Senin, 20 Juni 2011

Berita Pertanian : Produksi Jeruk di Sentra Malang Turun 50 Persen

MALANG. Produksi jeruk di sentra buah jeruk Kecamatan Dau, Malang, Jawa Timur, mengalami penurunan hingga sekitar 50%. Kondisi ini terjadi sejak cuaca tidak menentu sepanjang tahun 2010.

Di Kecamatan Dau terdapat beberapa desa yang merupakan penghasil buah jeruk, yakni Desa Selorejo, Desa Gading Kulon, Desa Petung Sewu, dan Desa Kucur. Dari sejumlah desa itu, Desa Selorejo merupakan produsen jeruk terbesar.

Luasan lahan tanaman jeruk di Kecamatan Dau mencapai 700 hektare, dengan jumlah petani sekitar 400 orang. Dari jumlah itu, 100 ha di antaranya merupakan jenis jeruk keprok. Lainnya kebanyakan jeruk baby. Produktivitas jeruk di daerah ini mencapai rata-rata antara 35-40 ton per hektare.

"Penurunan produksi mulai tahun lalu karena sepanjang tahun hujan terus sehingga berakibat pada penurunan kualitas, yakni rasanya kurang manis dan kuantitas produksi pun turun. Sekarang meski sudah ada panas, masih terjadi penurunan karena pengaruh kondisi cuaca tahun lalu. Soalnya pembungaan tahun lalu kurang berhasil," kata Suwaji, Kepala Bagian Pemasaran Gapoktan Mitra II Desa Selorejo, Selasa (21/6).

Ia sendiri memiliki lahan tanaman jeruk seluas 1,5 ha. Menurutnya rata-rata kepemilikan lahan jeruk petani di daerahnya seluas itu. Dalam kondisi normal, produksi jeruk mencapai 50-60 kg per pohon. Namun semenjak tahun lalu hingga saat ini besar produksi hanya separuhnya saja.

Dikatakan, saat tahun lalu akibat cuaca buruk pula membuat harga jeruk jatuh di kisaran Rp 1.500 / kg. Namun sejak sebulan terakhir ini harga mulai merangkak naik, yakni Rp 4.000 / kg untuk jenis jeruk baby, dan Rp 10 ribu /kg - Rp 12 ribu / kg untuk jenis jeruk keprok 155. Harga itu di tingkatan petani.

"Biasanya pedagang yang mengambil jeruk ke sini, jadi kita tidak turun sendiri ke pasar untuk menjualnya. Kita ke pasar hanya untuk mengecek harga, jika banyak yang mencari jeruk dan harga bagus, kita langsung petik dan jual. Tapi kalau harga masih jatuh, kita tahan petik dulu. Soalnya kalau dipetik semua, itu justru merusak harga. Jadi kita atur sistem pengairannya agar tidak panen bersamaan," jelasnya.

Ia menuturkan, selain peminat dari lokal daerah Malang dan wisatawan yang datang untuk petik sendiri, permintaan juga banyak dari luar daerah. Antara lain Kalimantan, Surabaya, Sumatera, Solo, dan Semarang. Per hari, petani dari daerah ini bisa kirim antara 40-50 ton ke sejumlah daerah itu.

"Banyaknya permintaan membuat kami seringkali kekurangan sehingga tidak bisa memenuhi semua permintaan dari konsumen. Apalagi sekarang produksi masih kurang karena masih terpengaruh cuaca ekstrem tahun lalu," katanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar