Minggu, 29 Mei 2011

Pestisida, Salah Satu Perusak Lingkungan

Oleh: Wenti Juliana

Selama ini petani sangat tergantung pada penggunaan pestisida kimia untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman sehingga lahan pertanian bebas dari serangan hama. Dengan meningkatnya hasil pertanian akan membuat hidup para petani bergerak lebih baik.

Sayangnya, penggunaan pestisida memiliki dampak yang cukup merugikan. Berdasarkan penelitian, pestisida dapat merusak ekosistem air yang berada di sekitar lahan pertanian. Ketika pestisida disemprotkan pada tanaman, angin akan menerbangkan sebagian pestisida sehingga bercampur dengan udara.

Pestisida yang menempel pada tanaman akan bercampur dengan air ketika terkena hujan. Air hujan yang mengandung pestisida ini akan mengalir melalui sungai atau aliran irigasi dan dapat menyuburkan ganggang di perairan tempat sungai atau irigasi tadi bermuara.

Keberadaan ganggang yang terlalu banyak di permukaan muara tadi mengakibatkan cahaya matahari sulit masuk ke dalam air. Hal ini mengakibatkan hewan-hewan ataupun fitoplankton tidak mendapat cahaya. Jika fitoplankton tidak mendapat cahaya, maka tidak akan dapat berfotosintesis dan tidak dapat lagi menghasilkan makanan untuk hewan-hewan air.

Selain itu, dampak negatif penggunaan pestisida dapatkan mengakibatkan kebalnya hama terhadap pestisida, munculnya hama baru, penumpukan sisa bahan kimia di dalam hasil panen, terbunuhnya musu alami dari hama, dan kecelakaan bagi pengguna, merusak kulit dan paru-paru.

Merujuk pada Peraturan Pemerintah No. 74 tahun 2001 tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun pasal 4 tercantum: setiap orang yang melakukan kegiatan pengelolaan bahan berbahaya dan beracun wajib mencegah terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup.

Bahan berbahaya dan beracun adalah bahan-bahan karena sifat, konsentrasi ataupun jumlahnya, secara langsung maupun tidak langsung dapat mencemarkan dan merusak lingkungan sehingga membahayakan kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya.

Pestisida Organik

Yang dimaksud dengan pestisida organik adalah racun bagi hama tumbuhan, terbuat dari dari bahan alami tanpa campuran zat kimia berbahaya. Dengan penggunaan pestisida organik keselamatan ekosistim terjaga dengan baik.

Penggunaan pestisida organik hama terusir dari tanaman petani tanpa mematikannya. Penggunaan pestisida organik dapat mencegah lahan pertanian menjadi keras dan menghindari ketergantungan pada pestisida kimia. Pembuatan pestisida sangat mudah dan terbukti hemat biaya daripada penggunaan pestisida kimia.

Beberapa jenis pestisida organik yang dapat dipergunakan adalah:

1. Ikan Mujair. Pestisida dari ikan mujair dapat mengatasi hama pada tanaman terong dan pare. Caranya adalah dengan menyimpan 1 kg ikan mujair di dalam plastik selama tiga hari. Kemudian direbus dengan dua liter air selama dua jam lalu disaring.

2. Kunyit, jahe, biji mahoni,cabe dan serai. Pembuatannya dengan dihaluskan, diberi air, diperas dan disaring, kemudian disemprotkan pada tanaman. Bahan-bahan diatas tidak dicampur, melainkan cukup dipilih salah satunya. Pestisida dari mahoni untuk mengatasi hama tanaman terong dan pare. Kunyit, jahe, serai untuk mengatasi jamur tanaman dan buah. Cabe untuk mengatasi semua jenis hama kecuali hama di dalam tanah.

3. Akar tuba. Akar tuba direbus dengan air dan disemprot kepada tanaman. Akar tuba mengandung senyawa retenon yang bekerja sebagai racun sel yang sangat kuat, menyebabkan serangga dan tungau berhenti makan. Kematian serangga terjadi beberapa jama sampai beberapa hari kemudian.

4. Tembakau. Tembakau termasuk pestisida organik karena mengandung nikotin. Daun tembakau mengandung 2-8 persen nikotin dan berperan sebagai racun kontak bagi serangga seperti ulat perusak daun dan pengendali jamur.

Selain dengan pestisida organik buatan, pengusiran hama lalat buah dapat dilakukan dengan pengalihan perhatian hama pada warna-warna yang disukainya. Caranya dengan memasang warna tertentu yang bisa menarik lalat buah di sekitar tanaman. Pertanian secara tumpang sari juga bisa menjadi alternatif mengurangi hama tanaman tertentu.

Mari, selamatkan lingkungan dengan bersikap arif dan memahami alam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar