Minggu, 29 Mei 2011

Berita Pertanian : Pemkab Karo Dorong Pembentukan Gapoknak Tingkatkan Peternakan

Berastagi. Untuk mencapai swasembada daging sapi/lembu dan kerbau tahun 2014 yang diprogramkan pemerintah pusat, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karo mendorong pembentukan kelompok ternak (gapoknak) di daerah tersebut.

Hal itu dikatakan Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Karo Drh Jenggi Surbakti kepada wartawan dalam kunjungannya ke lokasi peternakan sapi Gapoktan Radu Maju Desa Ndokumsiroga Kecamatan Simpang Empat, baru-baru ini. Mereka diterima langsung oleh Ketua Gapoktan Dasar Surbakti didampingi sekretarisnya Kalvin Ginting beserta anggota.

Menurut Jenggi, mahalnya pupuk kimia ditambah biaya produksi pertanian karena kenaikan harga pestisida telah membuat petani Karo berpikir agar sumber pendapatan mereka tidak berkurang.

“Umumnya kalau kita perhatikan di desa-desa setiap rumah tangga memelihara hewan secara pribadi untuk menambah penghasilan mereka di samping mengolah kotoran menjadi pupuk kandang.

Tentunya pemeliharaan ternak secara pribadi mengalami beberapa kekurangan dibandingkan dengan berkelompok dan terpadu,” jelasnya.

Untuk itu kata dia, pihaknya mendorong agar kelompok-kelompok ternak yang sudah ada dapat bergabung menjadi gabungan kelompok ternak atau Gapoknak sebagaimana yang dianjurkan Dirjen Peternakan. Sehingga kesulitan dan kendala yang dialami peternak dapat diminimalisasi serta manajemen perawatan dapat lebih maksimal.

Jenggi yang didampingi Ngikut Ketaren menyampaikan bahwa pihaknya terus melakukan pembinaan dan penyuluhan kepada peternak agar mengembangkan konsep mix farming atau pola pertanian dan peternakan terpadu dalam suatu lahan. Di mana sebuah peternakan didirikan di lokasi ladang yang juga ditanami dengan sayuran atau buah sehingga perawatannya dapat dilakukan sekaligus.

“Kami sedang menyosialisasikan farming integrated (pertanian terpadu) di mana petani memelihara sapi, kemudian kotorannya dijadikan biogas. Hasil olahan kotoran yang padat kemudian dijadikan pupuk organik atau kompos. Ini akan mengurangi biaya produksi petani karena sebagian pupuk telah tersedia ditambah lagi Tanah Karo tetap lestari,” ungkap Jenggi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar