Minggu, 17 April 2011

Peluang Usaha Pertanian : PELUANG BISNIS BUAH MAJA




Menyulap buah maja menjadi barang kerajinan unik

Di tangan yang kreatif, buah maja yang selama ini dianggap sebagai limbah, bisa diolah menjadi aneka kerajinan. Perajin membuat buah berbentuk bulat ini menjadi teko, gayung, kap lampu, pot bunga dan lainnya. Karena pemainnya belum banyak, omzetnya lumayan. Satu pengusaha bisa mengantongi omzet Rp 800.000 dalam sehari.

Bagi sebagian orang, nama buah maja mungkin masih terdengar asing. Buah berbentuk bulat besar, mirip jeruk bali ini, konon berasal dari Kerajaan Majapahit. Sebagian penduduk Jawa Barat pun menyebut buah ini sebagai buah berenuk.

Lantaran bentuknya juga menyerupai batok kelapa, buah ini banyak digunakan sebagai bahan kerajinan. Donny Anugerah, misalnya. Sejak tiga tahun lalu, pemilik sanggar berenuk asal Subang, Jawa Barat ini, sejak tiga tahun lalu memproduksi produk-produk kerajinan berbahan baku buah maja.

Menurut Donny, buah maja sebenarnya adalah limbah karena isi buahnya tak enak dimakan. Awalnya, ia pun hanya membuat teko poci. Karena banyak orang tertarik, ia pun mengembangkan produksinya, seperti gayung, kap lampu, pot bunga dan lampion.

Peluang ini ditangkap pula oleh Dede Sulaiman. Lelaki asal Bogor ini awalnya melihat banyaknya buah maja yang dibuang begitu saja karena dianggap limbah oleh masyarakat di sekitar tempat tinggalnya. Dengan bantuan empat karyawan, saban bulan Dede bisa menjual 70 kerajinan buah maja, seperti lampu duduk, tas, asbak dan lainnya.

Harga kerajinan buah maja bervariasi. Donny menjual mulai dari harga Rp 15.000 untuk barang seperti gayung. Sementara, teko atau poci buah maja dijual dengan harga Rp 100.000.
Sementara, Dede menawarkan harga mulai Rp 40.000 hingga Rp 150.000. Ia lebih membidik pasar mahasiswa karena mereka lebih menyukai barang kerajinan.

Donny mengatakan, dalam sehari ia bisa mengantongi omzet hingga Rp 800.000. Alhasil, pendapatan kotornya setiap bulan bisa mencapai Rp 24 juta.

Namun, pasar produk kreasi Donny masih terbatas di Subang dan Bandung. Ia berharap, dalam waktu dekat bisa mengembangkan produk dan penjualannya hingga tembus pasar ekspor.

Namun, yang perlu dipertimbangkan, bahan baku ini kian sulit didapatkan. "Karena warga kampung sudah menganggapnya limbah, mereka tak mau menanam," ujar Dede.

Padahal, untuk membuat berbagai produk buah maja ini cukup mudah. Buah maja tinggal dipetik, lalu dikeluarkan isinya dan dijemur. Setelah kering, baru perajin melubangi buah maja dan mengombinasikannya dengan tali yang terbuat dari anyaman pelepah pisang.

Kerajinan buah maja ini pun masih bisa dipercantik dengan pemberian cat. Namun, kebanyakan pembeli memilih produk dengan pewarnaan alami.

Untuk proses produksi, Dede hanya terlibat sebatas pencarian bahan, pengeringan dan pembuatan lubang kecil untuk pegangan. Selebihnya, ia menyerahkan penyelesaian pada rekan-rekannya yang memang memiliki ketrampilan untuk menghias.

Selain pasokan buah maja yang tak menentu, kendala lain dalam produksi kerajinan ini adalah ketersediaan peralatan produksi. Pasalnya, hampir secara keseluruhan produksinya dilakukan secara manual.

Cuaca yang tak menentu, seperti musim hujan yang datang tak menentu juga berpengaruh pada proses produksi. Maklum, proses pengeringan sangat tergantung pada sinar matahari. "Kalau dijemur secara langsung di bawah sinar matahari, warna yang keluar menjadi lebih alami dan lebih bagus," terang Donny.

Namun, ia menggunakan alternatif pengeringan lewat oven bila hujan terus turun. Tapi, setelah itu, buah maja harus diamplas, dipelitur dan dilapis dengan vernis.

Meski masih banyak kendala, Dede optimistis prospek usaha ini cerah. Apa lagi persaingan di bisnis ini belum ketat, karena perajin yang memilih buah maja sebagai bahan baku masih sedikit. Selain itu, produk dari buah maja sangat fungsional dan awet. Donny mengklaim, produk ini lebih awet dari batok kelapa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar