Senin, 06 Juni 2011

Hijau yang Memudar

Oleh : Emma Martina Pakpahan

Lihat kebunku… Penuh dengan bunga Ada yang merah dan ada yang putih Setiap hari kusiram semua Mawar melati semuanya indah Jika direnungkan kembali, lagu ini mengingatkan kita akan situasi alam yang kita banggakan di masa lalu.

Alam yang ramah, dihiasi oleh bunga dan pepohonan menjadi suatu yang tak asing untuk dijumpai. Namun, sekarang kebun tak sebanyak dan sebagus dulu lagi. Banyak taman tak terpelihara, bunga tak terawat dan tak jarang juga berganti dengan gedung-gedung bertingkat.

Mengenaskan. Kuantitas tanaman makin hari makin menipis. Mengutip data BPS, tiga tahun terakhir produk kayu dan hasil hutan di Indonesia terus mengalami penurunan. Bahkan untuk tahun ini sendiri, pemerintah terpaksa membatasi tingkat produksi kayu di tiap propinsi (http://indohijau.net/archives/tahun-2010-indonesia-akan-produksi-9-100-000-m3-kayu/).

Ini tentu saja menunjukkan bahwa pemerintah sendiri pun belum begitu serius memberikan solusi untuk menjawab masalah kerusakan hutan. Tak heran, jika akhirnya Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) menetapkan Indonesia sebagai perusak hutan tercepat di dunia. Itu artinya, Indonesia masih abai dalam melestarikan ’hijau’-nya bangsa.

Berkurangnya jumlah tanaman sangat berdampak pastinya bagi makhluk hidup terutama manusia. Hal yang paling dekat yang sangat kita rasakan adalah pemanasan global (global warming). Pemanasan global menyebabkan iklim berubah-ubah dan tidak dapat terdeteksi dengan akurat, peningkatan suhu bumi, banjir di tiap daerah sampai penyakit kulit.

Dampak lain dari jumlah pohon yang menipis adalah berkurangnya habitat hewan yang akhirnya menyebabkan hewan-hewan tersebut masuk ke pemukiman warga karena tidak memiliki tempat dan makanan yang cukup. Bahkan hal ini akhirnya dapat berdampak pada kepunahan hewan.

Solusi

Hal ini tentu saja tak bisa dibiarkan. Jika tidak kita tanggulangi dengan serius maka dapat diperkirakan hijau yang Indonesia bangga-banggakan tidak dapat diwariskan kepada anak dan cucu kita kelak.

Kerjasama pemerintah dan kesadaran masyarakat sangat berpengaruh dalam hal ini. Mari kita berkaca pada masa pemerintahan Presiden Soeharto yang mewajibkan tiap warga masyarakat untuk menanam pohon di lingkungan rumah dan juga mewajibkan pemerintah daerah untuk menanam pohon di pinggir-pinggir jalan. Kesadaran masyarakat sangat tinggi pada saat itu hingga tak jarang kita jumpai banyak rumah yang ditanami pohon dan bunga.

Sayangnya, hal ini tidak kembali digalakkan oleh pemerintah di masa sekarang. Nampaknya, sekarang pemerintah lebih sibuk dengan urusan-urusan kantong pribadi hingga lupa akan masalah pelik di bangsa ini.

Masyarakat pun perlu membenahi diri, mengurangi pemakaian tissue, menggunakan dua sisi kertas dengan maksimal (timbal balik) ataupun mendaur ulang kertas yang telah dipakai. Bahkan juga mengadakan reboisasi atau menanam kembali hutan-hutan yang telah gundul

Pemerintah juga harus menetapkan dan melindungi beberapa hutan yang menjadi habitat hewan terutama hewan-hewan yang dilindungi. Ini dilakukan untuk menghindari kepunahan hewan tersebut.

Selain itu, pemerintah juga harus mengurangi jumlah kayu yang akan digunakan untuk keperluan produksi dan menerapkan sistem tebang pilih. Dengan begitu para pengusaha kayu lebih berhati-hati dan menebang kayu sesuai dengan kebutuhannya. Ini didukung juga oleh ketegasan pemerintah dalam menindak orang-orang yang tidak bertanggung jawab dalam beberapa kasus illegal logging.

Bila masalah ini dapat diterapkan dengan baik, serius dan maksimal oleh semua kalangan maka bukan tak mungkin untuk memiliki kembali suasana alam yang seperti dulu. Mengembalikan kembali hijau yang sempat pudar karena perilaku kita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar