk mengejar panen pada pertengahan Juli dan akan sudah memasuki Puasa Ramadhan. Dengan 15 kali pengutipan cabai dalam sekali panen, maka diharapkan Senen mendapatkan keuntungan hingga panen puncak atau kesembilan kalinya selesai.

Dikatakannya, dalam sekali pengutipan cabai saat panen pertama biasanya mendapatkan 9 hingga 12 kg dengan 15 kali kutip yang dilakukan dua hari sekali. Jumlah cabai yang akan dihasilkan akan semakin bertambah saat memasuki panen puncak atau kesembilan kali dengan hasil mencapai 70 hingga 100 kg.

“Jumlah kutipan ini bertambah sejak saya pakai pupuk ramah lingkungan (ramling) yang dapat mengutip cabai merah sampai 17 hingga 38 kali,” imbuh Senen.

Mengatasi kerugian yang dirasakan petani, diakui Senen ia bersama rekan petani cabai lainnya melakukan tanam lawan arus yakni tidak menanam cabai pada musim tanam dengan tujuan mendapatkan harga jual yang tinggi. Biasanya petani mulai melakukan pertanaman dengan melihat cuaca bagus tidak terlalu kemarau dan hujan, seperti pada Juni atau Juli. Tapi jika semua petani memilih saat itu, maka harga jual bisa rendah karena produksi melimpah.

Saat ini saja, banyak petani yang sudah melakukan pertanaman sejak April untuk mendapatkan panen di pertengahan Juli karena permintaan konsumen bertambah dengan masuknya bulan Suci Ramadhan dan Lebaran. “Saat inilah harapan kita harga cabai bisa naik lagi. Karena pada perayaan hari besar keagamaan seperti puasa, Lebaran, Natal dan Tahun Baru, kebutuhan cabai merah melonjak dan harga pun ikut naik,” jelasnya.

Rendahnya harga jual cabai merah ini memang sangat menyiksa petani di tengah kebutuhan biaya yang semakin besar, baik untuk modal pertanaman hingga biaya hidup sehari-harinya. Harapan harga tetap tinggi seperti saat akhir tahun hingga Januari 2011 kemarin, kemungkinan hanya mimpi di siang hari, karena baik pemerintah maupun seluruh masyarakat tidak akan pernah mendukung kondisi tersebut.

Memang, dengan harga jual cabai sebesar Rp 50.000 per kg, Senen bisa bernapas lega mendapatkan keuntungan di atas Rp 60 juta hingga puncak tanam dalam luas lahan yang dimilikinya. Uang yang diperoleh dengan dipotong biaya produksi selama tiga bulan masa usia tanaman, masih bisa mengembangkan tanaman cabai selanjutnya serta membiayai kebutuhan hidup keluarga.

Kemarin saja saat panen Oktober tahun lalu dengan harga jual cabai Rp 15.000 perkg, ungkap Senen, ia hanya mendapatkan uang sebesar Rp 14 juta. Tapi bila dihitung menunggu masa panen selama 3 bulan, berarti ia hanya memperoleh uang untuk memenuhi biaya hidupnya sekitar Rp 450 ribu per bulan.

“Keuntungannya pas-pas. Jadi untuk menutupi biaya lainnya saya juga menanam sayuran lain seperti kacang panjang dan timun,” tuturnya.

Kesulitan menanam cabai dan beberapa komoditas hortikultura saat ini
karena perubahan iklim dan biaya produksi yang mahal, harus dirasakan
petani saat ini karena harganya yang tidak “pedas” lagi alias murah.
Kondisi yang merugikan petani hanya didiamkan baik pemerintah maupun
masyarakat. Berbeda pula saat harga cabai melonjak tinggi seperti akhir
tahun lalu yang mencapai Rp 60 ribu per kg di Sumatera Utara (Sumut) dan
mencapai Rp 80.000 per kg di Pulau Jawa, membuat semua ricuh sehingga
petani harus mengambil kebijakan dalam menurunkan harga cabai.
Senen, petani cabai merah di Deliserdang menyatakan, keuntungan besar yang didapat petani sangat jarang didapat meski tenaga sudah banyak dikeluarkan. Mengherankan saat petani sekali merasakan kebahagiaan mendapatkan uang yang lebih dari jerih payahnya menanam cabai memenuhi kebutuhan masyarakat, namun kala itu pula pemerintah mengambil tindakan untuk menurunkan harga cabai.

“Seolah pemerintah tidak memperhatikan nasib petani. Sekali saja kami mendapatkan untung yang lebih besar, semua pada ribut. Tapi saat kami sedih karena harga murah dan merugi, semua diam dan tidak ada melakukan tindakan menolong petani,” katanya dengan terharu.

Kebahagiaan petani cabai saat kemarin seperti derita bagi pemerintah dan banyak orang. Berbagai program langsung dilakukan untuk peningkatan produksi cabai di seluruh wilayah Indonesia. Tapi kondisi sekarang berbeda, ketika harga anjlok di titik merugikan, tidak ada yang peduli dengan keadaan petani.

“Kalau kami mengalami kerugian itu mungkin merupakan berita biasa. Makanya tidak ada yang memedulikan saat harga jual murah. Dengan harga cabai merah saat ini sekitar Rp 6.000 per kg, mungkin banyak yang bahagia terutama ibu rumah tangga, restoran dan lainnya karena mampu berbelanja cabai dengan banyak,” ucapnya.

Sebagai petani, Senen mengaku hanya melakukan pertanaman melihat cuaca yang bagus yakni antara Juni hingga Juli. Memang ini membuat produksi cabai yang dihasilkan petani membanjir dan sering mengakibatkan harga jualnya turun. Jadi, sekarang petani sendiri yang harus pintar mengolah masa tanamnya agar produksi di lapangan tidak banyak dan harga jual tetap bisa tinggi. “Tapi hampir rata-rata kami memang mengejar panen saat kebutuhan banyak seperti menyambut puasa, Lebaran dan Tahun Baru,” katanya.

Untuk itu, seharusnya pemerintah dapat membantu petani dalam mengolah masa tanam dan panen sehingga tetap menguntungkan. Petani jangan dibiarkan jalan sendiri, karena dengan kerja keras petanilah kebutuhan bahan pokok untuk masyarakat seperti beras dan lainnya dapat terpenuhi.

“Kami perlu jaminan harga dari pemerintah. Menanam saat ini tidak mudah seperti dulu. Serangan hama dan penyakit serta sarana lainnya menambah modal yang harus dikeluarkan. Bagaimana mau bersaing dengan produk luar negeri kalau pemerintah tidak ada perhatiannya pada petani,” pungkas Senen.( yuni naibaho)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar