Kamis, 28 Juli 2011

Isu Keragaman Pangan Hanya Berlaku di Indonesia

Jakarta. Sekretaris Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Indroyono Susilo menyatakan, masalah keanekaragaman (diversifikasi) jenis bahan pangan untuk dikonsumsi sebenarnya bukan isu dunia di bidang ketahanan pangan. Diversifikasi pangan hanya menjadi milik Indonesia yang budayanya adalah makan nasi.

"Kalau saya jualan di FAO, tidak laku karena isu keanekaragaman pangan itu cuma milik Indonesia," katanya pada acara diskusi ketahanan pangan untuk mengatasi kemiskinan di Hotel Cemara, Menteng, Jakarta, Rabu (27/7).

Menurut Indroyono, faktor kebudayaan masyarakat Indonesia lah yang menjadi faktor penunjang Indonesia sangat sulit untuk diversifikasi pangan. Kebanyakan masyarakat Indonesia harus selalu memakan nasi di setiap waktu makannya. "Pagi makan kentang, timun, pakai nasi. Siang, makan daging, mie, pakai nasi. Malam juga seperti itu," ujarnya.

Indroyono menjelaskan, Indonesia memiliki keanekaragaman tumbuhan yang sangat beragam dan dari tanaman tersebut banyak sekali tanaman pangan yang mengandung sumber karbohidrat yang dapat dikonsumsi untuk menggantikan nasi. Menurutnya, ada sekitar 60 jenis bahan pangan sumber karbohidrat yang ada di Indonesia.

"Orang Indonesia kebanyakan makan nasi, padahal ada 60 jenis makanan karbohidrat, dari kentang, singkong, sagu, terigu, dan lain-lain, tapi semua makan nasi," imbuhnya.

Indroyono mengungkapkan, Indonesia masih kalah jauh dalam urusan diversifikasi dari Jepang yang sudah mampu mengurangi konsumsi beras sampai dengan di bawah 100 kg per kapita per kg. Sedangkan konsumsi beras Indonesia masih sekitar 139 kg per kapita per tahun.

Lakukan Kampanye

Sementara itu, Sekretaris Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian, Hermanto mengatakan, pemerintah sudah melakukan kampanye untuk mengurangi konsumsi beras nasional minimal sampai dengan 100 kg per kapita per tahun yang sebenarnya dapat dikatakan ideal.

Namun, hal tersebut masih terlalu jauh, bahkan butuh waktu sampai dengan 18-19 tahun untuk mengurangi ketergantungan masyarakat pada beras.

Menurut Hermanto, pihaknya telah memiliki program untuk mengurangi konsumsi beras 1,5% setiap tahunnya dengan target sampai dengan 2015 konsumsi Indonesia sampai di angka 100 kg per kapita per tahun. "Kita menyarankan penurunan konsumsi beras sampai dengan 1,5% per tahun karena kita sudah sedemikian tingginya ketergantungan beras," katanya pada acara yang sama.

Hermanto menjelaskan, kampanye untuk menurunkan konsumsi beras ini dilakukan salah satunya dengan memberikan pengetahuan gizi.

"Penurunan beras itu harus diimbangi peningkatan gizi di tempat yang lain kan," ujarnya.

Swasembada

Dikesempatan yang sama, Hermanto juga menyatakan bahwa swasembada beras di Indonesia masih terjadi sporadis atau tak terjadi setiap tahun. Beberapa cara untuk mengejar swasembada beras berkesinambungan itu antaralain menggenjot produksinya dan mengurangi konsumsi beras masyarakat.

Dikatakannya, Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang dapat dikonsumsi sebagai bahan pangan, seperti umbi-umbian. Karena itu, seharusnya diversifikasi bahan pangan sudah mulai dilakukan sejak masa penanaman.

"Potensi kita di daerah untuk umbi-umbian bisa kita manfaatkan. Itulah maksudnya, mulai dari diversifikasi produksinya sampai konsumsinya," katanya.

Menurut Hermanto, cara tersebut bisa dijadikan salah satu program untuk mencapai swasembada beras yang ditargetkan pada tahun 2014. Keterbatasan lahan yang dimiliki Indonesia untuk menambah jumlah produksi beras dapat diakali dengan menurunkan konsumsi beras nasional.

"Swasembada beras itu ada 2 aspek, yang pertama peningkatan produksi, 1 lagi penurunan konsumsi. Jadi kalau dengan penurunan konsumsi, energi untuk meningkatkan produksi tidak terlalu berat," ungkapnya.

Lebih lanjut Hermanto menambahkan, melakukan keanekaragaman untuk menjaga ketahanan pangan nasional pun seharusnya sudah dilakukan mulai dari hulu sampai ke hilir. "Itulah ketahanan pangan, dari mulai menanam benih sampai menyuap," imbuhnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar