Kamis, 07 Juli 2011

Berita Pertanian : Lampung Utara Kembangkan Kopi Lowo










Liwa, Lampung
. Kabupaten Lampung Utara tengah mengembangkan industri bubuk kopi lowo (kelelawar). "Industri kopi lowo sudah ada sejak setahun lalu, dan jenis produk kopi lowo tergolong unik sebab jumlah produksi kopi bubuk tersebut terbatas," kata Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian Lampung Utara, melalui staf Deni Afrian di Bandarlampung, Rabu (6/7).
Dia menjelaskan, peminat kopi lowo meningkat setiap harinya. Menurut dia, kualitas kopi lowo terbaik, sehingga mampu bersaing dari produk kopi yang ada dipasaran.

"Di Lampung Utara baru ada satu perajin kopi lowo yang mengembangkan industri ini, dan ke depan kami akan membina perajin tersebut, untuk meningkatkan produksi kopi lowo, sehingga kedepan Lampung Utara menjadi daerah penghasil industri kopi unik di Lampung," kata dia lagi.
Kemudian, lanjut Deni, produksi kopi lowo akan meningkat bila memasuki panen raya kopi.

"Persaingan industri kopi semakin ketat dipasaran, sehingga dituntut perajin kopi untuk lebih kreatif mengembangkan produk olahan kopi, dan satu satunya produk kopi yang berasal dari kelawar hanya ada di Lampung Utara," katanya.

Kopi lowo dihasilkan dari sisa makan kelelawar, di mana kopi tersebut dapat ditemui diarea kebun kopi yang tidak jauh dari tanaman. Ide pembuatan kopi lowo tersebut, didasari dengan semakin banyaknya buah kopi yang dimakan kelelawar dan terbuang sia sia, sehingga perajin itu mengumpulkan buah kopi tersebut yang kemudian diolah menjadi bubuk kopi.

Kualitas kopi lowo tergolong baik, sebab kopi yang telah dimakan kelelawar tersebut menjadi kopi pilihan yang sudah masak, sehingga kualitas bubuk kopi terjamin.

Data menyebutkan luas area perkebunan kopi Lampung Utara mencapai 22,639 hektare, dengan total produksi mencapai 22,89 ton pertahun. Kopi bukan menjadi komoditas unggulan di daerah ini, sehingga produksi kopi kering terbatas.

Harga kopi lowo mencapai Rp120 ribu perkilogram, rata-rata perajin memproduksi kopi lowo mencapai lima hingga 10 kilogram setiap bulannya, jumlah tersebut akan meningkat bila perajin mendapat pesanan dengan jumlah besar.

Mahalnya kopi lowo diakibatkan sulitnya mencari kopi yang berasal dari sisa kelelawar, selain itu perajin juga harus memiliki ketelatenan dalam mengumpulkan satu persatu biji kopi yang berada di tanah, dan mengumpulkan satu kilo kopi lowo perajin membutuhkan waktu tiga hari lebih, dengan alasan itu, membuat harga kopi lowo lebih mahal dari kopi biasa.

"Saya berharap produk yang ditawarkan oleh Kabupaten Lampung Utara dapat diterima baik oleh pasar, sehingga kedepan produksi kopi lowo dapat semakin meningkat, dan menjadi icon bagi daerah ini," katanya. (ant)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar