Sabtu, 14 Mei 2011

Berita Pertanian : GP3K Sulit Andalkan Pencetakan Sawah Baru

Jakarta. Gerakan Peningkatan Produksi Pangan berbasis Korporasi (GP3K) oleh sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) dinilai akan mengalami kesulitan jika mengandalkan pencetakan sawah baru.
Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Anggoro Kasih Udhoro di Jakarta, Kamis (12/5), mengatakan, saat ini tingkat pencetakan sawah baru kalah dengan laju alih fungsi lahan pertanian. "Oleh karena itu, strategi yang dapat dilakukan untuk peningkatan produksi pangan yakni dengan meningkatan produktivitas tanaman serta mengamankan produksi," katanya.

Sebelumnya Kementerian BUMN menyatakan siap mengucurkan dana sebesar Rp1,3 triliun-Rp1,5 triliun untuk melaksanakan Program Gerakan Peningkatan Produksi Pangan berbasis Korporasi (GP3K) sepanjang 2011.

Program tersebut untuk mendukung pencapaian surplus pangan nasional serta mengoptimalkan perusahaan BUMN sesuai dengan peran dan fungsinya juga untuk budidaya tanaman kepada petani.

GP3K yang akan dimulai pada Mei tahun ini secara berkelanjutan dimaksudkan untuk meningkatkan produktivitas padi, jagung, dan kedelai pada tingkat yang optimal. Terdapat lima komoditas yang ditetapkan untuk program tersebut yaitu padi, kedelai, jagung, gula, dan indukan sapi. "Untuk target padi nasional tahun ini menurut Kementerian Pertanian sebesar 70,6 juta ton, di mana BUMN akan memenuhi target tersebut sebanyak 3,725 juta ton," kata Menteri Negara BUMN Mustafa Abubakar.

Adapun BUMN yang akan terlibat dalam rangka ketahanan pangan tersebut meliputi Perum Bulog (beras), 7 PT Perkebunan Nusantara (PTPN) dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (gula), PT Sang Hyang Seri (benih). Selanjutnya, PT Pertani (kedelai), PT Berdikari (ternak sapi), PT Pusri (penyediaan pupuk), Perum Jasa Tirta (irigasi).

Menurut Dirjen Tanaman Pangan, saat ini produktivitas padi nasional sekitar 5,1 ton per hektare jika ditingkatkan menjadi 6 ton per hektare maka dengan areal tanam 13,3 juta ton akan diperoleh produksi sebanyak 79,8 juta ton gabah kering giling lebih tinggi dari target tahun ini 70,6 juta ton."Ini (peningkatan produktivitas) merupakan strategi yang paling realistis karena tak bisa pencetakan sawah dilakukan dengan cepat, harus ada tenggang waktu sebelum bisa dimanfaatkan," katanya.

Sementara itu, tambahnya, upaya untuk mengamankan produksi dapat dilakukan dengan mengendalikan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) maupun hama dan penyakit. Selain itu, juga menekan tingkat kehilangan hasil panen yang saat ini masih tinggi yakni 10,82% berdasar perhitungan Badan Pusat Statistik.

Sementara itu Dirut Perum Bulog Sutarto Alimoeso menyatakan, dalam GP3K yang mensinergikan beberapa BUMN tersebut, perusahaan yang dipimpinnya akan menjadi "off taker" atau penampung panen yang dihasilkan dari program tersebut. (ant)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar