Selasa, 24 Mei 2011

Peluang Usaha Pertanian : Ternyata kemitraan sari tebu masih manis


Manis alami sari tebu membuat konsumen bisa melepas dahaga. Kian hari, peminat sari tebu ini pun terus meningkat. Tidak heran, gerai sari tebu terus beranak-pinak, mulai dari gerai kelas gerobak hingga gerai paling mahal yang mengambil lokasi gerai di mal.

Hendrawan Buntaram, pemilik Sari Tebu Jojo Cup di Bandung mengatakan, lima tahun belakangan usaha minuman berbahan dasar tebu terus naik daun. Sementara, Doddy Sularso, pemilik Raja Tebu juga terus menambah mitra yang sudah melewati hitungan seribu.

Kali ini kita akan mengulas tiga kemitraan sari tebu yang pernah ditulis sebelumnya yaitu Sari Tebu Murni, Jojo Cup, dan Juragan Tebu. Ketiga kemitraan ini mendapat penambahan mitra meski jumlahnya bervariasi.


Raja Tebu

Jaringan kemitraan Raja Tebu berdiri tahun 2005 dengan nama usaha CV Raja Tebu. Dulunya, gerai sari tebu ini mengusung nama Sari Tebu Murni. Pemiliknya, Doddy Sularso, hanya memiliki lima gerai sari tebu. Pada April 2010 lalu, total gerai Raja Tebu mencapai 800 gerai.

Kini, jumlah gerai Raja Tebu terus bertambah. Doddy mengatakan, saat ini. ada sekitar 1.000 gerai Raja Tebu yang tersebar di berbagai kota di Indonesia.

Doddy mengatakan, pertumbuhan gerai yang pesat ini karena semakin banyaknya calon investor yang tertarik untuk berinvestasi dalam minuman tebu. "Konsumennya terus bertambah karena secara umum masyarakat Indonesia sangat menyukai rasa manis tebu yang menyegarkan," ujar Doddy berpromosi.

Pertumbuhan mitra yang tinggi ini, klaim Doddy, juga karena kemudahan berinvestasi Raja Tebu. Doddy memang tidak memungut biaya royalti. Ia hanya mengharuskan para mitra membeli pasokan tebu darinya agar kualitas sari tebunya tetap terjaga.

Saat ini, Doddy sudah menaikkan biaya investasi untuk setiap paket yang ditawarkannya. Kenaikan biaya investasi ini untuk menyeimbangkan dengan kenaikan harga. Selain itu, Doddy pun menambah produk bakso di dalam paket yang sudah ada. Ia pun akan memasok bakso untuk para mitra. Tambahan bakso ini hanya untuk mitra baru.

Sebelumnya Doddy membanderol paket Kaki Lima Rp 21,5 juta, paket Gerai Motor Rp 39,5 juta, dan paket Mal Rp 28,5 juta. Saat ini Doddy menawarkan paket Kaki Lima dengan investasi Rp 28,5 juta, Gerai Motor Rp 45,5 juta, dan paket Mal Rp 58,5 juta.

Selain itu masih ada dua paket baru yakni paket Gerai Mobil dengan investasi awal Rp 64,5 juta dan paket Cafe dengan investasi Rp 99,75 juta. "Untuk paket mobil dan Cafe memang untuk kalangan ekonomi yang sedikit lebih mapan," ujarnya.

Satu gerai Raja Tebu mampu menjual rata-rata 75 gelas sari tebu per hari dengan harga Rp 8.000 per gelas. Selain itu, Doddy menghitung mitra bisa menjual rata-rata 20 mangkuk bakso per hari dengan harga Rp 5.000. Dengan hitungan itu, menurut Doddy, mitra bisa balik modal antara 6 bulan hingga 10 bulan.


Sari Tebu Jojo Cup

Saat terakhir diliput KONTAN pada Maret 2010, Hendrawan Buntaram memiliki 15 outlet Jojo Cup di Bandung. Hendrawan memulai usaha sari tebu Jojo Cup ini sejak 2008. Saat ini, sudah ada penambahan lima gerai yang ada di Jakarta dan Bandung. Hingga kini, Hendrawan masih belum menaikkan biaya kemitraan dari angka semula.

Hendrawan tetap menawarkan balik modal lima bulan dengan dua paket kemitraan. Pertama, paket Regular dengan investasi Rp 30 juta untuk kerjasama dua tahun. Kedua, paket Premium dengan nilai investasi awal Rp 60 juta untuk masa kerjasama lima tahun.

Untuk kedua paket, mitra mendapat booth, mesin giling tebu, mesin penutup cup, paket promosi, seragam, dan pelatihan. Booth tipe Regular untuk penempatan di ruko dan di depan hipermarket atau minimarket. Paket ini hanya menjual sari tebu asli dan variasi sari tebu.

Sementara, tipe Premium untuk lokasi di foodcourt atau mal. Paket ini menjual sari tebu asli, variasi sari tebu, dan minuman lain seperti teh kesehatan.

Hendrawan mengatakan, satu gerai bisa menjual antara 80 hingga 100 gelas sari tebu per hari. Hendrawan mematok harga Rp 5.000 hingga
Rp 10.000 per gelas. Perkiraannya, jika mitra bisa mengantongi omzet Rp 15 juta hingga Rp 30 juta sebulan, si mitra akan balik modal dalam waktu lima bulan. Hendrawan mengutip biaya royalti 10% dari omzet tiap bulan.

Menurut Hendrawan, biasanya permintaan akan minuman tebu akan meningkat drastis saat bulan puasa. Maka ia pun memperkirakan mendekati bulan puasa, jumlah pebisnis sari tebu ini akan melonjak. "Biasanya naik hampir 50%," ujarnya.

Tentu saja Hendrawan bakal memanfaatkan peluang ini untuk menjaring mitra sebanyak mungkin. Targetnya, di bulan puasa tahun ini ia mampu merambah wilayah Jabodetabek.


Juragan Tebu

Galuh Ikhwansyah, pemilik Juragan Tebu yang menawarkan kemitraan sejak Juni 2010 mengatakan dia mampu bersaing dengan sari tebu yang lain karena rasa sari tebu bikinan Juragan Tebu tidak kalah dari yang lain. Galuh juga bekerja sama dengan petani tebu di Cirebon sehingga dia dapat memasok mitra sepanjang tahun.

Belum lewat satu tahun menawarkan kemitraan, Galih sudah menggaet 25 mitra yang tersebar di Jakarta, Bandung, Purwokerto, Magelang, dan Bekasi. Galih menghitung mitranya dapat menjual 1.500 sampai 2.000 gelas per bulan. Dengan harga Rp 4.000 per gelas, mitra bisa mengantongi omzet rata-ratanya Rp 6 juta sampai Rp 8 juta.

Galih menawarkan empat paket kemitraan mulai dari yang termurah Rp 8 juta, Paket Gerobak Rp 12 juta, Gerobak Tenda Rp 17,5 juta, dan Paket Booth Rp 22,5 juta.

Mitra Galuh kebanyakan memilih paket gerobak dengan investasi Rp 12 juta. Dengan nilai investasi itu, calon mitra akan mendapatkan peralatan lengkap, mesin giling tebu, tiga pasang seragam, bahan baku tebu untuk 30 porsi, dan 100 gelas.

Setelah beroperasi, mitra harus membeli bahan baku dari Juragan Tebu. Galih memperkirakan, biaya bahan baku ini sekitar setengah dari total omzet mitra per bulan. "Mitra akan balik modal lebih cepat bila ia turun tangan sendiri," ujar Galih.

Seperti usaha lain, syarat penting bagi kemitraan ini adalah lokasi. Galih menganjurkan mitra mangkal di tempat ramai, seperti tempat wisata, sekolah atau tempat lalu lalang kendaraan.

Dengan hitungan mitra bisa menjual 1.500 gelas dan harga jual Rp 4.000, omzet mitra Rp 6 juta per bulan. Ingat, dari jumlah itu, mitra harus mengeluarkan biaya bahan baku setengah dari omzet, biaya operasional sekitar Rp 500.000 dan upah pegawai Rp 1,2 juta. Dengan laba bersih cuma Rp 1 juta, mitra ada baiknya memiliki lebih dari satu gerobak.

Agar omzet lebih besar, Galuh menyarankan mitra rajin berjualan ke tempat seperti konser musik dan pasar malam. Dengan gerai yang mobile, mitra bisa memindahkan lokasi dagangan di pusat keramaian.

Mitra juga bisa bermain di harga jual dengan memperhitungkan kemampuan ekonomi warga sekitar gerai. Di Cirebon, Galih menjual sari tebu Rp 2.500 per gelas. Mitra bisa menyesuaikan harga jual sendiri. Di Jakarta atau Bandung, mitra bisa menjual sari tebu Rp 5.000 atau Rp 6.000 per gelas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar