Jakarta. Kenaikan nyata pendapatan masyarakat berpengaruh positif terhadap permintaan buah-buahan secara nasional dalam lima tahun terakhir, karena kenaikan permintaan komoditas hortikultura itu juga meningkat berkisar 12-15 persen pertahun.

Wakil Menteri Pertanian, Bayu Krisnamurthi di Jakarta, Senin, mengatakan, "Permintaan buah-buahan di dalam negeri tersebut seiring dengan naiknya tingkat konsumsi buah di masyarakat."

"Kenaikan pendapatan dan tingkat kesadaran masyarakat terhadap kesehatan merupakan pendorong peningkatan permintaan buah-buahan," katanya.

Dia menjadi partisipan kunci dalam gelaran Obrolan Santai Gemari Buah-buahan Indonesia, yang digelar Himpunan Alumni Institut Pertanian Bogor. Gelaran itu dilaksanakan untuk meningkatkan konsumsi buah domestik.

Ketua Panitia Pelaksana gelaran itu, Ahmad Mukhlis Yusuf, mengatakan, pada acara tersebut akan dibagikan 20.000 bibit buah-buahan dan disediakan 100 gerobak berisi buah-buahan domestik.

"Kita juga akan mengusulkan kepada pemerintah agar ditetapkan Hari Buah Nasional serta memanfaatkan buah-buah lokal untuk konsumsi pada acara-acara resmi pemerintah/kenergaraan," katanya.

Pada tahun lalu produksi buah nasional 19,03 juta ton sedangkan impor hanya 667 ribu ton sementara ekspor buah Indonesia 276 ribu ton. Ekspor buah nasional terdiri dari manggis, nanas, mangga, dan rambutan yang semuanya buah-buahan musiman.

"Impor buah sebenarnya masih sangat kecil dibandingkan produksi nasional yakni hanya 3,5 persen pada 2010," katanya.

Menyinggung pola konsumsi buah-buahan di dalam negeri, Krisnamurthi menyatakan, adalah buah-buahan untuk konsumsi rumah tangga, buah meja, konsumsi sehari-hari, dan buah-buahan bagi aspek kesehatan.

Buah yang dikonsumsi untuk buah meja itu berupa pisang, jeruk, apel, pepayan, salak dan pir. Pangsa konsumsi buah untuk rumah tangga ini, menurut dia, mencapai 35-40 persen dari total konsumsi buah-buahan nasional.

Kemudian konsumsi hotel, restoran, dan katering yang mencapai 20 persen dari konsumsi buah nasional umumnya meliputi pepaya, semangka, melon, nanas dan alpukat.

Sedangkan konsumsi buah untuk industri mencapai 30 persen, antara lain pada industri jus, minuman dan lain-lain jenisnya seperti jeruk, apel, mangga dan jambu.

Sementara itu konsumsi buah musiman atau eksotik yakni untuk acara atau musim tertentu hanya 10 persen.

"Konsumsi buah ini umumnya buah yang hanya ada secara musiman seperti mangga, durian, buah naga, sawo dan rambutan," katanya.

Upaya pemerintah memenuhi pertumbuhan permintaan buah-buahan baik pasar domestik atau internasional ini tetap digiatkan namun Indonesia masih terkendala musim sehingga tak mampu memproduksi secara sinambung.

"Padahal permintaan buah-buahan di pasar dunia tidak mengenal musim dan menuntut pasokan yang stabil," katanya.

Dia memberi ilustrasi Cina yang mampu memasok pasar buah dunia, karena negara itu terdiri dari dua bagian yakni utara dan selatan dengan musim panen buah berbeda.

"Kondisi tersebut mengakibatkan Cina mampu memasok pasar buah dunia secara sinambung sepanjang tahun," katanya.