Jumat, 29 April 2011

Berita Pertanian : Peneliti: Kopi Toraja Populer di Korsel











Makassar
. Kopi torabika khas Tana Toraja, Sulawesi Selatan (Sulsel), menjadi ikon kopi Indonesia yang semakin populer di mancanegara termasuk di Korea Selatan (Korsel).
"Yang mendunia dari Indonesia di Korea adalah kopi Toraja," kata peneliti dari Departement of Biotechnology Yonsei University Korea Selatan Prof Dr Yaya Rukayadi saat menjadi nara sumber dalam seminar internasional agro industri yang diadakan Politeknik Negeri Ujungpandang di Makassar, Kamis (28/4).

Hanya saja, putra asli Sumedang, Jawa Barat ini, menyebutkan bahwa kopi Toraja yang sampai ke Korea bukan dipopulerkan oleh pengusaha Indonesia melainkan pengusaha asal Jerman. "Toraja Coffee selalu dicari di Korea, tapi kompetitornya orang Jerman, katanya dijual di sana sampai Rp5 juta per kilogram," ucapnya.

Meski kompetitornya orang Jerman, Yaya tetap bangga karena tetap menggunakan merek lokal yakni Toraja Coffee. Selain kopi Toraja asal Indonesia yang terkenal di luar negeri, juga terdapat kopi Sumatera, kopi Mandailing, kopi Jawa, kopi Bali, dan kopi luwak.

Untuk kopi luwak, Yaya pernah membawa ilmuwan dari Korea Selatan untuk melakukan penelitian tentang pembuatan kopi luwak di Jawa Timur. Selain kopi Toraja, Yaya yang pernah mendapat penghargaan dari pemerintah Korea Selatan di bidang analisis tanaman obat-obatan mengemukakan, temu lawak menjadi komoditas asli Indonesia yang masih punya nama besar di "negeri ginseng".

Hanya saja, lanjutnya, jika temu lawak yang tumbuh hampir di seluruh Indonesia mau dijadikan komoditas internasional, waktu panennya harus di atas sembilan bulan. "Di Indonesia, banyak yang baru enam bulan sudah dipanen sehingga kandungan obatnya kurang bagus," jelasnya.

Hasil penelitian yang dilakukan Yaya menunjukkan bahwa temu lawak baik untuk kesehatan mulut. Sementara tanaman obat lainnya dari Indonesia yang awalnya mendominasi pasar Korea saat ini tergeser oleh komoditas Thailand yang lebih memiliki "merek".

Dalam seminar tersebut Yaya membawakan materi berjudul "peluang Sulsel sebagai pusat pertumbuhan dan pengolahan agro industri Indonesia untuk pasar dunia".

Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu"mang yang tampil sebagai pembicara pertama memaparkan strategi Sulsel dalam meningkatkan produksi komoditas unggulan, termasuk kakao, jagung, udang, dan rumput laut. Pemprop Sulsel mencanangkan mulai 2012 fokus pada pengembangan agroindustri. (ant)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar