Jumat, 01 Juli 2011

Peluang Usaha Pertanian : Kreasi Boneka Tepung dan Sabun













Percampuran sabun mandi dan tepung terigu, ternyata mampu menghasilkan karya unik dan bernilai ekonomis. Di tangan Nurmawati, bahan yang murah meriah itu dibentuk menjadi aneka boneka labonte nan lucu.

Nama Nurmawati (42) warga asal jalan Sembilang no 31 C Polowijen, mulai dikenal sejak ia mengikuti sebuah pameran kerajinan di Malang Olympic Garden (MOG) empat bulan lalu.

Karyanya, boneka-boneka mungil yang dilengkapi pakaian daerah. Boneka ini terlihat menarik dan unik karena bahannya sederhana: sabun mandi dan tepung terigu. Usai pameran dan meraup untung lumayan besar, Nurmawati menerima banyak pesanan boneka itu.

“Saat ini, dari membuat boneka, kami bisa menambah penghasilan rumah tangga sekitar RP 1 juta hingga Rp 2 juta per bulan,” jelas ibu dua anak ini.

Perempuan yang juga mengajar ekstrakurikuler Pramuka di tiga SD dan SMP di Malang ini lantas mulai memproduksi boneka itu secara rutin di sebuah bengkel berukuran 2 x 2 meter di rumahnya. Sekitar 20 pasang boneka per hari itu dibuat secara rutin di sela-sela aktivitasnya yang padat. Sebab, selain memberi pelatihan pramuka di sore hari, sehari-hari Nurmawati bekerja di bagian pelayanan loket pembayaran listrik di PLN Polowijen.

“Membuat boneka ini sebenarnya mudah dan tidak membutuhkan bahan yang mahal. Yang terpenting harus bisa telaten,” ujarnya.

Ditambah Pewarna Kue

Dikatakan, tiap hari, ia hanya menghabiskan satu batang sabun mandi dan 0,5 kg tepung terigu untuk membuat puluhan boneka labonte tersebut. “Semula, sabun batangan dicacah dan direndam air selama 2-3 jam, hingga sabun yang direndam tersebut tercampur dengan air dan menjadi halus,” jelas Nurma yang terlihat cekatan membuat adonan.

Setelah itu, sabun yang telah menjadi halus tersebut dicampur dengan tepung terigu secukupnya hingga adonan benar-benar lembut seperti lilin malam. Adonan tersebut lantas dicampur dengan pewarna kue untuk mendapatkan warna sesuai dengan bentuk boneka yang akan dibuat.

Setelah boneka dibuat, boneka itu dikeringkan kemudian disemprot pernis atau cat agar tahan lama dan tidak berjamur.

“Untuk mendapatkan kesan yang lebih cantik, biasanya saya menambahkan kain perca, gliter, ataupun pernak-pernik yang bisa melahirkan kesan hidup untuk boneka saya,” kata Nurma.

Setelah terlihat cantik, Nurma mulai mengemasi boneka tersebut. Namun masalah kemasan, Nurma menyerahkannya pada suaminya, Revizal. Sang suami yang mahir dalam dalam kreasi kemasan, berupaya agar boneka bikinan istrinya dilirik orang. Salah satu yang ia lakukan adalah membuat ‘api unggun’. Dalam paket boneka bertema pramuka, di tengah boneka diselipkan lampu agar menyerupai api unggun sehingga hasilnya terlihat unik.

Genjot Produksi, Siap Ajarkan Keterampilan

BUSANA DAERAH - Kreasi boneka berbahan larutan sabun dan terigu (La Bunte) ini juga dibuat dengan model busana khas beberapa daerah di Nusantara.

Kreasi Nurmawati ini tidak melulu pada boneka. Ia juga mahir membuat hiasan bunga dan buah-buahan. Bahkan ia juga menerima pesanan sesuai keinginan pelanggan.

Ia pernah mendapat pesanan khusus dari dokter gigi berupa boneka berbentuk gigi. “Boneka gigi ini sebagai suvenir pasien yang datang dari luar negeri,” jelasnya.

Semula, Nurmawati tak menyangka jika hasil kreasinya itu sangat diminati warga di Kota Malang. Terlebih usaha membuat boneka ini berawal dari coba-coba. “Saat itu saya masih mengajar pelajaran keterampilan di sebuah sekolah. Saya harus mengasah ide agar siswa tidak bosan. Melalui teman, saya mendapatkan ide membuat boneka labunte,” terang Nurma, mengisahkan kejadian enam tahun lalu.

Setelah serius berguru membuat boneka labunte pada seorang teman, akhirnya ia berkreasi sendiri.

Kreasinya kian beragam hingga akhirnya ia tuangkan dalam buku keterampilan tingkat SD yang diterbikan oleh Dinas Pendidikan. “Akan tetapi, tampaknya tidak ada orang yang tertarik membuat boneka labunte. Alasan yang muncul karena boneka gampang berjamur,” terangnya.

Mendapati keluhan ini, Nurma tergelitik untuk bereksperimen agar boneka itu tidak bisa berjamur. Setelah coba sana sini, akhirnya ia menemukan cara bahwa boneka itu harus dicat semprot guna menangkal jamur. Atas temuan inilah, lantas ia tertarik memproduksi boneka mini itu.

Sebagai industri rumahan skala kecil, Nurma baru bisa memasarkan boneka buatannya saat ada undangan pameran dari satu tempat ke tempat lain saja. Namun, seiring waktu, Nurma mulai bisa menitipkan karyanya di galeri UMKM yang ada di kantor Dinas Koperasi dan UKM Kota Malang, di jalan Panji Suroso Malang. dari situlah para pengunjung yang menginginkan produknya bisa menghubungi melalui kartu nama yang di tinggalkan di samping hasil produksinya.

Kini, dengan permintaan yang makin tinggi, Nurma mengaku kewalahan karena keterbatasan tenaga kerja permodalan. Ia pun membuka pintu lebar-lebar bagi siapa saja yang tertarik untuk belajar bersama membuat boneka ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar