Senin, 25 April 2011

Peluang Usaha pertanian : Manisnya Laba dari Ternak Jangkrik



Tak usah banyak-banyak, hanya dengan memiliki sepuluh kotak saja dengan masing-masing kotak bisa menghasilkan lima hingga tujuh kilogram jangkrik, Tama bisa mengantongi laba sebanyak Rp 3,5 juta dalam sekali panen. Dengan asumsi harga jual jangkrik antara Rp 45.000 hingga Rp 50.000 per kilogramnya. Laba yang luar biasa dari binatang kecil yang selama ini nyaris tak tersentuh pebisnis.
Ribuan jangkrik muda berlompatan di kandangnya. Hewan yang kini banyak dikembangkan ini saling berebut sayuran sawi hijau yang diberikan si peternak.

"Sebagian jangkrik ini baru menetas dari telurnya dan dalam usia 40 hari ke depan siap untuk panen dan dipasarkan," ujar Tama, peternak jangkrik mengawali obrolannya dengan MedanBisnis, di lokasi peternakan jangkriknya di Jalan Beringin Desa Tembung Kabupaten Deliserdang.

Bagi pria yang baru berusia 20 tahun ini, awalnya beternak jangkrik merupakan kegiatan selingan untuk mencari kesibukan lain di rumah. Namun, dengan keuntungan yang lumayan besar, ia yang baru memulai membudidayakan jangkrik dalam empat bulan terakhir ini merasa tertantang untuk lebih serius menekuninya hingga mengembangkan lebih besar lagi.

Bayangkan saja, dengan memiliki sepuluh kotak dengan masing-masing kotak bisa menghasilkan lima hingga tujuh kilogram, dengan harga jual jangkrik Rp 45.000 hingga Rp 50.000 perkg nya, Tama bisa mengantongi uang sebanyak Rp 3.500.000 dalam sekali panen untuk semua kotak jangkrik.

"Untungnya sih lumayan juga. Masa panen jangkrik 40 hari dan bisa langsung dijual. Bahkan telur pun sangat banyak diminati dengan harga jual Rp 50.000 per ons nya," jelas Tama.

Sedangkan biaya produksi yang harus dikeluarkan dalam membudidayakan jangkrik atau dengan nama latinnya dikenal Liogryllus bimaculatus itu, dikatakan Tama tidaklah terlalu besar. Awalnya perlu membeli bibit jangkrik seharga Rp 500.000 perkg. Namun, untuk ukuran kotak yang dimilikinya yakni berukuran 2,40 meter x 60 meter, bibit yang digunakan hanya berkisar 2,5 ons. Dan kotak ukuran kecil 1,20 meter x 60 meter bibit hanya berkisar 1,5 ons saja.

Kemudian, peternak harus membuat kotak berbahan triplek yakni dengan biaya Rp 300.000 per kotak untuk ukuran besar dan setengah harga kotak ukuran kecil. Sarang atau kertas telur juga harus disiapkan yang digunakan sebagai tempat bersembunyinya jangkrik di dalam kotak. Kertas telur biasa yang dibeli di warung-warung atau grosir dengan harga Rp 100 per lembar.

Biasanya kertas telur yang digunakan sebanyak 48 lembar untuk kotak ukuran kecil. "Setelah kotak, kertas telur dan bibit disiapkan, kita juga harus menyediakan pakan jangkrik berupa sayur-sayuran hijau yang bisa dibeli di pasaran dalam 3 hari sekali dengan harga Rp 10.000 perkg nya. Sayuran yang biasa dibeli adalah sayuran yang tidak lagi laku dijual lagi. Tapi sebelum diberi pada jangkrik, sayur harus dicuci bersih agar terhindar dari sisa obat-obatan pestisida yang menempel pada sayur sehingga jangkrik dapat hidup sehat dan memiliki ketahanan tubuh lebih lama," ungkapnya.

Secara rinci, modal yang harus dikeluarkan bagi peternak jangkrik pemula seperti Tama dengan hanya memiliki 10 kotak, yang terdiri dari 3 kotak ukuran besar dan selebihnya ukuran kecil, hanya memerlukan biaya sebesar Rp 5 juta. Namun, selanjutnya jika sudah memiliki kotak, biaya produksi persekali panen dalam 40 hari, biaya yang dibutuhkan berkisar Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu saja. "Modal tidak terlalu besar, ya pasti cara perawatan harus baik agar jangkrik mau berkembang dan bertelur sehat," ungkapnya.

Beternak jangkrik sangatlah mudah, sebab jangkrik hanya memakan sayur-sayuran juga pur. Jangkrik pun tumbuh besar dengan sendirinya, tinggal diletakkan di dalam kotak. Untuk melakukan panen 40 hari sekali. "Jika terlalu lama membiarkan jangkrik sampai besar, harga jual tidak ada. Biasanya jangkrik-jangkrik tersebut dijual untuk makanan burung, ikan arwana dan lain-lain. Untuk burung, suara kicauan burung bisa merdu setelah makan jangkrik, sebab jangkrik mengandung banyak protein," akunya.

Untuk pemasaran jangkriknya selama ini, Tama mengatakan permintaan sudah meluas baik dari Kota Medan, Sibolga, Siantar hingga ke Aceh. Permintaan jangkrik memang banyak, tapi bagi Tama dan teman-teman peternak lainnya yang tergabung dalam satu kelompok terdiri dari 10 peternak hanya dapat menghasilkan jangkri sebanyak 30 kg perminggu.

"Kalau diikuti permintaan bisa sampai 100 kg perhari, tapi kita tidak bisa kirim seharian. Kerja sama kita per kelompok dan jadwal angkut dan panen juga tidak bersamaan agar produksi tidak banjir. Ini cara agar harga jual tidak jatuh," pungkasnya.

Kesuksesan Tama membudidayakan jangkrik ini, juga diikuti oleh Putra. Pria berusia 33 tahun ini mulai mengembangkan usaha ternak jangkrik di Jalan Amal Gang Bersama Desa Tembung Kabupaten Deliserdang. Dengan memiliki 11 kotak, ia berencana akan memperbesar usahanya menambah menjadi 25 kotak untuk beternak jangkrik.

"Saya baru satu bulan ini membudidayakan jangkrik. Jadi belum ada yang panen. Pekerjaan iseng, tapi sepertinya menguntungkan. Lagian cara perawatan tidak sulit dan modal juga tidak terlalu besar," tuturnya.

Dikatakannya, usaha budidaya jangkrik bisa menjadi peluang bisnis yang sangat menguntungkan, baik sebagai usaha sampingan maupun usaha berskala besar. Apalagi setelah ditemukan adanya kandungan zat-zat penting yang sangat bermanfaat. Tidak hanya sebagai pakan burung kicauan dan ikan, tetapi juga sebagai bahan baku industri.

"Di samping itu, beternak jangkrik bukanlah sesuatu yang sulit dilakukan. Semua orang bisa dengan mudah belajar beternak jangkrik," kata Putra.

Jangkrik merupakan serangga yang berkerabat dekat dengan belalang, memiliki tubuh rata dan antena panjang. Jangkrik adalah omnivora, dikenal dengan suaranya yang hanya dihasilkan oleh cengkerik jantan. Suara ini digunakan untuk menarik betina dan menolak jantan lainnya.
Suara cengkerik ini semakin keras dengan naiknya suhu sekitar. Di dunia dikenal sekitar 900 spesies cengkerik, termasuk di dalamnya adalah gangsir. Untuk jenis jangkrik, diketahui ada lebih dari 100 jenis jangkrik yang terdapat di Indonesia. Jenis yang banyak dibudidayakan pada saat ini adalah Gryllus Mitratus dan Gryllus testaclus. Keduanya untuk pakan ikan dan burung.

Kedua jenis ini dapat dibedakan dari bentuk tubuhnya, di mana Gryllus Mitratus wipositor-nya lebih pendek di samping itu Gryllus Mitratus mempunyai garis putih pada pinggir sayap punggung, serta penampilannya yang tenang.

Hewan bernama jangkrik ini lebih banyak sebagai salah satu bahan pakan ayam atau burung. Namun, banyak penelitian menyebutkan bahwa kandungan gizi dalam daging jangkrik ternyata bermanfaat bagi manusia. Kandungan proteinnya tiga kali lipat kandungan daging ayam, sapi dan udang.

Jangkrik juga mengandung protein omega 3, omega 6 dan omega 9 yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang anak. Selain itu, konsumsi jangkrik dipercaya dapat menambah stamina tubuh, menambah gairah seksual, serta mampu menunda menopause bagi wanita.

Berdasarkan penelitian Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Sudirman Purwokerto, kandungan proteinnya yang mencapai 57,32% (sesuai) membuat jangkrik layak untuk dikonsumsi manusia.

Jangkrik mengandung 105,49 ppm hormon progesteron dan 259,535 hormon esterogen. hormon itu diketahui baik untuk membangun vitalitas perempuan. Misalnya, bermanfaat untuk pertumbuhan sekunder serta kesuburan, di samping bisa mengurangi rasa nyeri saat menopause dan membuat siklus menstruasi lancar.

Jangkrik juga menghasilkan sumber energi 4,87 kalori per gram, jauh di atas bahan makanan lainnya. Data penelitian menyebutkan jangkrik memiliki senyawa kimia seperti asam amino yang dibutuhkan untuk proses pembentukan sel. Selain itu, jangkrik juga mengandung glutation (GSH) dan berfungsi sebagai antioksidan alami pada tubuh manusia.

Tak heran jika jangkrik kemudian marak dibudidayakan. Apalagi pada tahun 1998 ketika budidaya jangkrik dan cacing sedang booming. Saat ini, sebagian besar hasil budidaya jangkrik untuk pasokan pakan ternak.

Jangkrik adalah serangga kecil yang rajin bernyanyi, terutama pada malam hari sehabis hujan. Suaranya yang nyaring menimbulkan sensasi. Suara jangkrik akan semakin keras dengan naiknya suhu di sekitarnya.

Seiring dengan bertambahnya waktu, keberadaan jangkrik semakin terdesak dan sulit didapat karena habitat hidupnya semakin sempit. Saat ini orang ramai memelihara jangkrik bukan saja untuk didengarkan keindahan suaranya tetapi untuk keperluan ekonomi, karena harga jualnya yang semakin meningkat.

Tama yang sedang asyik membersihkan pasir sebagai wadah jangkrik bertelur ini, mengungkapkan membudidayakan binatang ini tidaklah terlalu sulit. Ada dua cara, yakni dari telur atau bibit indukan.
Untuk budidaya dari bibit telur, peternak bisa membelinya dari pedagang jangkrik. Namun memang tidak ada jaminan telur menetas semua, paling 70%, atau bahkan tidak menetas. Telur yang bagus berwarna putih atau kekuning-kuningan, tak ada flek hitam di tengah (tanda telur mati). Yang bengkok atau hitam semua, jelek. Kalau hitamnya hanya di ujung, telur itu sudah tua, mau menetas.

"Telurnya saja dijual dengan harga Rp 50.000 per ons. Kalau memang tidak mau terlalu sulit mengembangkannya dari indukan, dengan bibit telur juga sudah bisa menjadi pilihan membudidayakan jangkrik ini," katanya.

Dalam masa penetasan, telur yang sudah dibersihkan dari bak pasir, diletakkan pada kain lembab atau pelepah pisang. Telur menetas kurang lebih 8 hingga 10 hari sejak dipanen.

"Kelembaban udara sangat perlu diperhatikan. Kalau terlalu tinggi, telur bisa mati atau busuk karena terkena jamur. Demikian juga halnya jika kelembababan terlampau kering," katanya.

Untuk sarang bertelur, dalam kandang disediakan media pasir halus dalam wadah ceper (tatakan cangkir) dengan kedalaman 1,5 - 2 cm. Pasir dicuci bersih atau disangrai dulu. Jangkrik akan menusukkan "jarumnya" berulang-ulang ke dalam media pasir. Jumlah telur kira-kira 150 - 300 butir per ekor.

Setelah bertelur, jangkrik betina kehabisan energi dan 15 - 30 hari kemudian mati. Ada juga jangkrik betina yang kuat dan dapat kawin lagi setelah periode bertelur pertama. Hanya saja mutu telurnya kurang bagus.

"Dalam memanen telur dalam media pasir, perlu diayak dan telur akan tertinggal di ayakan," jelasnya sambil mencontohkan.

Anak-anak jangkrik yang baru menetas berwarna terang dan berubah menjadi hitam atau kecoklatan beberapa jam kemudian. Tunggu sampai 2 hingga 4 hari setelah menetas. Kalau telur belum juga habis, mungkin masih ada telur yang belum saatnya menetas, telur mati atau busuk.
Telur-telur yang sudah menetas, dapat langsung diberikan pakan yang di letak pada kotak.

Pakannya berupa sayuran-sayuran hijau seperti sawi, bayam, kangkung dan lainnya. Untuk anak jangkrik muda, pakan diberikan sehari sekali, pagi atau sore. Sebelum dikasih pakan baru, sisa pakan sebelumnya diangkat dulu.

Umur 30 - 40 hari, anak jangkrik tumbuh menjadi clondo atau dogolan (jangkrik muda). Clondo bisa dipanen dan dijual sebagai pakan burung dan ikan arwana. Kalau belum ingin menjual, clondo bisa terus dipelihara untuk dijadikan indukan. Kira-kira berumur 2 hingga 4 bulan. Indukan ini bisa dijual atau dijadikan bibit untuk menghasilkan telur.

"Kalau menjadi indukan, semuanya harus lengkap mulai dari antena, sayap dan tubuh tampak kuat. Selain itu bibit indukan yang bagus berpantat panjang, hitam atau coklat kehitaman, dan "jarumnya" juga sudah hitam," pungkasnya.

Sementara serangan hama dan penyakit pada jangkrik, dilanjutkan Tama, sampai sekarang belum ditemukan penyakit yang serius menyerang jangkrik. Biasanya penyakit itu timbul karena jamur yang menempel di daun. Sedangkan hama yang sering mengganggu jangkrik adalah semut atau serangga kecil, tikus, cicak, katak dan ular.

Cara pencegahan serangan hama dan penyakit ini, dapat melakukannya dengan menghindari infeksi oleh jamur, maka makanan dan daun tempat berlindung yang tercemar jamur harus dibuang. Hama pengganggu jangkrik dapat diatasi dengan membuat kaleng yang berisi air, minyak tanah atau mengoleskan minyak gemuk pada kaki kandang. "Karena hama dan penyakit dapat diatasi secara preventif, maka penyakit jangkrik dapat ditekan seminimum mungkin," tutur Tama

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar