Rabu, 15 Juni 2011

Agrobisnis Cendana, Mudah dan Menjanjikan

Cendana, selain perawatannya mudah, hasil produksinya pun sudah banyak yang menampung dengan harga menggiurkan. Karena alasan itu, Hadi Sumardi (55) langsung tertarik dan menanam cendana sejak dua tahun lalu.

"Sangat mudah menanam cendana dan bisa dicampur tanaman lainnya," ujar Hadi Sumardi, warga Kampung Tanggulangin, Punggur, Lampung Tengah, saat ditemui di kebun cendananya.

Ia menanam cendana yang ditumpangsarikan dengan singkong. Awalnya, Hadi dan sejumlah petani menghadiri undangan sosialisasi tentang prospek cendana dan cara budi dayanya oleh sebuah perusahaan. "Dari situlah saya langsung tertarik dan membeli bibit cendana seharga Rp25 ribu per batang ke perusahaan mitra dan menanamnya. Sekarang sudah berusia dua tahun tanamannya," kata Hadi.

Tanaman cendananya ada sekitar 1.200 batang yang tersebar di beberapa tempat. Tanaman ini bisa dipanen pada usia tiga tahun dan pihak mitra menampungnya dengan harga Rp50 ribu/kg. Adapun yang dipanen berupa daun, buah, dan ranting.

"Satu batang diperkirakan bisa panen 6—7 kg. Dengan demikian satu batang bisa mendapat penghasilan Rp300 ribu. Setelah panen pertama, 3—4 minggu kemudian bisa dipanen kembali," kata Hadi.

Meskipun jadwal panen kebun cendananya tidak serempak 1.200 batang, Hadi optimistis bisa meraup hasil Rp36 juta untuk satu periode panen 3—4 minggu.

Budi Daya Cendana

Cara penanaman bibit cendana juga tidak sulit, sama seperti menanam tanaman keras lainnya. Pertama, membuat buat lubang dengan diameter 30 cm dan kedalaman 30 cm. Selanjutnya lubang diisi pupuk kandang yang dicampur tanah galian tadi.

Bibit cendana ditanam dan ditutup dengan tanah bercampur pupuk kandang lalu disiram. Sekitar 2—3 hari kemudian, tanaman kembali disiram. Jarak tanam yang direkomendasi adalah 2 x 3 meter. Namun, jika ingin diselingi tanaman lain jaraknya bisa diperlebar menjadi 3 x 3 meter.

"Dua tahun ini saya menanam cendana berbarengan dengan singkong dan keduanya tidak terganggu. Tiap tahun saya bisa panen singkong dan tahun ketiga nanti saya bisa memanen cendana serta singkong," ujar Hadi sambil menunjukkan tanaman di kebunnya itu.

Menurut Hadi, lebih baik lagi jika tanaman cendana tersebut diselingi dengan tanaman sayuran. Sayang, dia tidak memiliki waktu cukup untuk merawat tanaman sayuran yang tentunya membutuhkan perhatian ekstra dibanding tanaman singkong.

Sementara itu, hama yang menyerang tanaman cendana hanya berupa cabuk dan jamur yang mudah mengatasinya, cukup disemprot dengan insektisida.

Tanaman cendana juga tahan cuaca panas. Tetapi, untuk mengantisipasi, Hadi Sumardi menggali lubang di tengah kebunnya dilapisi terpal untuk menampung air. "Sengaja saya buat penampungan air supaya kalau musim kemarau panjang tidak susah mencari air," kata dia.

Boy Harmanto, pimpinan CV Jaya Kesuma, selaku pihak mitra, menyatakan perusahaan siap menampung hasil panen petani cendana. "Saat ini kami tengah mempersiapkan lokasi pabrik untuk pengolahan hasil panen cendana. Kami menggunakan sistem penyulingan karena hasil yang didapat lebih maksimal dan sesuai permintaan pasar," ujar Boy.

Menurut dia, cendana yang sudah dikembangkan oleh seribuan petani mitranya bisa itu bisa dijadikan bahan kosmetik, pengobatan, dan peralatan ibadah. Boy mengatakan pabrik penyulingan yang akan dibangunnya untuk mengolah panen cendana mitranya berkapasitas 1 ton per hari.

Sistem Mitra Untungkan Petani

Selain bisa digunakan untuk kebutuhan konstruksi bangunan, pohon cendana juga bisa dijadikan komoditas lain seperti pewangi dan bisa diunggulkan. Selain perawatannya yang mudah, hasil panen cendana pun tidak sulit dipasarkan.

Walaupun belum menikmati hasil panen sejumlah petani cendana yakin hasil yang akan diperoleh mereka nanti cukup menjanjikan. Pasalnya, pihak mitra menjanjikan menampung hasil panen dengan harga yang lumayan.

Hadi Sumardi (55), warga Kampung Tanggulangin, Punggur, Lampung Tengah, yang juga berbudi daya tanaman cendana di lahannya mengatakan sangat mudah menanam cendana dan bisa bersamaan dengan tanaman lainnya.

Pemimpin CV Jaya Kesuma Boy Harmanto selaku mitra petani menyatakan siap menampung hasil panen cendana para petani. "Saat ini kami tengah mempersiapkan lokasi pabrik untuk pengolahan hasil panen cendana. Kami menggunakan sistem penyulingan karena hasil yang didapat lebih maksimal dan sesuai permintaan pasar," kata Boy.

Menurut dia, hasil tanaman cendana yang dikembangkan seribuan petani yang bermitra dengan pihaknya bisa dijadikan komoditas kosmetik, obat-obatan, hingga peralatan ibadah. Boy mengaku pabrik penyulingan yang akan dibangunnya untuk mengolah panen cendana petani mitranya kapasitas 1 ton/hari.

Produksi Bibit Sendiri

Sebagai mitra petani cendana di Lampung, CV Wijaya Kesuma sebelumnya mendapatkan bibit dari Jawa. Namun, kini bersama mitranya telah memproduksi bibit sendiri.

"Bibit cendana dihasilkan melalui biji dari pohon yang usianya sudah lima tahun dan kami memperolehnya dari petani mitra kami seharga Rp2,5 juta per kilogram," kata Boy.

Selanjutnya biji bakal bibit yang sudah kering dibagikan ke petani penangkar untuk diproses. Setelah menjadi bibit siap tanam, pihaknya baru membayar kepada petani dan menjualnya ke petani yang akan bermitra.

Menurut Boy, pembibitan cendana sangat mudah, tetapi membutuhkan waktu hingga 8 bulan sampai siap tanam. Media tanamnya berupa campuran tanah, pupuk kandang, dan abu merang dengan perbandingan 1:1:1.

Media campuran ini didiamkan seminggu kemudian biji cendana disebar di atasnya. Sekitar empat bulan kemudian, biji cendana akan tumbuh. Selama di persemaian, diberi pupuk Primatan sebagai penyubur. Selanjutnya bakal bibit ini dipindahkan ke polybag yang telah diisi campuran tanah, merang, dan pupuk kandang serta sudah didiamkan seminggu.

"Selama proses pembibitan dari persemaian hingga dipindahkan ke polybag bibit cendana harus disiram dua kali sehari. Sekitar usia 8 bulan bibit tersebut bisa ditanam di kebun," kata Boy.

CV Wijaya Kesuma sebagai mitra petani cendana di Lampung dan Sumatera tidak akan menerima hasil panen petani yang bukan mitranya. "Saya mengimbau agar petani bisa membeli bibit cendana dari kami, bukan dari yang lain karena bisa merugikan mereka sendiri," ujarnya.

Boy Harmanto mengaku pihaknya juga sudah menjajaki dan mengenalkan ke beberapa pemerintah daerah. Di antaranya Lampung Tengah, Lampung Timur, dan Kota Metro. Beberapa kepala daerah, ujarnya, menyatakan tertarik dan ingin petaninya juga menanam cendana.

"Alhamdulillah kami sudah beberapa kali menerima kunjungan dari anggota DPRD, baik dari Jayapura dan Sumatera. Hasilnya mereka menyambut baik dan mengundang kami segera ke sana guna menyosialisasikannya," kata Boy.

Menurut Boy, mereka tertarik karena walaupun ditanam di lahan sempit seperti halaman rumah, cendana bisa menambah penghasilan. "Lahan sempit bukan halangan dan hitungan kami untuk tangkai, daun, dan buah basah Rp50 ribu/kg. Jika perawatan bagus satu batang bisa menghasilkan 30 kg sehingga penghasilan petani mencapai Rp1,5 juta per batang per tahun."

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar