Selasa, 28 Juni 2011

Peluang Usaha Pertanian : Memetik untaian laba rangkaian bunga







TAWARAN KEMITRAAN RANGKAIAN BUNGA

Siapa yang tak merasa senang bila menerima rangkaian bunga nan cantik. Selain untuk orang terkasih, rangkaian bunga juga sering dipakai sebagai pengganti hadiah di saat-saat istimewa, seperti ulangtahun, baik untuk individu maupun perusahaan.

Selain itu, beragam kegiatan formal ataupun nonformal juga sering menggunakan bunga-bunga sebagai hiasan pelengkap. Ini pula yang membuat bisnis florist atau rangkaian bunga makin semarak.

Berawal dari hobi, Rosita Suwardi Wibawa mendirikan Tar A Porter di Tangerang tahun 2010. Setahun kemudian, tepatnya, Februari 2011, ia menawarkan kemitraan usaha ini untuk mengembangkan jaringan di seluruh Indonesia.

Kini, Rosita sudah menggandeng lima mitra. Selain di Jakarta, gerai Tar A Porter sudah merambah wilayah Tangerang dan Yogyakarta. Bahkan, ke depan, gerai bunga ini juga buka di Semarang, Solo, Purwakarta, Bali, Padang, dan beberapa kota di Kalimantan. "Saat ini, kami sedang melalui tahap negosiasi dengan enam calon mitra," katanya.

Dalam mengembangkan usaha ini, Rosita selalu fokus pada tiga hal utama, yakni jaringan, kualitas kontrol, dan servis. "Ketiganya penting untuk menjamin pelayanan prima kepada konsumen," ujarnya dengan nada promosi.

Untuk bergabung menjadi mitra Tar A Porter, Rosita menawarkan tiga paket investasi kemitraan. Yakni, paket senilai Rp 15 juta, Rp 55 juta, serta paket Rp 250 juta. "Untuk paket usaha yang Rp 15 juta, mitra juga bisa memanfaatkan tempat tinggalnya sebagai lokasi bisnis," ujarnya.

Sementara, untuk paket senilai Rp 250 juta, Rosita menerapkan konsep butik. Ia akan membekali pula sang mitra dengan keterampilan merangkai bunga, beberapa modul desain rangkaian, serta pendampingan selama mitra membuka gerainya.

Dalam kemitraan ini, Rosita juga tidak mengutip biaya royalti maupun management fee. Namun, untuk pernak-pernik hiasan pendukung, Rosita menyarankan kepada mitra untuk membeli dari pusat. "Untuk menjaga kesegaran, ada baiknya mitra membeli bahan baku di daerah mereka masing-masing," jelas Rosita.

Kalaupun mitra tidak mampu menyediakan bunga-bunga segar, Rosita siap menyuplai bahan baku dari pusat. "Kami punya trik tersendiri agar bunga-bunga yang dikirim tak cepat layu," tambahnya.

Saat ini, Tar A Porter banyak menerima pesanan rangkaian bunga yang berasal dari korporat. "Perbandingan penjualan produk bunga kami adalah 80% korporat, sedangkan sisanya ritel atau pembeli biasa," tutur Rosita.

Harga rangkaian bunga Tar A Porter cukup bervariasi, mulai dari Rp 300.000 hingga Rp 2 juta. Banderol harga ini tergantung ukuran, desain, serta banyak sedikitnya rangkaian bunga yang digunakan.

Rosita memperkirakan omzet mitra berkisar Rp 500.000 hingga Rp 2 juta per hari. Dengan perolehan omzet itu, ia pun menghitung masa balik modal selama empat bulan hingga enam bulan.
Salah satu mitra Tar A Porter yang baru bergabung sebulan lalu adalah Fufung Andiasih. "Saya melihat peluang bisnis ini bagus," ujarnya.

Ia merasakan pendampingan yang dilakukan pihak Tar A Porter cukup memuaskan. Maklum, wanita ini tak memiliki latar belakang atau mengenai seluk beluk-bisnis bunga. "Bisnis ini menjadi usaha sampingan saya sebagai marketing," tandas Fufung.(kontan)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar