Kamis, 07 Juli 2011

Berita Pertanian : Swasembada Kedelai Sulit Tercapai

Produksi Turun
Medan. Produksi komoditas kedelai di Sumatera Utara (Sumut) terus mengalami penurunan pada Angka Ramalan (Aram) II tahun 2011 menjadi 7.949 ton dari tahun sebelumnya 9.439 ton. Hal ini disebabkan, sedikitnya luas panen petani dan harga jual kedelai yang belum berpihak ke petani lokal.

Kabid Program Dinas Pertanian Sumut, Lusyantini mengatakan, saat ini harga kedelai impor lebih murah dibandingkan dengan kedelai lokal. Untuk kedelai lokal, harga berada dikisaran Rp10.000 per kg, sedangkan kedelai impor di bawah Rp8.500 per kg.

“Padahal kalau ingin membuat petani bergairah mengembangkan tanaman kedelai, harga impor tersebut tidak boleh lebih rendah dari harga lokal. Idealnya harga kedelai lokal itu dikisaran Rp6.000 – Rp6.500 perkg,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (7/7).

Harga jual yang belum berpihak kepada petani ini, ungkapnya, menjadi kendala untuk meningkatkan produksi kedelai di Sumut dalam rangka mendorong program swasembada kedelai pada 2014. “Untuk mencapai swasembada itu, produksi kedelai harus meningkat sekitar minimal 25% setiap tahunnya, dan hal itu cukup sulit,” katanya.

Dia mengatakan, peningkatan produksi kedelai bisa didorong oleh beberapa faktor, di antaranya perluasan areal tanam, peningkatan produktivitas, dan pengamanan produktivitas. Namun, tetap jaminan harga di pasar harus bisa menguntungkan petani.

Saat ini, tidak hanya kedelai impor dari luar negeri yang masuk memenuhi kebutuhan di Sumut, tapi juga disuplai dari Jawa. Kebutuhan kedelai sudah mencapai 78.000 ton dalam setahun, tapi produksi lokal hanya mampu mencukupi kebutuhan sekitar 10.000 ton hingga 15.000 ton saja dalam setahunnya.

Jadi wajar saja, lanjut Lusi, untuk menutupi kebutuhan tersebut masyarakat masih menggunakan kedelai impor khususnya untuk memproduksi hasil industri yang menggunakan bahan baku kedelai.

Berdasarkan data Dinas Pertanian Sumut, luas panen kedelai dari tahun 2009 sempat mencapai 14.206 ton dengan luas panen 11.494 hektare dan tahun 2010 menurun menjadi 9.439 ton dan luas panen 7.803 hektare serta produktivitas 12,10 kwintal perhektare.

“Kalau dibandingkan Aram II ini, produksi kedelai Sumut turun hingga 50% dibandingkan produksi 2009 yang mencapai 14.206 ton. Sementara hingga Mei 2011 produksi kedelai petani telah mencapai 6.318 ton dari realisasi panen 5.112 hektare,” rincinya.

Menurutnya, daerah yang paling banyak menghasilkan kedelai di Sumut yakni Kabupaten Serdang Bedagai, Langkat, dan Deliserdang. Itupun masih belum cukup. Minimnya minat petani menanam kedelai, selain karena produktivitasnya rendah, juga disebabkan karena adanya persaingan dengan komoditas palawija lain seperti jagung dan ubi kayu. “Selain itu, kedelai belum sepenuhnya cocok ditanam di Sumut. Bahkan ada beberapa daerah yang tidak memproduksi kedelai,” jelasnya.

David, pedagang pusat pasar di Medan mengakui, memang saat ini pedagang banyak menjual kedelai impor dan juga dari Jawa dengan harga dipasaran masih stabil berkisar antara Rp7.000 hingga Rp9.000 per kg. “Jarang ada yang jual kedelai lokal,”katanya.

Dia mengaku, saat ini pasokan yang masuk padanya cukup stabil, tapi tidak menutup kemungkinan harga akan naik karena menjelang Lebaran biasanya harga kedelai selalu naik. “Memang saat ini belum bisa kita pastikan apakah harga akannaik atau tidak, karena sejauh ini penjualan dan permintaan masih stabil. Tapi kalau nanti permintaannya meningkat tajam, bukan tak mungkin harganya akan naik,” ujarnya.

Masih stabilnya harga kedelai juga Wan Siang, pedagang grosiran di Pasar Simpang Limun. “Harganya masih berada pada kisaran Rp7.000 sampai Rp7.500 per kg. Dan hingga sejauh ini permintaan pasar masih stabil, belum ada peningkatan. Sedangkan kedelai yang paling diminati konsumen merupakan kedelai impor yang berasal dari Australia dan Amerika, karena ukurannya lebih besar daripada kedelai lokal,” katanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar