Kamis, 02 Juni 2011

Lalat Vampire Hantui Warga Sragen


SRAGEN. Warga kawasan endemis anthraks di kabupaten Sragen gelisah lantaran diteror lalat penghisap darah bangkai ternak, yang akan membuat virus anthraks semakin meluas.

Selain sapi, kini kambing juga sudah terhinggapi dan bahkan sudah dua ekor yang mati, dengan tanda-tanda persis yang dialami korban-korban ternak sebelumnya. Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Sragen yang mendapat laporan telah bergerak cepat untuk menyemprotkan insektisida di kawasan endemis anthraks. Namun sebagian warga yang tidak puas dengan hasil semprotan, melakukan dengan cara sendiri, seperti membuat ramuan obat pembunuh lalat vampire itu dengan bahan dari pakan ternak yang dicampur kotoran hewan dan bahan lain, untuk dijadikan obat semprot.

"Lalat penghisap darah ini, di sini dikenal sebagai lalat pithak. Hewan ini seperti nyamuk, mampu menyedot darah hewan maupun bangkai. Celakanya, serangga yang di Eropa dikenal sebagai lalat vampire itu kini berkembang cepat di kawasan endemis, sehingga harus cepat diberantas agar tidak menjadi penyebar virus anthraks di banyak tempat, mengingat daya jelajahnya yang jauh," ungkap Agus Toto, staf kesehatan hewan Disnakkan Sragen, Kamis (1/6).

Sejumlah warga Desa Brojol, menyatakan, sejak wilayahnya menjadi daerah mengerikan yang menularkan anthraks, mereka semakin hati-hati dalam mengelola hewan ternaknya, dari mulai kambing hingga sapi. Kandang telah dibersihkan secara rutin, dan ternaknya diberikan suntikan untuk mencegah penularan anthraks.

"Tidak tahu, dari mana munculnya, tapi kini jumlahnya sangat banyak dan mulai menganggu ketenangan hewan ternak sapi, karena banyak dikerubuti. Para warga menyebut lalat vampire, karena jelas mereka itu menghisap darah ternak. Kalau tidak cepat diberantas, lalat berwarna hijau dengan garis merah itu akan membahayakan sekali," tukas Wanto, warga Brojol yang diamini tetangganya.

Selain menghisap darah ternak, ditakutkan lalat pithak ini juga akan menghinggapi makanan, sehingga manusia tentu akan mudah tertular serangan virus anthraks sebagaimana yang terjadi beberapa waktu lalu.

"Pemkab harus cepat mengatasi dan membrantas, jangan lengah, karena jumlah lalat penghisap darah itu begitu banyak," ungkap Lasimin, pelajar SMP yang gemas dengan banyaknya lalat vampire yang mengerubuti ternak-ternak di desanya.


Antisipasi Antraks, Sapi Potong Diperiksa Ketat di Klaten

Mengantisipasi wabah antraks yang berkembang di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Dinas Pertanian Klaten melakukan pemeriksaan terhadap ternak sapi yang akan dipotong di rumah pemotongan hewan (RPH).

"Pemeriksaan sapi yang akan dipotong ini salah satu upaya antisipasi penyebaran antraks," kata Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) RPH Dinas Pertanian Klaten Triyanto, di RPH Bendogantungan, Kamis (2/6).

Sapi yang akan dipotong di RPH, lanjutnya, harus disertai surat bukti pemeriksaan kesehatan hewan. Selain itu, petugas UPTD RPH juga masih melakukan pemeriksaan ketat terhadap kondisi hewan tersebut.

Jika dalam pemeriksaan ditemukan tanda-tanda terkena bakteri antraks, sapi langsung dikarantina dan tidak boleh dipotong. ?Sebab, bakter penyebab radang limpa itu bisa menular ke manusia,? imbuhnya.

Untuk antisipasi antraks, Dinas Pertanian memperketat pengawasan lalu lintas ternak sapi dan daging dari luar daerah. Sapi milik warga di daerah perbatasan dengan Sleman dan Boyolali pun divaksinasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar