Rabu, 18 Mei 2011

Berita Pertanian : Petani Jagung Minta Pemerintah Atasi Hawar Daun













Medan
. Himpunan Petani Jagung Indonesia (Hipajagin) mendesak Pemerintah Propinsi Sumatera Utara membantu petani mengatasi serangan penyakit hawar daun yang terus melanda tanaman jagung di daerah itu sejak 2010.
"Penanganan serius perlu dilakukan karena serangan sudah semakin meluas atau sudah menyerang sekitar 30% areal tanaman jagung di Sumut, khususnya di daerah dataran tinggi seperti Tanah Karo dan Sidikalang," kata Ketua Hipajagin, Jemaat Sebayang di Medan, Rabu (18/5).

Desakan penanganan serius serangan hawar daun itu melihat penyakit yang menurunkan produksi panen tersebut sudah sampai di kawasan Tiga Binanga, Karo yang merupakan sentra produksi jagung di Sumut.

Pemerintah harusnya segera mengatasi penyakit itu karena dewasa ini petani sedang antusias bertanam jagung menyuusl harga jualnya yang lumayan bagus atau bertahan di kisaran Rp3.000 per kg. "Jangan sampai karena produksi yang menurun akibat serangan hawar dauh membuat petani enggan lagi menekuni bisnis tanaman pangan itu," katanya.

Apalagi, kata Jemaat, momentum kenaikan dan bertahan menguatnya harga, hanya tinggal sebentar lagi karena pada Juni dan Juli terjadi lagi panen puncak. Menurut dia, panen puncak bisa mengancam terjadinya penurunan harga jual di pasar dan itu semakin merugikan petani kalau produksi juga menurun akibat serangan hawar daun tersebut.

District Sales Manager PT Dupont Indonesia Wilayah Sumut, Suwandy Purba, menyebutkan, perusahaannya awal tahun sudah meluncurkan lagi benih baru P29 yang tahan dengan serangan hawar daun dan itu harusnya dimanfaatkan petani agar tidak mengalami masalah produksi.

Benih hibrida P29 bisa menghasilkan tanaman yang lebih tahan terhadap beberapa penyakit utama seperti hawar daun dan busuk tongkol serta membuat akar dan batang pohon yang lebih kuat. Penyakit hawar daun dan busuk tongkol yang lazim menyerang tanaman jagung di dataran tinggi, menurut dia, sangat berisiko menurunkan hasil panen.

Manajemen sudah mencoba benih P29 itu di Kabupaten Karo, Dairi dan Simalungun, dimana bukan saja terbukti tahan terhadap penyakit hawar daun dan busuk tongkol, tetapi juga produksi bisa mencapai 12 ton per hektare. (ant)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar