Senin, 04 Juli 2011

Bagaimana mau Swasembada kalau Impor terus Naik?

JAKARTA. Target swasembada pangan pada 2014 dikhawatirkan gagal. Ketergantungan Indonesia terhadap produk impor sampai saat ini masih cukup besar.

Anggota DPR Sukiman mengaku pesimistis dengan pencapaian swasembada yang dicanangkan pemerintah tersebut. Pasalnya, kebijakan itu bertolak belakang dengan fakta di lapangan.

Ia mencontohkan impor daging sapi yang terus meningkat setiap tahun. Pada tahun 2010, misalnya Indonesia mengimpor 50 ribu ton daging sapi, dan volume impor itu meningkat menjadi 72 ribu ton pada tahun ini.

"Kalau mau konsisten, impor pada 2011 itu seharusnya di bawah 50 ribu ton,” tegas Sukiman, seusai menjadi pembicara pada seminar nasional yang diselenggarakan Balai Karantina Pertanian Pontianak, Senin (4/7).

Anggota Komisi IV ini mencium aroma praktik tidak sehat dalam pengadaan daging sapi impor.

Indikasinya, antara lain adanya ketidaksinkronan data yang dimiliki pemerintah dengan kebutuhan pasar yang sebenarnya.

Menurut Sukiman pemerintah berdalih terjadi peningkatan kebutuhan daging sapi, yakni dari 10 ribu ton sebulan pada 2010 menjadi 13 ribu ton sebulan pada 2011. Padahal, asosiasi pedagang ternak mengeluhkan anjloknya harga daging sapi.

Itu menandakan pasokan daging sapi di pasaran lokal cukup melimpah.

"Jadi, tidak ada kenaikan kebutuhan secara signifikan. Untuk konsumsi masyarakat maupun kebutuhan industri," jelasnya.

Anggota DPR asal Kalimantan Barat ini mengungkapkan karut-marut itu terjadi karena pemerintah tidak memiliki data valid mengenai neraca produksi dan konsumsi daging sapi nasional.

Akibatnya, pemerintah gamang dalam mengambil kebijakan sehingga mudah dipermainkan para importir.

"Pemerintah ditakut-takuti dengan bayangan defisit daging sapi yang dapat mengganggu kebutuhan masyarakat dan sektor industri," ungkapnya.

Sukiman menantang pemerintah membongkrak dugaan praktik mafia dalam pengadaan sapi impor tersebut. Sebab, praktik yang telah berlangsung selama puluhan tahun itu sangat merugikan peternak lokal dan mengancam swasembada daging. (Micom)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar