Rabu, 04 Mei 2011

Berita Pertanian : Ulat Sutra Karangasem tak Bisa Dibudidayakan

Denpasar. Kepala Dinas Pertanian Bali Made Putra Suryawan menyatakan bahwa ulat sutra emas yang ditemukan muncul secara liar dalam jumlah besar di Kabupaten Karangasem, ternyata tidak bisa dibudidayakan.
"Bagian kokon atau sarang dari ulat bulu jenis itu, memang bisa dimanfaatkan sebagai bahan sandang. Namun sayang, tidak bisa dibudidayakan," kata Kadistan Suryawan, di Denpasar, Selasa (3/5).

Tim Propinsi Bali yang melakukan pengamatan atas keberadaan ulat bulu di Kabupaten Karangasem, memastikan bahwa binatang yang kini merambah pepohonan di daerah itu adalah jenis ulat sutra emas. Menurut tim peneliti, keberadaan ulat bulu di Bali bagian timur tidak semata-mata bencana atau hama tanaman, melainkan justru suatu berkah.

"Itu justru jenis ulat yang membawa berkah, yakni ulat sutra emas yang benang kepompongnya dapat dipakai bahan baku atau aksesori busana," kata Suryawan menegaskan.

Suryawan yang memimpin langsung tim tersebut juga melakukan pengamatan serupa di sejumlah desa di Kabupaten Klungkung. Dari hasil pengamatan tim, kata dia, ternyata menemukan jawaban yang cukup menggembirakan dari kemunculan fenomena alam di Kabupaten Karangasem ini.

Ketika mengadakan pengamatan secara lebih seksama di Banjar Giok, Desa Tumbu, Karangasem, tim menemukan bahwa binatang yang ditakuti masyarakat itu adalah ulat pembawa berkah, karena satwa tersebut ternyata ulat sutra emas (Crucula trifenestrata). "Binatang berbulu dan merayap itu adalah ulat sutra emas yang hidup secara liar," katanya sambil tersenyum.

Kadistan mengaku bahwa pihaknya sudah memastikan kalau ulat tersebut adalah jenis ulat sutra emas yang biasa dipelihara orang di suatu daerah, namun kini hidup secara liar di alam bebas.
Seorang pengusaha kain dari Denpasar yang secara khusus datang ke lokasi, bahkan langsung menyatakan kesediaannya membeli kokon atau kepompong dari ulat sutra emas itu.

Namun sayang, lanjut dia, setelah dilakukan pengamatan lebih lanjut, ternyata ulat yang di Karangasem tidak bisa dibudidayakan, sehingga sulit untuk bisa diharapkan bisa mendatangkan "in come" yang lebih besar. "Masalahnya, kelangsungan hidup ulat secara berkesinambungan, sulit untuk bisa dipertahankan," katanya.

Berbeda dengan budidaya, tentu kelangsungan itu dapat terus dipertahankan bahkan ditingkatkan. Sejak muncul secara liar pertengahan bulan lalu, ulat tersebut diketahui telah memangsa daun jambu mete, kedondong dan alpukat yang tumbuh di Banjar Giok, Desa Tumbu.

Selain di Desa Tumbu, jenis Crucula trifenestrata yang hidup liar kini juga ditemukan di Desa Susuan, Amlapura, yang juga memakan daun alpukat. Dengan temuan itu, Suryawan berharap ada pengusaha lokal yang siap menerima atau memintal menjadi benang sutra emas alami untuk menambah pernak-pernik pada pakaian. (ant)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar