Senin, 06 Juni 2011

Berita Pertanian : Serangan Wereng Cokelat Pemicu Harga Beras Naik









SUKOHARJO.
Wereng cokelat menjadi pemicu melambungnya harga beras di sejumlah pasar tradisional di kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah dalam tiga minggu terakhir ini.

"Kisaran kenaikannya tidak banyak, hanya Rp100 - Rp200, dan menyeluruh di hampir setiap jenis beras . Tetapi seiring banyaknya petani yang tidak menjual dan juga gamang menanam padi, tentu akan membuat harga akan terus melonjak,? ungkap Warsini, penjual beras di Pasar Sukoharjo Kota, Senin ( 6/6).

Sejumlah pembeli juga mulai mengeluhkan kenaikan beras yang dibarengi dengan kenaikan harga kebutuhan pokok rumah tangga lainnya.

Saat ini C4 sudah mencapai Rp7.000/kg dari tadinya Rp6.800/kg, mentik wangi juga melonjak menjadi Rp8.200 dari sebelumnya Rp8.000. Begitu halnya untuk jenis IR64 yang pada seminggu sebelumnya masih Rp6.300, kini meroket menjadi Rp6.500/kg.

Sri Rahayu, penjual beras lain di pasar terbeswar di Sukoharjo Kota mengatakan, jika tidak ada upaya pemerintah yang serius di dalam mengatasi wereng coklat, diyakini harga beras akan terus naik dan akan berlangsung lama sampai datangnya musim panen pada Agustus dan September mendatang.

"Saat ini, pasokan dari selepan masih lumayan lancar, namun kualitas terus menurun. Namun meski menurun, harga tetap saja naik, karena yang mencari banyak. Bahkan dari luar kota juga ekspansi ke Sukoharjo yang dikenal sebagai lumbung beras," tuturnya.

Yang jelas menurut Sarjanto, koordinator petani pengguna irigasi Dam Colo Timur, saat ini banyak petani yang membiarkan sawahnya mangkrak untuk tidak ditanami, karena serangan wereng coklat masih begitu masif.

"Jadi saya tidak menyalahkan jika petani sampai tidak mau menjual beras, dan untuk konsumsi sendiri," ujar tokoh tani yang akrab dipanggil Jigong itu.

Menurut dia, wereng cokelat merupakan hama padi yang sangat cepat berkembang biak, bermigrasi jauh, dan berevolusi menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan yang dilakukan manusia.

Di samping merusak tanaman padi secara langsung, lanjut dia, hama tersebut menjadi vektor penyakit virus kerdil hampa dan kerdil rumput yang ndak kalah daya rusaknya.

Tingkat permasalahan dan intensitas serangan wereng cokelat di suatu tempat sangat ditentukan praktik pengelolaan tanaman padi. Umumnya petani memiliki berbagai keterbatasan kemampuan dan pengetahuan cara budi daya tanaman yang produktif dan aman serangan hama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar