Senin, 11 April 2011

Jadikan Makanan sebagai Obat

Warga memilih aneka sayur organik yang baru dipanen dari Cisarua, Jawa Barat, di Rumah Makan Sedap Alami di Kembangan, Jakarta Barat, Senin (4/4).

Yulia Sapthiani

”Jadikanlah makanan sebagai obat bagi tubuh kita....” Itu kata ilmuwan Yunani, Hippocrates. Boleh jadi itu semacam slogan karena kini ”desakan” berbagai jenis makanan berhamburan di sekitar kita, dan itu menggoda....

Christopher Emille (38) masih ingat runtutan peristiwa ketika dia terkena serangan jantung, lima tahun lalu. Dadanya tiba-tiba terasa sakit saat berenang. Ketika sakit ini tak kunjung hilang, ia dibawa saudara-saudaranya ke rumah sakit.

Setelah menjalani serangkaian tes, oleh dokter, Emille dinyatakan terkena serangan jantung. ”Saya bisa bertahan karena punya kebiasaan berolahraga,” kata Emille, yang memang hobi berenang jarak jauh.

Peristiwa inilah yang kemudian mengubah kebiasaan Emille meski pola hidup sebelumnya sebenarnya tidak terlalu buruk. Emille khawatir karena di lingkungan keluarganya terdapat riwayat penyakit jantung. Pola makan menjadi lebih diperhatikan. Konsumsi sayur dan buah diperbanyak, terutama yang berjenis organik. Setiap kali minum, Emille selalu memilih air putih.

”Selain terasa lebih sehat, berat badan saya juga turun. Jadi, saya percaya bahwa makanan adalah obat bagi tubuh kita,” tutur Emille. Ia seolah membenarkan dalil yang dikemukakan Hiprocrates itu.

Sadar akan pentingnya pola hidup yang teratur, Emille membentuk Komunitas Organik Indonesia (KOI) untuk menyosialisasikan gaya hidup organik, termasuk kebiasaan mengonsumsi makanan sehat. Anggotanya tak hanya individu yang sudah dan baru berniat menjalankan gaya hidup organik, tetapi juga lembaga dan perusahaan yang bergerak di bidang produk organik.

Pola makan sehat

Vonis dokter karena mengidap penyakit tertentu juga memaksa Willy A. Roffi dan Hendra Alimin mengubah pola makan mereka. Tahun 2004, ginjal Roffi dideteksi bermasalah oleh dokter. Kondisi ini terjadi karena Roffi punya kebiasaan jarang minum dan menyukai makanan dengan rasa asin.

”Oleh dokter, saya disuruh mengonsumsi makanan sehat. Akhirnya saya mencari katering dengan menu sehat. Saat itu masih sulit untuk mencari katering makanan sehat. Kalaupun ada, harganya mahal,” tutur Roffi.

Meski mahal, demi kesehatan tubuhnya, Roffi berlangganan katering seharga Rp 70.000 per porsi, di luar ongkos kirim, selama empat bulan. ”Lumayan berat juga, tetapi mau bagaimana lagi, saya ingin sembuh,” kata Roffi.

Pola makan sembarangan juga membuat tubuh Hendra memberikan sinyal adanya penyakit. Sewaktu masih bekerja kantoran, Hendra memiliki kadar kolesterol dan asam urat yang tinggi. Ini terjadi karena dia sering kali tak bisa menghindar ketika mengajak atau diajak teman makan di restoran. ”Kalau sudah makan di restoran, yang dimakan pasti daging,” kata Hendra.

Takut kondisi tubuhnya semakin tak sehat, Hendra mulai memperbanyak konsumsi sayuran. Kebiasaan baru ini cukup terbantu dengan hobinya berkebun.

Hendra dan Roffi kemudian mengembangkan kebiasaan yang mereka lakukan menjadi bisnis yang berpengaruh positif kepada orang lain. Roffi membuka bisnis katering yang diberi nama Katering Hijau Organik.

Katering ini menyediakan berbagai menu dari produk organik untuk mereka yang mengidap penyakit tertentu, ibu menyusui, menu diet, termasuk untuk pengidap autis dan ADHD. Beberapa kali Roffi bahkan menerapkan program subsidi silang dengan memberikan pelayanan katering gratis untuk kalangan bawah.

Adapun Hendra bersama istrinya, Yosefina Skolastika, membuat rumah makan Sedap Alami, yang produknya berasal dari kebun sendiri.

Membiasakan diri mengonsumsi makanan sehat, dalam hal menjadi vegetarian, dijalani Andri (53) dan Budi Dharma Surya. Budi, yang merupakan master yoga, bahkan sudah meninggalkan daging, ikan, dan telur sejak tahun 1978. Budi pun kini merasa lebih sehat karena lebih banyak mengonsumsi sayur dan buah-buahan.

Pola hidup sehat

Kebiasaan orang-orang mengonsumsi makanan organik atau menjadi vegetarian dinilai dokter spesialis gizi klinik Samuel Oetoro sebagai pola makan yang baik. Tanpa kebiasaan ini, obesitas menjadi salah satu ancaman yang tak bisa dianggap remeh.

Kolesterol tinggi, darah tinggi, serangan jantung, dan serangkaian kondisi lain yang ditimbulkan dari obesitas membuat obesitas dikategorikan sebagai penyakit. ”Ancaman ini terjadi juga kepada anak-anak. Apalagi dengan banyaknya iklan junk food dan minuman kaleng yang menarik perhatian mereka,” kata Samuel.

Produk organik yang tak tersentuh bahan kimia, dinilai Samuel, memang menjadi bahan pangan yang baik untuk tubuh. Akan tetapi, jika bahan ini masih sulit didapat karena harganya mahal, bukan berarti pola makan sehat tak bisa dilakukan.

”Dengan makanan seadanya yang dijual di sekitar kantor, kita juga bisa makan sehat. Pilih saja makanan yang banyak sayur, seperti gado-gado atau keredok. Jangan milih ayam goreng terus,” ujarnya.

Namun, Samuel mengingatkan, pola makan sehat tak menjamin seseorang bisa hidup sehat dan bugar. Ada empat faktor lain yang juga penting, yaitu berpikir sehat, istirahat sehat, aktivitas sehat, dan lingkungan sehat.

”Semuanya memiliki porsi yang sama untuk mewujudkan pola hidup sehat dan bugar. Tidak ada faktor yang pengaruhnya lebih dominan,” kata Samuel.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar