Jumat, 29 April 2011

Singkat Budidaya Temulawak








Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) merupakan salah satu tanaman obat yang memiliki prospek cerah untuk dikembangkan. Manfaat utama tanaman ini sebagai penyembuh beragam penyakit antara lain sakit gangguan hati, demam, sakit kuning, pegal-pegal, sembelit, obat kuat (tonik), perangsang air susu (laktagoga) dan obat peluruh haid (emmenagogum).

Pengelolaan Tanaman

Agar menghasilkan produksi rimpang yang maksimal tanaman membutuhkan tanah yang subur, gembur, banyak mengandung bahan organik, tidak tergenang dan pengairannya teratur. Pada lahan pasang surut potensial dengan tipe luapan B yang ditata sebagai surjan, pola tanam pada umumnya adalah padi (tabukan), pada guludan dapat ditanam tanaman temu-temuan. Sedangkan pada tipe luapan C dan D tanaman temu-temuan dapat ditanam pada musim penghujan.

Pembibitan

Bahan tanam dipilih yang sehat berumur 10-12 bulan, bisa menggunakan rimpang induk dan anak rimpang. Ukuran bibitnya 20-40 gr/potong. Sebelum ditanam benih ditumbuhkan dahulu sampai mata tunasnya tumbuh dengan tinggi 0,5-1 cm, sehingga diperoleh tanaman yang seragam.

Persiapan Lahan

Tanah diolah menjadi gembur, diupayakan agar drainase lancar, untuk iru perlu dibbuat parit-parit pemisah petak. Lebar petak 2-3 m sedangkan panjangnya disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Jarak tanam temulawak bervariasi antara 50 x 60 cm pada sistem budidaya monokultur, dapat juga menggunakan jarak tanam 75 x 50 cm.

Pemupukan dan Pemeliharaan

Pupuk kandang diperlukan sebanyak 20 ton/ha sebagai pupuk dasar, diberikan pada saat tanam. Pupuk Urea 300 kg/ha, SP-36 dan KCl 200 kg/ha. Pupuk SP-36 dan KCl diberikan pada saat tanam, sedangkan Urea diberikan secara bertahap, yaitu pada umur 1, 2 dan 3 bulan setelah tanaman tumbuh masing-masing tiga bagian. Pemeliharaan tanaman meliputi penyiangan dan pembumbunan. Hal ini perlu dilakukan untuk menghindari adanya kompetisi perolehan zat hara dengan gulma dan menjaga kelembaban, suhu, dan kegemburan tanah.

Pengendalian OPT

Untuk mencegah masuknya bibit penyakit busuk rimpang yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum, dilakukan dengan cara penggunaan benih sehat, perlakuan benih sehat (perendaman dengan antibiotik), menghindari pelukaan (menaburkan abu sekam di permukaan rimpang), pergiliran tanaman, pembersihan sisa tanaman dan gulma, pembuatan saluran irigasi supaya tidak ada air menggenang dan aliran air tidak melalui petak sehat, pemantauan kebun secara rutin.

Panen dan Pasca Panen

Panen yang tepat berdasarkan umur tanaman perlu dilakukan untuk mendapatkan produktivitas yang tinggi yaitu pada tanaman umur 10-12 bulan stelah tanam ditandai dengan daun mulai luruh atau mengering. Dapat pula dipanen pada umur 20-24 bulan setelah tanam. Potensi hasil tanaman temulawak mencapai 20-30 ton/ha.

Panen dilakukan dengan cara menggali dan mengangkat rimpang secara keseluruhan. Rimpang hasil panen dicuci dari tanah dan kotoran, kemudian dikeringanginkan kulit rimpangnya. Setelah itu rimpang diiris membujur dengan ketebalan 2-3 mm. Rajangan rimpang kemudian dijemur di atas alas yang bersih, atau bisa dikeringkan menggunakan oven dengan suhu 40o C-600o C, hingga mencapai kadar air 9 %-10 %. *

Sumber: sumsel.litbang.deptan.go.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar