Senin, 18 Juli 2011

Berita Pertanian : Harga Gula Beranjak Naik











SURABAYA.
Petani tebu rakyat di Jawa Timur (Jatim) mampu bernapas lega seiring merangkak naiknya harga gula internasional. Pekan kemarin, fluktuasi harga gula internasional mempengaruhi hasil harga tender 11.900 ton gula milik petani di lingkungan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI. Mencapai Rp 8.325 per (kilogram) hingga Rp 8.501,50 per kg.

Jika dibandingkan dengan lelang pada Juni 2011, maka hasil lelang pada Rabu menunjukan kenaikan. Pada awal juni, harga tender gula petani hanya Rp7.125 - Rp7.200 per kg. Yang tersu membaik dengan hasil pada minggu ke-4 Juni 2011, di posisi Rp8.050-Rp. 8.215.

"Kenaikan harga tampaknya dipicu pula oleh lonjakan harga dunia dalam beberapa hari belakangan yang cenderung liar," kata Adig Suwandi, Sekretaris PTPN XI kemarin.

Menurutnya, sebagian eskalasi harga dipicu mulai berkurangnya stok dari hasil giling 2010. Pada penutupan Bursa Berjangka London Tabu, Rabu, 13 Juli, gula untuk pengapalan Agustus 2011 diperdagangkan pada level USD876,30 per ton FOB (harga di negara asal, belum termasuk biaya pengapalan dan premium). Sedangkan harga untuk pengapalan Agustus dan Oktober 2011, masing-masing sebesar USD790,30 dan USD750,10.

Tender gula petani di lingkungan PTPN XI yang di gelar pada Rabu, 13 Juli, dihadiri 33 dari 36 perusahaan yang diundang. Harga yang terbentuk untuk 2.850 ton binaan pabrik gula (PG) wilayah Madiun Rp8.410 kg; 4.360 ton untuk wilayah Timur sebesar Rp8.325 per kg; 2.950 ton dari PG Semboro berhasil mencapai Rp8.501,50; dan 1.740 ton dari Djatiroto tercatat 8.325 per kg.

"Harga gula Semboro yang lebih tinggi dinilai wajar menginat proses produksinya telah mengalami perubahan dari sulfitasi ke remelt karbonatasi sehingga sudah setara semi-rafinasi, jelas Adig.

Dia berharap pembentukan harga terbaru ini mampu memotivasi petani tebu untuk terus meningkatkan produktivitas melalui best practices dan ekspansi areal.

Selain itu, petani tebu dan PG terus meminta agar pemerintah semakin pro aktif dalam upaya memposisikan peruntukan gula rafinasi di masyarakat.

Jangan sampai terjadi lagi lagi gula rafinasi yang seharusnya hanya untuk keperluan bahan baku industri pangan (makanan dan minuman) masuk ke pasar eceran dengan memperlakukannya sebagai gula eceran sehingga menjadi kompititor tidak sehat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar