Senin, 27 Juni 2011

Peluang Usaha pertanian : Jutaan Rupiah dari Sansiviera Mini

Pada awalnya hanya berjualan pot keramik, Edi Sah P Sitepu tidak mendapatkan keuntungan yang lebih. Namun sejak mengenal tanaman hias jenis sansiviera ia pun berhasil mendapatkan uang sekitar Rp 10 juta perbulannya. Tentu saja, sansiviera yang dipasarkannya bukan jenis biasa namun sudah mendapat sentuhan luar biasa dengan mengkreasikan bentuknya menjadi unik. Bukan hanya menaikkan nilai jual pot, namun dengan tanaman ukuran mini tidak lebih dari 10 centimeter tersebut, ia bisa menjual sansiviera mulai dari Rp 50.000 hingga Rp 350.000 per tanaman.
Dengan dibantu mitranya, Mukhlis dan Iskandar di Namura Nursery, ia terus mengembangkan kreasi sansivera dengan sasaran pasar tertentu. Para pehobi tanaman hias bisanya menjadikan sansivera sebagai koleksi yang tidak menyita tempat sehingga dalam ruangan yang sempit pun, tetap dapat megoleksi banyak tanaman hias.

“Dengan tren perumahan gaya minimalis sangat cocok degan tanaman hias yang berukuran kecil seperti ini,” aku Edi sembari memperlihatkan tanaman sansiviera hasil kreasinya belum lama ini.

Dikatakannya, dengan sansivera kreasinya, Edi bisa menjualnya dengan harga 5 hingga 10 kali lipat lebih tinggi dari harga sansivera seumuran dengan penanaman konvensional dan penggunaan pot biasa. “Sansivera unik ini kalau dijual dengan pot biasa harganya hanya Rp 10.000, tapi kalau dikreasi seperti ini, kita bisa menjualnya jadi Rp 50.000 sampai Rp 350.000, karena ada sentuhan seni di sana,” katanya lagi.

Memang,kata Edi, untuk membuat satu tanaman sansivera unik, membutuhkan waktu yang relatif lama, paling tidak dibutuhkan waktu tiga hingga enam bulan untuk melengketkan tanaman sansivera kepada median tempatnya tumbuh.

Dicontohkannya, dengan satu batang sansivera ditanamnya di tanah khusus dalam waktu dua hingga tiga bulan akan tumbuh tanaman sansivera dalam rumpun yang banyak. Dari situ, tinggal dipindahkan ke median yang dikehendaki.

“Misalnya diletakkan pada batu alam, dalam waktu 3 - 6 bulan, akarnya akan lengket sehingga tidak bisa dicerabut darinya. Agar daun dan batangnya tidak menjadi besar, harus memotong beberapa daunnya. Kalau sudah tumbuh dalam rumpun sebanyak ini, kita bisa menjadikannya dalam beberapa pot, kita jual minimal Rp. 50.000 bisa, tinggal dikalikan saja," ujarnya.

Ditambahkan Edi, dalam menjual sansivera harus lebih kreatif karena dengan begitu orang yang tidak mengerti tanaman pun akan tertarik pada sansivera dan pada gilirannya bisa menaikkan pendapatan dari bisnis tanaman hias. "Seni bisa mengangkat yang biasa menjadi luar biasa.
Dengan kreasi seperti ini kita bisa menjualnya dengan lebih bernilai, tidak hanya dari sisi harga, tapi dari kepuasan mengoleksinya," jelasnya.

Karena itu, menurutnya ke depan, sansivera tidak akan kehilangan pembeli. Di rumahnya di jalan Titi Papan, Gang Rezeki Sei Kambing Medan kini terdapat ratusan tanaman sansivera dari ukuran kurang dari 10 cm sampai yang tingginya 1 meter dan tanaman hias lainnya.

Dari situ Edi bisa mendapatkan keuntungan jutaan rupiah hanya dari sansivera kreasinya yang berukuran mini, belum lagi dari sansivera yanh berukuran besar. "Sansivera tidak pernah kehilangan pasar, apalagi kalau bisa membuat kreasinya sehingga terlihat sangat unik," lanjutnya menjelaskan sembari mengaku peminat sansivera hasil kreasinya sampai luar negeri.

Dari sisi fisiknya, sansiviera nampak liat. Paling tidak bisa digambarkan bentuk sansiviera tipis, tebal dan bulat. Dengan varian yang banyak, ia menampilkan pesona sesuai dengan karakternya masing-masing. Tak hanya itu, sansiviera merupakan tanaman berkhasiat, yaitu sebagai penyerap polutan.

Tak heran jika tanaman yang cocok untuk indoor maupun outdoor ini banyak dicari karena bentuknya yang menawan dan manfaatnya. Sebagai tanaman yang bisa menyerap polutan, sansiviera dapat diletakkan di dalam ruangan sebagai tanaman hias karena menyerap asap rokok dan menghilangkan bau tak sedap.

Ini dikarenakan sansivera dapat mengeluarkan oksigen selama 24 jam secara terus menerus.
Tidak hanya itu, tanaman ini juga seperti dari daerah asalnya dengan cuaca yang ekstrem, mampu bertahan meskipun tidak disiram selama beberapa hari, apalagi di iklim tropis. Oleh karena itu tanaman ini juga sering ditanam di pinggir jalan sebagai ruang hijau yang meneyerap asap kendaraan dan memprosesnya menjadi oksigen.

Dari banyak literatur mengenainya, tanaman yang berasal dari Afrika ini dapat menyerap lebih dari 107 polutan yang ada di lingkungan sekitar. Antara lain karbon monoksida, timbal benzen formaldehide. Selain itu sansivera juga dapat dijadikan sebagai obat diabetes, ambeien dan penyakit kulit.

Bahkan ada yang menyebutkan bahwa tanaman ini mampu menghilangkan bau tak sedap di ruangan 100 meter per segi hanya dengan empat hingga lima helai daunnya. “Meski bila kita cium tanaman ini tidak mengeluarkan bau wangi, tapi sansiviera efektif sekali menyerap bau yang tidak sedap terutama di dalam ruangan,” kata Edi.

Namun, tambahnya, membuat sansivera tetap menjadi tanaman yang disukai oleh hampir semua kalangan tidak hanya dari fisiknya saja melainkan dari manfaatnya. "Mau diletakkan dalam ruangan sebagai tanaman hias, bagus, di luar ruangan juga tetap bagus. Yang jelastanaman ini tahan terhadap cuaca dan bisa membersihkan udara," kata lagi.

Untuk bagian-bagian tanaman sansivera, Edi mengatakan, yakni dari akar yang lazimnya tumbuhan berbiji tunggal, berbentuk serabut, berwarna putih dan tumbuh dari bagian pangkal daun serta menyebar ke segala arah di dalam tanah. Selain terdapat akar juga terdapat organ yang menyerupai batang.

Banyak yang menyebut organ ini sebagai rimpang atau rhizoma yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan sari-sari makanan hasil fotosintesis. “Rimpang juga berperan dalam perkembangbiakan yang menjalar di bawah dan kadang-kadang di atas permukaan tanah. Ujung organ ini merupakan jaringan meristem yang selalu tumbuh memanjang,” ungkap Edi.

Bukan itu saja lanjut Edi, bagian daun sansivera yang tebal dan banyak mengandung air sehingga dengan struktur daun seperti ini membuat sansevieria tahan terhadap kekeringan. Pasalnya, proses penguapan air dan laju transpirasi dapat ditekan. Daun tumbuh di sekeliling batang semu di atas permukaan tanah. Bentuk daun penjang dan meruncing pada bagian ujungnya. Tulang daun sejajar dan beberapa jenis terdapat duri.

Ditambahkan Edi, bunga sansevieria terdapat dalam malai yang tumbuh tegak dari pangkal batang. Bunga sansevieria termasuk bunga berumah dua, putik dan serbuk sari tidak berada dalam satu kuntum bunga. Sedangkan dari biji sansivera dihasilkan dari pembuahan serbuk sari pada kepala putik dengan memilki peran penting dalam perkembangbiakan tanaman.

Saat ini sansevieria telah berkembang menjadi komoditas yanng sangat penting dalam bisnis tanaman hias dunia. Selain mempunyai nama lidah mertua (mother-in law tongue), sansivera juga sering mendapatkan julukan yang kerap diberikan pada tanaman tak berdahan ini. Bahkian ada juga yang menamainya tanaman pedang-pedangan karena bentuk daunnya yang runcing menyerupai pedang.

Beberapa yang lain menyebutnya tanaman ular (snake plant) karena pada beberapa jenis coraknya memang menyerupai sisik ular. Sansevieria sendiri adalah tumbuhan yang tumbuh menahun atau perennial.

Meskipun bukan tanaman asli Indonesia namun sansevieria ini telah ada sejak puluhan tahun lalu dan banyak menghasilkan serat rami. Mengingat kualitas serat yang baik, maka tumbuhan ini dibudidayakan. “Dengan kemampuan ini pula, ibu rumah tangga yang sering beraktivitas di dapur bisa memetik manfaat dari tanaman sansevieria. Peletakan sansevieria di dapur dapat menyegarkan udara dengan menyerap gas karbondioksida dan monoksida sisa pembakaran dari kompor,” pungkas Edi.

Sansiviera atau lebih dikenal dengan lidah mertua ini termasuk tanaman yang tahan dalam kondisi ekstrem. Sansiviera dengan arena daunnya meruncing di bagian ujungnya yang tajam, dapat diletakkan di dalam ruangan maupun di luar ruangan. Keistimewaan lainnya, tanaman hias ini tidak membutuhkan perawatan yang khusus.

Dengan kata lain perawatannya tidaklah serumit kebanyakan tanaman hias lainnya yang membutuhkan perhatian khusus. Sang lidah mertua ini bisa bertahan dalam tanah yang kering sekalipun. Dari tempat asalnya di Afrika, sansiviera tentunya bisa bertahan di cuaca tropis yang kadar kelembaban lebih tinggi. "Misalnya di dalam ruangan, dengan pancaran cahaya matahari yang minim pun, sansiviera tetap bisa hidup," kata Edi Sah P Sitepu.

Bahkan sansiviera merupakan tanaman yang rentang toleransi tinggi terhadap kondisi lingkungan, kondisi sedikit air dan cahaya matahari sehingga dapat ditanam di media apa saja dan bisa mengolah dan menyerap polutan menjadi asam organik, asam amino dan mampu menyerap polutan dan bau yang tidak sedap.

Menurutnya, hal tersebut menjadi kelebihan yang jarang ditemukan pada tanaman lain. Sansivera dapat menyimpan air di dalam seluruh bagian tubuhnya dengan jumlah yang banyak. "Memang kalau mau cantik, ia mesti ditanam dengan median tanah yang baik, tapi tidak harus karena memang jenis tanaman ini tidak butuh tanah khusus," ujarnya.

Namun, sansevieria membutuhkan cahaya matahari yang cukup untuk menjamin pertumbuhan yang baik. Meskipun di habitat aslinya tumbuhan ini hidup dengan cahaya matahari yang berlimpah. Bahkan tak disiram beberapa hari pun tetap bertahan hidup.

“Meskipun mudah ditanam, sansiviera ini tetap harus diperhatikan perawatannya, seperti faktor struktur, cuaca, media dan bibitnya. Dengan tidak membutuhkan tanah yang terlalu lembab, saya tidak terlalu sering menyiram sansivera, meskipun menyirami adalah bagian yang penting, itu di atas rumah masih ada banyak, dihajar hujan dan panas, tetap mampu bertahan," katanya.

Namun begitupun, ia menambahkan tetap pentingnya untuk menjaga kebersihannya agar bisa bertahan dari hama dan penyakit. Dengan pemeliharaan yang sederhana saja bisa bertahan, apalagi jika dirawat secara lebih baik. "Tentunya ia akan bernilai tidak hanya secara ekonomi melainkan dari sisi kualitas tanaman yang bandel terhadap cuaca," ujarnya.

Selain itu, hal unik lainnya dari sansevieria ini, jika dilakukan perbanyakan tanaman ini belum tentu mendapat hasil yang sama dengan indukannya, malah bentuknya bisa lain. “Jadi, bila kita menemukan varietas baru bisa dinamakan sendiri. Sebab itu pula, di pasaran tanaman sansiviera ini dikenal dengan banyak varietas,” tandasnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar