Jumat, 29 April 2011

Peluang Usaha Pertanian : Menangguk Untung dari Sari Temulawak







Berkah Tuhan Bumi Nusantara Indonesia ini sungguh luar biasa. Sebagian kecil di antaranya adalah temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) Tanaman bangsa jahe-jahean ini mempunyai khasiat herbal amat beragam dan sudah menjadi perhatian dunia. Berbisnis temulawak, selain melestarikan budaya leluhur, juga menguntungkan.

Siapa yang tidak kenal temulawak? Khasiatnya yang beragam di bidang kesehatan seperti untuk meningkatkan sistem imunitas tubuh, menyembuhkan penyakit hepatitis, kulit, batu empedu, demam dan gangguan pencernaan menjadikan temulawak sebagai bahan baku utama dalam pembuatan obat, bahan makanan maupun minuman penyegar.

“Ibarat makan, temulawak merupakan nasi dalam pembuatan obat herbal. Hampir 80% bahan baku obat herbal adalah temulawak. Bahkan temulawak ini mempunyai potensi menjadi ikon nasional sebagaimana ginseng untuk Korea,” ujar Direktur Pusat Teknologi Farmasi dan Medika (PTFM) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Rifatul Widjhati pada acara Bincang Iptek BPPT, Rabu (6/4) lalu.

Dia menambahkan, “ Dalam bahasa inggris saja temulawak dikenal dengan sebutan Java Turmeric (Kunyit Jawa), ini membuktikan bahwa temulawak sudah lama dikenal dan digunakan masyarakat kita.”

Lebih lanjut Rifatul mengungkapkan, BPPT telah melakukan penelitian terhadap DNA fingerprint tanaman temulawak untuk membuktikan tanaman ini sebagai tanaman asli Indonesia. Itu berkaitan dengan upaya Malaysia dan India yang ingin mengklaim temulawak sebagai tanaman asli kedua negara.

Sementara, menurut Teuku Tajuddin dari Balai Penelitian Bioteknologi BPPT, lembaga tempat dia mengabdikan diri itu telah meneliti DNA dan varietas temulawak sejak 2008, rencananya akan selesai pada 2012.

“Penelitian ini untuk membuktikan apakah temulawak tanaman asli Indonesia, atau bukan. Penelitian menyangkut sidik jari, sebaran tanaman, dan jumlah varian, serta formulanya,’’ jelas Tajuddin dalam diskusi tentang potensi obat herbal Indonesia di BPPT, Jakarta, Rabu (6/4).

Tajuddin menyatakan, dia telah mengelompokkan tanaman temulawak ini mulai dari Lampung, Bali, Boyolali, Merauke, Ciamis, Bengkulu, Pulau Buru, Ambon, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, dan Bengkulu.

Dari hasil penelitian komposisi genetika, menunjukkan bahwa temulawak di Jawa dan Pulau Buru ada kesamaan. Demikian juga dengan kelompok tanaman yang jenisnya sama terdapat di Lampung, Boyolali, Ciamis, Pulau Buru, Sulawesi, NTB, Bengkulu, Merauke, memiliki jenis yang sama. Sedangkan dari Bali dan Ambon berbeda.

‘‘Untuk Bali memang belum lengkap datanya. Tapi untuk Ambon, berdasarkan catatan sejarah, asal usul temulawak dari Ambon. Dan berbeda dengan temulawak yang ada di tempat lain. Ini masih dalam pembuktian,’’ ujarnya.

Susah Dapat Klaim

Perbedaan itu bisa disebabkan karena evolusi alam. Apabila dari jumlah varian maupun komposisi khasiatnya lebih banyak ditemukan di Indonesia, maka tanaman itu bisa diklaim milik Indonesia.

Diakuinya untuk mendapat klaim tanaman asli Indonesia memang susah. Apalagi tanaman itu juga ditemui di India, Malaysia, Thailand, dan China. ‘‘Kalau hasilnya memang bukan asli Indonesia, ya kami akan katakan apa adanya dari hasil riset ini.’’

Namun dia optimistis karena Korea saja hanya memiliki 33 persen tanaman ginseng. ‘‘Dengan pembuktian sejarah dan teknologi DNA serta varian itu bisa membantu mengungkapkan petunjuk soal asal usul temulawak.’’

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Balai Pengkajian Bioteknologi BPPT, Bambang Marwoto, mengatakan kajian tersebut diperlukan untuk melindungi tanaman temulawak sebagai plasma nutfah asli Indonesia agar tidak dieksploitasi dan dipatenkan oleh negara lain.

Secara morfologis, lanjut Bambang, memang sulit membuktikan temulawak sebagai tanaman asli Indonesia secara morfologis. “Karena di Indonesia banyak spesies temulawak dan banyak timbul beberapa varietas atau spesies baru. Untuk itu, perlu dibuktikan secara genetik, seperti upaya forensik terhadap manusia. Beberapa spesies temulawak punya senyawa aktif yang berbeda-beda. Seperti sidik jari, DNA temulawak dilihat dari senyawa aktifnya,” ungkapnya.

“Sidik jari DNA berlaku sebagai barcode atas tanaman unggulan lokal kita. Dengan ini, kita dapat melindungi sekaligus memanfaatkan sebesar-besarnya untuk masyarakat Indonesia,” kata Bambang.

Potensi Ekonomis

Temulawak sendiri mempunyai potensi ekonomis cukup besar. Atep Afia Hidayat, seorang penulis di blogforum kompasiana.com, belum lama ini menulis artikel kesehatan tentang potensi temulawak, yang di Jawa Barat dikenal dengan nama koneng gede itu.

“Belakangan ini temulawak makin naik daun, harganya mencapai USD 300 ( sekitar Rp 2,6 juta) per ton, dengan tingkat permintaan dunia mencapai 30.000 ton per tahun, sedangkan Indonesia baru bisa menyuplai 10 persen,” tutrnya.

Menurut Atep, meningkatnya nilai ekonomi temulawak, terutama disebabkan informasi yang meluas menyangkut khasiatnya dalam meredakan penyakit seperti hepatitis B. Selain itu, terjadi peningkatan minta masyarakat terhadap obat-obatan dari tumbuhan alami (fitofarmaka).

Berdasarkan catatan informasi yang dia kumpulkan, tahun 2000 omzet obat alami secara nasional mencapai Rp 1 triliun, dan tahun 2001 diperkirakan meningkat jadi Rp 1,4 triliun. Sementara pada Symposium Internasional Temu Lawak yang berlangsung 27-28 Mei 2008 di IPB, terungkap omzat obat alami atau obat tradisional tahun 2007 mencapai Rp 4 triliun, dan tahun 2008 menjadi Rp 7,2 triliun.

Atep juga mengungkapkan, memang belum ditemukan data yang akurat tentang mekanisme atau cara kerja temulawak dalam memerangi penyakit hepatitis. Namun, berdasarkan pengalaman masyarakat, khasiat temulawak sudah dikenal sebagai jamu yang ampuh untuk mengatasi sebah perut atau penyakit kuning (lever-Red).

Pengalaman dr. Melly Budhirman, seorang psikiater di Jakarta, sebagaimana diungkapkan dalam Intisari (September 1996), berawal dari gejala-gejala cepat lelah, nafsu makan menurun drastis kadang-kadang sampai muntah, dan bola mata kekuningan. Dari hasil pemeriksaan, ternyata terserang virus hepatitis B, yang kemungkinan ditularkan melalui jarum suntik yang tercemar virus.

Dalam perkembangannya, berdasarkan pemeriksaan lengkap melalui scanning dan biopsy dinyatakan menderita hepatitis kronis aktif, kemudian berkembang menjadi sirosis hepatitis. Satu-satunya obat yang diberikan, kortikosteroid dengan dosis cukup tinggi 4 x 10 mg. Namun ternyata menimbulkan efek samping berupa bengkak-bengkak pada tubuh, dan pemeriksaan fungsi hati menunjukkan hasil yang buruk.

Setelah memperoleh informasi menyangkut khasiat temulawak, dr.Melly lantas mengkonsumsi sari temulawak (rebusan temulawak) selama empat bulan berturut-turut. Hasil biopsy oleh Dr.Sadikin Darmawan, seorang patolog senior, menyatakan bahwa kondisi hati dr.Melly sehat.

Pengalaman serupa juga diungkapkan oleh seorang ibu di Bandung, setelah menempuh pengobatan alternatif di Garut selama lebih dari setahun (menggunakan ramuan tradisional, dengan bahan utama temulawak), penyakit hepatitisnya dinyatakan sembuh.

Secara medis modern, temulawak memang belum direkomendasikan sebagai obat. Namun secara empiris, khasiat temulawak yang luar biasa itu sudah terbukti nyata, bahkan diakui dunia. Hal itu tentu membuka lebar peluang berbisnis temulawak.
Sari Temulawak

Sejak zaman dulu kala, negeri ini sudah dikenal memiliki kekayaan dan keanekaragaman flora. Termasuk, beragam tanaman herbal yang bisa dimanfaatkan sebagai obat. Salah satu tanaman yang cukup populer dan punya khasiat ampuh sebagai penyembuh penyakit adalah temulawak. Tanaman ini merupakan famili Zingiberaceae, yang awalnya banyak ditemukan di hutan.

Sebagai salah satu herbal, temulawak dipercaya bisa mengatasi berbagai penyakit. Seperti, gangguan lever, mencegah hepatitis, meningkatkan produksi cairan empedu, membantu pencernaan, mengatasi radang lambung dan gangguan ginjal.

Dulu, nenek atau kakek kita biasa menyerap sari temulawak dengan cara merebusnya lalu meminum airnya. Kini, ada cara mengonsumsi temulawak yang lebih praktis. Yakni, temulawak instan. Salah satunya, temulawak instan produksi UD Sidariz di Blora, Jawa Tengah.

Karjan, pembina UD Sidariz, mengatakan, kelompok binaannya memproduksi temulawak instan sejak 2006. Mereka menjual temulawak instan dalam tiga kemasan, Yang pertama, kemasan saset berisi bubuk. Harganya Rp 10.000 per pak isi 10 saset. Kemudian, kemasan gelas plastik siap minum yang dijual seharga Rp 1.500 per kemasan. Dan yang ketiga, kemasan botol ukuran 650 ml dengan harga Rp 20.000 per botol.

Untuk menjaga pasokan temulawak, kelompok usaha itu memiliki lahan temulawak seluas 32,75 hektare. Ini adalah wilayah hutan rakyat yang dikelola bersama Perhutani. “Temulawak ditanam di sela-sela pohon jati,” kata Karjan. Dalam sebulan, kelompok usaha ini mengolah 5 kuintal temulawak. “Omzetnya masih kecil,” imbuhnya.

Pengenalan produk dan cara pemasaran merupakan salah satu kendala yang dihadapi kelompok usaha ini. Padahal, menurut Karjan, prospek minuman temulawak instan ini sangat bagus. Buktinya, salah satu perusahaan jamu berniat membeli produknya. “Jika spesifikasi yang diminta bisa kami penuhi maka kami akan memasok ke sana,” katanya.

Keyakinan akan cerahnya prospek bisnis ini pula yang membuat Lilik Indrawati menekuni bisnis temulawak instan. “Banyaknya orang beralih ke obat-obatan herbal ini, menyebabkan permintaan temulawak berdatangan,” ujarnya.

Lilik memasarkan temulawak instan dengan merek Temulawak Prima Herba, yang diproduksinya di Solo. Ia memasarkan produknya lewat internet, sehingga jangkauan pasarnya cukup luas. “Permintaan datang hampir dari seluruh Indonesia,” katanya. Tak heran, saban bulan Lilik mampu meraup omzet Rp 30 juta-Rp 40 juta dari bisnis ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar