Rabu, 13 April 2011

Peluang Usaha Pertanian : Bisnis Pengolahan Kompos dari Sampah Kota




Irene terbiasa mengumpulkan barang bekas

Kesuksesan Irene Holle dalam bisnis pengolahan sampah menjadi pupuk kompos berawal dari kebiasaannya yang suka mengumpulkan barang-barang bekas di rumah sejak kecil. Kini, Irene mengumpulkan 20 meterkubik sampah per hari dari klien-klien yang berasal dari hampir seluruh wilayah Jakarta Selatan.

Irene Holle menjalani bisnis pengolahan sampah dan barang bekas dengan suka cita. Keluarga pun mendukungnya melakoni usaha ini. Lagi pula, sejak kecil ia sudah terbiasa mengumpulkan barang-barang bekas mulai dari koran hingga kardus untuk kemudian dijual ke tukang loak. "Orang tua saya sudah membiasakan sejak kecil untuk bisa mengolah barang-barang tak terpakai," ujarnya.

Kebiasaan ini sangat berguna ketika ia memutuskan untuk berkonsentrasi menggeluti bisnis pengolahan sampah menjadi pupuk kompos dan pakan ternak. Irene berprinsip bahwa pekerjaan apa pun asalkan positif harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan penuh rasa cinta. Karena ketika melakukan pekerjaan dengan cinta hasilnya akan selalu optimal.

Perempuan kelahiran Jakarta 29 April 1974 ini mengambil kuliah di Sekolah Tinggi Manajemen Transportasi (STMT) Trisakti, jurusan Transportasi Udara. Setelah lulus tahun 1997, ia sempat bekerja di kafe dan hotel hingga tahun 2003. Jabatan terakhirnya adalah manajer operasional.

Di masa akhir bekerja di hotel, Irene sudah mulai mencari informasi soal sampah. Bekerja di hotel membuatnya mengetahui berapa banyak sampah yang menumpuk tiap harinya. Tentu akan sangat berarti jika sampah itu bisa diolah dan menjadi barang berguna.

Setelah mendapatkan informasi yang cukup, ia pun memulai langkah mendirikan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang bisnis hijau dengan nama PT Recycle Indonesia Utama Mandiri (Recyclindo). Dengan modal Rp 200 juta Irene membeli truk bekas pengangkut sampah beserta perlengkapan lainnya.

Ia pun sukses mengembangkan bisnis hingga mendapat klien yang memasok sampah hampir di seluruh Jakarta Selatan, mulai dari Pondok Indah, Kemang, hingga Radio Dalam.

Saat ini Irene memiliki tiga truk yang beroperasi mengangkut sampah dari klien. PT Recyclindo menyediakan tempat pengangkutan yang sudah dibedakan antara sampah organik dan non-organik. Ada juga klien yang memang sudah memisahkan antara keduanya. "Salah satu masalah di Indonesia adalah kurangnya kesadaran masyarakat pentingnya tidak mencampur sampah organik dan nonorganik," ujar Irene.

Sampah-sampah diangkut ke tempat operasional di Parung untuk kemudian disortir antara sampah organik dan non organik.

Setiap hari, Irene mendapatkan sekitar 20 meterkubik sampah dari para klien. Bahkan pada musim liburan, Irene bisa mengangkut sampah dua kali lebih banyak dari hari biasa.

Dari 20 meterkubik sampah yang terkumpul per hari, hanya sekitar 60% di antaranya berupa limbah organik yang bisa diolah lagi. Dari persentase itu, sampah yang bisa diolah menjadi pupuk kompos 60% dan 40% lagi menjadi makanan ternak seperti lele. Para pembeli pupuk kompos dan pakan ternak berasal dari pengelola apartemen, hotel, penthouse, restoran kecil, sekolah, dan perkantoran.

Irene dengan profesional juga menerapkan bonus pada karyawannya yang bekerja lembur. "Profesionalitas dalam pengelolaan bisnis ini adalah kunci keberhasilan," ujarnya.

Irene juga menerapkan sanksi yang tegas bagi karyawan yang melanggar aturan. Ia menceritakan bahwa suatu waktu karyawannya tidak menyetorkan sampah secara keseluruhan tapi menjual sebagian ke pihak lain. Namun, karena sudah ada sanksi yang jelas hal itu tidak pernah terulang.

Irene menyadari bahwa pekerjaan mengurusi sampah masih menjadi sesuatu yang dianggap rendah oleh banyak pihak. Karena itu, ia selalu memberikan motivasi ekstra dan perlakuan yang adil pada para karyawan.

Tidak hanya dari karyawan yang mengalami itu, para kliennya juga masih banyak yang menganggap demikian. Meski pun sudah memberikan harga kompos cukup murah, yakni Rp 1.500 per kg, masih banyak pembeli yang menganggap angka itu terlalu mahal. "Pandangan mereka yang namanya bekas sampah itu tetap sesuatu yang kotor dan harus semurah mungkin," ujarnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar