Senin, 06 Juni 2011

Pisang Barangan yang Masih Menguntungkan


Siapa yang tidak tahu dengan pisang barangan? Komoditas unggulan dan khas dari Sumatera Utara (Sumut) ini banyak dikembangkan petani karena memiliki pasar yang luas seantero Indonesia bahkan juga ikut diekspor. Ini yang membuat tiga perempuan yang dijuluki “Trio Macan” di Desa Peria-ria, Dusun II Kecamatan Sibiru-biru, Kabupaten Deliserdang membudidayakan pisang barangan dengan keuntungan yang diperoleh Rp 20 juta sekali untuk panen pertama dengan luas lahan 10 rante dan 600 batang pisang.

Ketiga perempuan yang tergabung dalam Kelompok Petani Pisang Wanita Sejahtera Sumut ini yakni Serasi boru Barus sebagai ketua kelompok, Rosaria boru Ginting sebagai bendahara dan Sabarkita yang menjabat sebagai sekretaris kelompok ini, mengaku mengembangkan pisang barangan menjadi pilihan mendapatkan penghasilan membantu biaya hidup keluarga.

“Menanam pisang memang menguntungkan karena permintaannya selalu ada. Meski terkadang harga jual yang jatuh dan gangguan penyakit membuat kekecewaan dan buat rugi petani,” ujarnya kepada MedanBisnis yang menjumpai mereka di ladang pisangnya.

Dinyatakannya, dalam satu lahan yang dimiliki petani pisang barangan dalam kelompoknya sekitar 10 rante bisa memperoleh 600 batang pisang. Dengan modal sekitar Rp 5 juta per lahan tersebut dipakai untuk membeli pupuk, bibit dan perawatan tanaman hingga memasuki panen atau penebangan pertama yakni memakan waktu 10 bulan.

Dalam penebangan pertama, pisang barangan yang dperoleh sebanyak 25 hingga 30 tandan. Di mana per tandannya bisa mendapatkan 8 hingga 15 sisir pisang. Untuk harga jual, pisang yang telah dipanen dimulai dari Rp 3.000 per sisir ukuran kecil dan Rp 6.0000 per sisi ukuran besar yang langsung dijual ke agen.

“Kami langsung menjual ke agen yang membeli dengan harga tinggi. Karena kalau lagi panen raya, biasa harga turun dan ini merugikan kita,” akunya.

Pemasaran pisang barangan tidak terlalu sulit, karena pisang telah menjadi tanaman khas di Sumut yang banyak dikembangkan di daerah Deliserdang. Dikenal memiliki aroma dan rasa manisnya yang khas, meskipun secara penampilan tidak mulus layaknya pisang ambon. “Karena rasanya yang khas, prospek bisnis pisang barangan terbilang sangat bagus. Permintaan pisang barangan di Tanah Air cukup besar. Namun, pasokannya masih terbilang minim,” akunya.

Tanaman pisang barangan tidak mengenal musim, meski banyak ditanam saat musim penghujan sehingga perkebunan pisang dapat memberikan penghasilan sepanjang tahun bagi petani.

Tanaman pisang barangan memiliki tiga kali musim tebang yakni penebangan pertama pada 10 bulan, kemudian turunan pisang berikutnya dapat dipanen pada enam bulan serta terakhir dari generasi ketiga dapat dipanen dengan waktu yang sama.

Untuk bibit pisang barangan yang digunakan 18 petani tergabung dalam kelompok, dikatakan Serasi, berasal dari bibit kultur jaringan diperoleh dari bantuan AMARTA-USAID sebanyak 17.000 bibit atau bisa digunakan pada tanaman seluas satu hektar serta ditambah lagi bantuan dari Pemerintah Kabupaten Deliserdang untuk luasan yang sama.

Jarak tanaman dari bibit kultur jaringan pisang barangan tersebut 1x2 meter dan mengarahkan pada sinar matahari terbit agar tanaman mendapat cahaya sehingga serangan penyakit tidak datang. Sebab, sampai saat ini penyakit layu fusarium masih sangat menghantui petani pisang barangan di Sumut.

“Dulu masyarakat trauma dengan serangan penyakit layu fusarium ini, tapi dengan adanya bantuan bibit kultur jaringan bantuan dari USAID sangat membantu kita meski perawatan yang lebih insentif masih sangat diperlukan untuk mempertahankan tanaman ini mendapatkan produksi yang maksimal,” pungkasnya.

Teknik Tanam
Pisang telah lama akrab dengan masyarakat Indonesia, terbukti dari seringnya pohon pisang digunakan sebagai perlambang dalam berbagai upacara adat. Pohon pisang selalu melakukan regenerasi sebelum berbuah dan mati, yaitu melalui tunas-tunas yang tumbuh pada bonggolnya.

Pisang yang berasal dari Asia dan tersebar di Spanyol, Italia, Indonesia, Amerika dan bagian dunia yang lain ini, merupakan tumbuhan pisang menyukai daerah alam terbuka yang cukup sinar matahari, cocok tumbuh di dataran rendah sampai pada ketinggian 1.000 meter lebih di atas permukaan laut. Pada dasarnya tanaman pisang merupakan tumbuhan yang tidak memiliki batang sejati. Batang pohonnya terbentuk dari perkembangan dan pertumbuhan pelepah - pelepah yang mengelilingi poros lunak panjang.

Rosaria br Ginting mengaku senang dapat mengimplementasikan rekomendasi yang telah terbukti dapat berhasil untuk menyehatkan kembali kebun pisangnya. Dari pelatihan dan
melihat demoplot AMARTA di Desa Peria Ria, ia bersama petani lainnnya percaya bisa
mereplikasi praktik itu di ladang sendiri untuk menambah penghasilan.

“Dengan sistem jalur ganda, kita memiliki populasi ganda yang menghasilkan penghasilan ganda, dengan sistem tradisional lahan seluas 0.5 ha hanya memiliki populasi sekitar 700 batang. Selain itu saya juga bisapanen sebanyak 3 kali tanpa perlu menanam bibit baru.” Jelasnya bangga.

Dari keuntungan yang diperoleh akan dibagi bersama dengan anggota Wanita Sejahtera yang
nantinya akan digunakan untuk membeli bibit baru dan mereplikasi sistem tanam jalur ganda di kebun anggota masing-masing.

Menggunakan bibit pisang dari anakan kultur jaringan, tanah sekitarnya dibongkar dan anakannya dipisahkan dari induknya, daun-daunnya harus dipotong tinggal tangkai-tangkainya saja. Begitu pula akar-akarnya hingga yang tinggal hanya bonggolnya saja yang besar.

Biarkan tanaman yang sudah brindil ini beristirahat dulu kira-kira tiga hari di tempat yang teduh. Hal ini dimaksudkan supaya dapat bertunas terlebih dahulu. Barulah kemudian ditanam di lubang penanamannya yang sudah disiapkan terlebih dahulu.

Menanamnya tidak boleh terlalu dekat jarak antara pohon yang satu dengan yang lain. Hal ini dimaksudkan supaya rumpun yang nantinya terbentuk tidak akan berdesak-desakan. Untuk jarak tanaman yang diterapkan Rosaria 1x2 meter dengan mengarahkannya ke sinar matahari terbit agar tanaman mendapat cahaya. Hal ini akan menghindari serangan penyakit fusarium.

Buah pisang pada umumnya sebaiknya diambil sebelum masak benar. Dan saat yang paling tepat untuk menebang pohon pisang dalah kalau buah-buah pisang itu sudah tidak begitu kelihatan jelas lagi garis-garis seginya, karena sudah tumbuh penuh.

Pupuk yang dipergunakan terdiri dari pupuk kandang, urea, TSP, KCL dan SS. Hasil produksi yang diperoleh dari 600 pohon pisang yang ditanam dapat dipanen 550 tandan dengan ratarata jumlah sisir adalah 8 hingga 15 sisir.

Manfaat Pisang

Pisang mempunyai kandungan gizi sangat baik, antara lain menyediakan energi cukup tinggi dibandingkan dengan buah-buahan lain. Pisang kaya mineral seperti kalium, magnesium, fosfor, besi, dan kalsium. Pisang juga mengandung vitamin, yaitu C, B kompleks, B6, dan serotonin yang aktif sebagai neurotransmitter dalam kelancaran fungsi otak.

“Kandungan buah pisang sangat banyak, terdiri dari mineral, vitamin, karbohidrat, serat, protein, lemak, dan lain-lain, sehingga apabila orang hanya mengonsumsi buah pisang saja, sudah tercukupi secara minimal gizinya,” kata Serasih yang mengetahui manfaat pisang dari berbagai buku dan sumber.

Kandungan energi pisang merupakan energi instan yang mudah tersedia dalam waktu singkat, sehingga bermanfaat dalam menyediakan kebutuhan kalori sesaat. Karbohidrat pisang merupakan karbohidrat kompleks tingkat sedang dan tersedia secara bertahap, sehingga dapat menyediakan energi dalam waktu tidak terlalu cepat.

Pisang sangat disarankan untuk dikonsumsi para wanita hamil karena mengandung asam folat yang mudah diserap janin melalui rahim. Pisang yang dicampur dengan susu cair bermanfaat sebagai obat untuk penyakit usus. Tidak hanya buahnya saja yang bermanfaat, tetapi daun pisang pun dapat digunakan untuk pengobatan kulit yang terbakar dengan cara dioles karena campuran abu daun pisang ditambah minyak kelapa mempunyai pengaruh yang dapat mendinginkan kulit dan menyembuhkan luka bakar.

Manfaat pisang juga bisa untuk kecantikan yakni bubur pisang dicampur dengan sedikit susu dan madu kemudian dioleskan pada wajah setiap hari secara teratur selama 30-40 menit dan basuh dengan air hangat kemudian bilas dengan air dingin atau es, diulang selama 2 minggu dapat membuat kulit tampak bersih bersinar dan jauh dari jerawat.

“Pisang bukan hanya membawa keuntungan bagi petani, tapi kesehatan bagi pengkonsumsi nya,” tutur Serasih.

Petani perempuan “Trio macan” ini mengaku dalam membudidayakan tanaman pisang barangan menjadi sangat sulit saat serangan penyakit layu fusarium datang karena bukan hanya membuat tanaman mati, tapi penyakit akan menular pada pokok pisang yang lain.
“Tanda-tanda pisang yang terserang virus Layu Fusarium itu daunnya menguning, dan akhirnya semua daunnya kering sedangkan isi buahnya menjadi hitam,” ujarnya.

Menurut Sabarkita, penyakit Layu Fusarium itu dapat menyebar ke pisang yang masih sehat melalui parang yang telah digunakan untuk menebang batang pisang yang terinfeksi penyakit.
Oleh karena itu, kini petani sangat berhati-hati untuk menggunakan peralatan agar pisang yang masih sehat tidak tertular Layu Fusarium.

“Kalau melihat dari produksi pisang yang diperoleh dalam kelompok kami masih sedikit memenuhi permintaan. Karena pisang barangan ini kan suda terkenal di seluruh Indonesia bahkan ada yang diekspor,” katanya.

Dijelaskan Rosaria yang sebagai bendahara kelompok tani tersebut, tingkat serangan jamur fusarium pada tanaman pisang barangan bisa mencapai 100%. Banyak petani cenderung kurang memperhatikan kesehatan tanaman, bahkan daun kering selalu dibiarkan memenuhi batang. Bekas batang pasca panen juga selalu dibiarkan sampai membusuk. Kondisi tersebut mengakibatkan suhu di sekitar batang menjadi lebih lembab.

“Suhu lembab akan mempercepat reproduksi fusarium, dan akan menjadi ‘istana’ bagi fusarium untuk menghancurkan pohon pisang sampai ke buah," imbuhnya.

Gagal panen akibat fusarium juga disebabkan petani yang menggunakan cara tradisional untuk membudidayakan pisang barangan yakni dengan menanam anakan. Padahal, serangan fusarium bisa diminimalisir jika cara pembudidayaan pisang barangan menggunakan bibit kultur jaringan. Bibit ini lebih resisten dari anakan pohon pisang. Risiko serangan fusarium tinggal 5%–10%.

Saat ini, harga bibit kultur jaringan pisang barangan sekitar Rp 6.000 hingga Rp 7.500 per batang. Harga ini setara dengan harga satu sisir pisang barangan. Untuk mendapatkan bibit kultur jaringan pisang barangan sebenarnya cukup mudah.

“Dari bantuan bibit kultur jaringan yang diberikan USAID, kita juga telah mengembangkan anakan nya meski memang terjadi perbedaan kualitas. Tapi kalau ditambah dengan perawatan yang baik, maka tanaman bisa tumbuh dengan subur dan produksi yang berkualitas,” ucapnya.

Bibit kultur jaringan merupakan tanaman teknik budidaya sel, jaringan, dan organ tanaman dalam suatu lingkungan yang terkendali dan dalam keadaan aseptic atau bebas mikroorganisme. Bibit pisang kultur jaringan adalah bibit yang dihasilkan melalui proses pembiakan jaringan (sel meristematis) pada media buatan dalam laboratorium (in vitro).

Adapun tujuan utama dari teknik kultur jaringan adalah untuk mendapatkan tanaman baru dalam jumlah banyak di dalam waktu yang relatif singkat, dan hasil bibit dari kultur jaringan ini mempunyai sifat fisiologi dan morfologi sama persis dengan tanaman induknya.

Keuntungan menggunakan bibit kultur jaringan selain dapat terhindar dari penyakit layu fusarium juga bibit dapat diperoleh dalam jumlah besar dan dalam waktu singkat, sifat-sifat individu baru sama dengan induknya, kecepatan tumbuh bibit merataa atau seragam dan saat berbuahnya lebih cepat, waktu panen serempak dan kemasakan buah seragam, sehingga lebih efisien dalam penanganannya.

“Yang paling terpenting kesehatan bibit lebih terjamin,” katanya.

Meski bibit kultur jaringan juga memiliki kelemahan yakni perbanyakan bibit memerlukan keahlian dan ketrampilan khusus, harga bibit pisang lebih mahal dibandingkan dengan bibit yang berasal dari anakan. “Ini yang membuat petani masih enggan menggunakan bibit kultur jaringan. Biaya produksi lebih besar sedangkan kalau lagi panen banyak harga bisa jatuh dan merugikan,” aku Rosaria.

Anakan dari bibit kultur jaringan masih bisa digunakan asal bibit sehat seperti induknya.
Anakan yang sehat dapat dilihat dari bonggol pisang, jika berwarna putih jernih tidak ada bintik hitam dapat digunakan kembali pada penanam berikutnya.

“Alat-alat yang kita gunakan harus disterilkan untuk menghindari adanya infeksi atau jamur yang menganggu penanaman berikutnya,” jelas Rosaria.

Pemerintah Bantu Bibit

Untuk itu, diharapkan tiga petani perempuan tangguh ini mewakil petani pisang barangan lainnya, seharusnya pemerintah dapat memberi bantuan bibit kultur jaringan pisang barangan.

"Membudidayakan pisang barangan ini sangat menguntungkan, karena pasarnya selalu ada. Tapi gangguan penyakit layu fusarium yang sudah lama menyerang tanaman pisang membuat petani enggan mengembangkannya lagi," ujarnya.

Dari bantuan yang diberikan Amarta-USAID sekitar 17.000 bibit kini bersisa sekitar 15.000 bibit karena sudah diserahkan pada anggota kelompok yang membutuhkan. Petani yang bisa mendapatkan bibit kultur jaringan juga harus sudah teruji membudidayakan tanaman pisang dengan teknik baik sehingga terhindar dari serangan layu fusarium.

"Itu bantuan untuk semua anggota kita. Bibit kultur jaringan sangat membantu petani mendapatkan produksi yang bagus dan terhindar dari serangan penyakit fusarium," ucapnya.

Selain bibit kultur jaringan, petani juga mengharapkan pemerintah dapat memberikan pupuk, obat pestisida dan pembinaan serta pelatihan teknik penanaman berkualitas sehingga pasar pisang barangan bisa lebih luas.

“Jaminan harga juga kita butuhkan. Jadi petani bisa membantu program pemerintah dalam mencapai target produksi dari 242.575 ton dan menjadi 248.984 ton ditahun 2011,” pungkasnya.(MB)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar