Senin, 04 Juli 2011

Sukun, Menopang Lingkungan dan Pangan












Tanaman sukun terkenal di seluruh dunia. Ia termasuk famili Moraceae yang berjuluk breadfruit atau buah roti. Selain menjadi makanan alternatif pengganti nasi, tanaman sukun berfungsi sebagai konservasi.

Nama itu cocok untuk sukun karena rasa daging buahnya yang pulen bagai roti. Apalagi buah yang dimanfaatkan sebagai makanan alternatif pengganti beras ini dijual dengan harga cukup terjangkau. Bahkan ke depan, buah tersebut akan memiliki posisi tawar.

"Selain untuk konservasi lahan, tanaman sukun juga berfungsi sebagai penopang cadangan pangan," kata Kepala Seksi Produksi dan Pengembangan Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Peternakan Lampung Utara Murdoko, akhir pekan lalu.

Menurut Murdoko, tanaman sukun (Artocarpus altilis) memiliki multifungsi. Selain perakarannya kuat, tajuknya yang lebar dapat menahan erosi. Yang paling penting, buahnya mengandung karbohidrat dan protein, juga komponen gizi yang lain sehingga tanaman ini masuk kategori tanaman konservasi sekaligus tanaman yang dinilai mampu menopang ketahanan pangan.

"Tanaman sukun dikembangkan selain untuk konservasi, sekaligus juga untuk cadangan pangan," ujarnya sambil menikmati hidangan sukun goreng ditemani teh manis.

Penggunaan tanaman sukun sebagai tanaman konservasi sangat tepat. Di tengah hiruk pikuk isu pemanasan global yang menyebabkan turunnya produktivitas padi dan jagung di beberapa wilayah, seakan mendorong tanaman yang berbuah sepanjang tahun tersebut dikembangkan. Bukan hanya semata untuk penghijauan saja, melainkan lebih mengarah untuk persiapan cadangan makanan masa depan bila sewaktu-waktu terjadi kerawanan pangan.

"Pemanasan global memicu turunnya produktivitas padi dan jagung. Dampaknya, sudah terasa di Indonesia, termasuk Lampung yang ditandai dengan tidak menentunya musim. Hal ini mendorong pemerintah melakukan penghijauan sekaligus mengantisipasi terjadinya kerawanan pangan. Dan, sukun menjadi salah tanaman alternatif yang masuk dalam program tersebut," kata Murdoko.

Bernilai Jual

Dari sisi ekonomi, pengolahan sukun masih cukup cerah. Salah satunya untuk bahan tepung dan bila dikreasi pembuatannya, dapat dijadikan kue atau mi yang memiliki cita rasa khas dan nilai jual. Dari sini saja, terbayang produk home industry yang akan menyerap banyak tenaga kerja.

"Prospek pengembangan sukun masih cukup cerah. Hanya saja, pengolahannya tidak didukung dengan sumber daya manusia yang memadai dan pasar yang menjanjikan," ujarnya.

Baginya, bila pengolahan sukun tidak disosialisasikan dan dikembangkan secara optimal, potensi sukun yang menjanjikan ini hanya berakhir di wajan penggorengan.

Budi Daya

Sebagai tanaman tropis, sukun hampir dapat tumbuh di semua daerah di Indonesia. Sukun dapat tumbuh di dataran rendah (0 m) hingga dataran tinggi (700 mdpl). Pertumbuhan optimal pada suhu dengan kisaran 20—40 derajat Celsius. Daerah dingin kurang mendukung pertumbuhan tanaman sukun. Kalaupun mampu tumbuh, sukun tidak akan berbuah optimal, tetapi cenderung menghasilkan daun rimbun.

Kelembapan udara yang diinginkan sukun ialah 70%—90%. Kelembapan penting untuk menunjang pertumbuhan, pembungaan, dan pembesaran buah. Sewaktu muda tanaman sukun lebih senang ternaungi, tetapi setelah dewasa sukun membutuhkan sinar matahari penuh.

Sukun dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, seperti podsolik merah kuning, tanah berkapur, dan rawa pasang surut. Namun, tanaman sukun akan berproduksi lebih baik pada tanah aluvial yang kaya humus.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar