Selasa, 05 Juli 2011

Berita Pertanian : Pemkab Pesawaran Kembangkan "Kopi Tanduk"

Bandarlampung. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pesawaran, Propinsi Lampung mulai mengembangkan produksi kopi tanduk yang diproduksi dari tanaman kacang okra.

"Tanaman kacang okra yang sudah tua bijinya dapat di produksi menjadi bahan olahan kopi bubuk dan dikenalkan dengan kopi tanduk," ujar Kasubag Tata Usaha Badan Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP4K) Kabupaten Pesawaran, Edi Supriatna, disela-sela kegiatan Lampung Fair 2011 di Bandarlampung, Selasa (5/7).

Menurut dia, saat ini produksi kopi tanduk itu masih dikerjakan dalam skala industri rumah tangga karena belum lama diproduksi oleh kelompok wanita tani di daerah itu.

"Kelompok wanita tani tersebut merupakan binaan dari badan penyuluhan yang mulai mencoba pengembangan komoditas kacang okra menjadi kopi tanduk yang memiliki beberapa khasiat bagi yang meminumnya," ujar dia.

Ia menerangkan, kacang okra bentuknya mirip dengan oyong atau gambas, tapi okra agak berlendir dan enak dimakan sebagai sayuran segar. "Tanaman itu selain dapat diproduksi menjadi kopi tanduk, buah mudanya juga dapat dibuat sayuran yang nilai jualnya cukup tinggi," ujar dia.

Edi melanjutkan, kacang okra dapat tumbuh baik di dataran tinggi hingga 600 meter di atas permukaan laut ke atas, namun di dataran rendah juga dapat tumbuh dan berbuah, hanya saja umurnya lebih pendek dan produksinya lebih rendah. "Menanam tumbuhan itu tidak sulit, pengolahannya juga standar seperti menanam tanaman kacang-kacangan lain," kata dia.

Pengelolaannya, lanjutnya, pengolahan tanah yang kemudian diberi pupuk kandang sebanyak 40 kg per 100 meter persegi dan ditambahkan kapur dolomite 20 kg per 100 meter persegi agar pH yang diinginkan dapat sesuai. pupuk kandang bisa diganti dengan NPK sebanyak 25 hingga 30 kilogram.

"Okra ditanam melalui biji, langsung dimasukkan ke dalam lubang tanam sebanyak lima hingga enam biji setiap lubang dengan jarak tanam 60 x 120 cm. Setelah tumbuh diperjarang hingga tersisa dua sampai tiga batang per lubang, tentunya ditinggalkan yang kondisinya baik," terangnya.

Ia menambahkan, pada musim kemarau disiram sesuai kebutuhan tanaman, bisa setiap hari atau seminggu dua kali tergantung kondisi tanah dan tanaman. (ant)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar