Senin, 06 Juni 2011

Sampah Rumah Tangga Bisa Hasilkan Energi Gas

Denpasar. Sampah rumah tangga bila dikelola dengan baik akan dapat menghasilkan energi gas untuk memenuhi kebutuhan rumah tersebut, kata Hira Jamtani, seorang aktivis lingkungan hidup.

"Apabila semua rumah tangga bisa mengelola sampahnya dengan baik, saya yakin dapat bernilai ekonomis, karena untuk memasak bisa menggunakan gas dari pengelolaan sampah tersebut," katanya di Denpasar, Minggu (5/6).

Pada diskusi pola hidup pro lingkungan bertema "Mari Menjadi Hijau Energi" itu, ia memaparkan, di rumahnya sendiri dengan memanfaatkan sampah rumah tangga yang diolah dengan sistem permentasi tersebut dapat menghasilkan energi gas.

"Dengan energi tersebut saya dapat memasak di dapur setiap harinya dengan lama waktu mencapai 80 menit. Artinya ada penghematan pengeluaran kebutuhan rumah tangga. Disamping juga menjaga lingkungan agar tetap bersih," ucapnya.

Dikatakan, alat untuk pengelolaan sampah ini cukup sederhana untuk dapat menghasilkan energi gas. Dan tempat pengelolaan sampah tersebut ditaruh dibelakang rumahnya.

"Langkah yang dilakukan ini dalam upaya untuk dapat mengurangi pencemaran lingkungan. Terbukti dengan adanya pengelolaan sampah tersebut saya tidak sampai membuang sampah keluar," ucapnya.

Oleh karena itu, kata dia, jika masing-masing rumah tangga mampu mengelola sampahnya dengan baik, maka yang selama ini menjadi pembicaraan publik akan dapat dikurangi, bahkan dapat kembali berguna dalam rumah tangga sendiri.

"Ini sebenarnya keseriusan masing-masing individu dalam menangani sampah. Yang terjadi selama ini orang-orang atau instansi bahwa menuding penanganan sampah adalah kewajiban pemerintah. Padahal semua itu adalah tanggung jawab bersama," kata Jamtani.

Sementara itu, Ahli Pertanian Universitas Udayana dan aktivis lingkungan, Dr Luh Kartini mengatakan, keberadaan sampah apabila dikelola dengan baik akan bernilai ekonomis, tetapi kalau dibiarkan begitu saja akan menjadi ancaman bagi kehidupan.

"Coba lihat sampah pada tempat pembuangan akhir (TPA) di Suwung (Denpasar) keberadaannya sudah menggunung karena tidak ada pengelolaan yang serius," ucapnya.

Menurutnya, jika terus dibiarkan tanpa ada upaya pengelolaan yang baik ke depannya dikhawatirkan akan menjadi ancaman serius bagi kehidupan manusia dan lingkungan sekitar.

"Kejadian akibat longsornya sampah pernah terjadi di TPA Bantar Gebang, Bekasi beberapa tahun lalu. Akibat kejadian tersebut lingkungan sekitarnya menjadi korban," katanya.

Oleh karena itu, kata dia, pihaknya mengajak semua masyarakat di Bali untuk bersama-sama menjaga lingkungan agar tetap bersih dengan cara peduli terhadap sampah.

"Saya harapkan masyarakat untuk peduli terhadap sampah, bila ingin Bali tetap menjadi tujuan pariwisata. Karena wisatawan yang datang selain menikmati seni budaya juga turis ingin menikmati lingkungan bersih atau terbebas sampah," katanya. (Ant)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar