Minggu, 28 Agustus 2011

Program Mina Padi Tambah Nilai Petani

Tidak sulit untuk menambah pendapatan petani, karena dengan hanya memanfaatkan lahan yang ada dari pertanaman padi selama ini dapat dikembangkan budidaya ikan dan kepiting. Seperti halnya yang sedang dilakukan Legino pemilik CV Sido Makmur di Dusun VI Desa Tanjung Rejo Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deliserdang. Di atas luas lahan 75 rante tanaman padi miliknya dan beberapa petani binaan, Legino juga memasukkan 50.000 ekor bibit ikan nila dan 1.500 ekor bibit kepiting.
"Lahan padi yang dikembangkan ini untuk pembibitan seluas 55 rante dan sisanya tanaman padi konsumsi serta juga budidaya ikan nila dan kepiting," ujarnya.

Program mina padi, katanya, baru saja dikembangkan pada Mei 2011 dengan melakukan kerjasama Universitas Al Washliyah jurusan pertanian dan Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sumatera Utara. Dengan program ini, petani tidak hanya dapat mendapatkan keuntungan dari hasil tanaman padi nya saja, tapi juga dari pemasaran ikan dan kepiting yang dibudidayakan.

Memang, diakui Legino, agak sulit mengajak petani sekitar untuk mengikuti program yang sedang dijalankannya ini. Banyak yang membayangkan mina padi ini akan menganggu produktivitas tanaman padi karena ikan dapat menghambat perkembangannya. Padahal, dengan adanya pengembangan ikan dilahan yang sama dengan tanaman padi, malah membuat semakin subur tanaman dan membantu membasmi hama yang datang.

"Mina padi ini sudah banyak dikembangkan petani yang ada di Jawa. Tapi banyak pada tanaman padi konsumsi, sedangkan dilahan tanaman untuk bibit padi baru ini dilakukan dan memang agak sulit," ungkapnya.

Legino yang selama ini juga mengembangkan padi non pestisida dan pengembangan bibit padi bersertifikat mulai tertarik melakukan mina padi karena melihat peluang yang banyak dan pastinya menguntungkan. Ternyata hidup saling bersama antara tanaman padi dan ikan tidak menganggu dan menambah nilai pendapatan petani yang mengembangkannya.

Ketua Kelompok Mina Padi, Yos Riman menambahkan, tanaman padi yang selama ini menggunakan bahan organik baik pupuk dan bahan pestisidanya tidak akan menggangu ikan atau mematikannya. Bahan-bahan pestisida nabati ini malah membuat ikan tumbuh dengan ukuran besar dan sebanyak 5.000 ekor ikan nila nanti siap panen pada Oktober mendatang.

"Mina padi ini saya kembangkan dilahan 2,5 rante dan didalamnya juga ada 5.000 ekor ikan nila. Hidup saling bergantungan antara padi dan ikan ini sangat menguntungkan karena masing-masing dapat berkembang dengan baik," jelasnya.

Bayangkan saja, kalau nanti ikan nila dapat dipanen, petani bisa mendapatkan uang tambahan dengan harga jual ikan rata-rata Rp 15.000/ekor. Apalagi kalau ditambah kepiting seperti dikembangkan Legino dengan harga jual Rp 45.000/kg saja, berapa banyak nantinya uang yang diperoleh.

"Ini masih keuntungan dari ikan, ditambah lagi dengan panen padi. Jadi tidak ada alasan petani itu hidup miskin, karena semua dapat dilakukan dengan memanfaatkan lahan yang ada, asal ada kemauan dan kerja keras," ucapnya.

Dijelaskan Legino kembali, minapadi merupakan salah satu tipe budidaya ikan di sawah yang mengintegrasikan tanaman padi dan ikan secara bersamaan. Keuntungan yang didapatkan dengan menggunakan teknik budidaya minapadi ini, lahan sawah menjadi subur dengan adanya kotoran ikan yang mengandung berbagai unsur hara, meningkatkan efisiensi penggunaan lahan, dan meningkatkan pendapatan petani.

" Melalui minapadi, gizi keluarga juga dapat terpenuhi dan resiko kegagalan panen dapat dikurangi," katanya.

Selain itu, minapadi dapat menjadi solusi paling baik dalam menghadapi perubahan iklim yang ekstrim seperti saat ini. Sebab, teknik budidaya minapadi terdiri dari dua metode yang bisa dilakukan sekaligus dalam satu musim tanam, yaitu metode penyelang dan metode tumpang sari.

Metode penyelang berarti pemeliharaan ikan di sawah menjelang penanaman padi seraya menunggu hasil semaian padi untuk dapat ditanam. Sedangkan metode tanam tumpang sari adalah pemeliharaan ikan atau udang bersama padi pada satu hamparan.

"Budidaya minapadi mudah selain itu murah sehingga petani tidak terlalu mengeluarkan banyak modal baik untuk tenaga dan biaya," pungkasnya.


Di luas lahan 3 hektare, Legino juga ikut mengembangkan bibit padi berlabel. Karena saat ini dinilainya, petani masih saja enggan menggunakan bibit tanaman berlabel yang jelas lebih berkualitas. Namun begitupun, ia dan beberapa petani penangkar bibit tanaman padi lainnya mengharapkan pemerintah untuk lebih memberi perhatian dalam melakukan sosialisasi dan pemasaran kepada petani.Dikatakannya, saat ini ia telah memiliki 200 ton benih berlabel dari 40 hektare lahan binaan petani. Sedangkan pasokan bibit yang ada untuk varietas Chierang dan bestari masing-masing sebanyak 15 ton label biru dengan harga jual Rp 7.300/kg. "Ini bibit padi non pestisida," imbuhnya.
Untuk padi berlabel ini memang masih hanya sekitar 10% saja dan ini sangat disayangkan karena benih berlabel memiliki produktivitas tanaman tinggi berkisar 7 hingga 8 ton perhektare.

Pemerintah kata Legino, harus dapat menerima keberadaan penangkar benih, khususnya dalam sosialisasi dan pemasarannya. Karena dapat meningkatkan produksi tanaman pangan.

"Produktivitas dan pendapatan petani semakin meningkat, kalau saja semua mendukung penyebaran dan penggunaan benih berlabel," jelas Direktur CV Sido Makmur ini.

Dijelaskannya, dari benih berlabel kuning yang merupakan benih asal, label putih atau benih dasar, label ungu yakni benih pokok dan label biru merupakan benih sebar semua sudah tersedia di CV Sido Makmur untuk memenuhi kebutuhan petani. "Benih berlabel ini terdiri dari varietas ciherang sebanyak 20 ton, cibogo 20 ton dan padi bestari 100 ton," ungkapnya.

Menurut Legino, petani sudah seharusnya mengalihkan penggunaan ke bibit berlabel ungu karena memiliki produktivitas tinggi sekitar 7 hingga 9 ton perhektare. Namun, yang masih dikembangkan pemerintah masih bibit berlabel biru dan itupun sulit disosialisasikan ke petani.

Sedangkan untuk beras non pestisida sendiri, dari 60 hektare kelompok binaannya yang ada di enam desa dan 1 kecamatan ini sudah berkembang dan dapat memasok kebutuhan beras sebanyak 20 hingga 25 ton perbulan denga harga jual Rp 10.000/kg. "Pemasarannya memang masih kurang, dan selama ini kita banyak bekerjasama dengan perguruan tinggi," aku Legino.


Pemasaran Organik Masih Minim

Produk-produk pertanian organik di Indonesia khususnya Sumut, masih minim pemasaran. Ini membuat petani enggan mengembangkan tanamannya dengan menggunakan obat dan pupuk organik atau nonpestisida. Padahal, kata Legino, pengelolaan tanaman dengan sistem organik sangat membantu kualitas produksi. Selain berkualitas untuk kesehatan masyarakat yang mengkonsumsi produk, bahan-bahan alami itu dapat mengembalikan kesuburan tanah.

"Produk organik sangat bermanfaat bagi kesehatan yang mengkonsumsinya karena memang bebas dari bahan-bahan kimia. Tapi pemasarannya masih sulit," ujarnya.

Dikatakannya, untuk beras organik misalnya, meski harga yang ditetapkan tidak terlalu mahal atau hanya berkisar Rp 10. 000 per kg, namun tetap saja belum banyak konsumen yang membelinya.

"Harganya tak jauh beda dengan beras nonorganik, bahkan bisa dikatakan lebih murah, tapi tetap saja pemasarannya masih sangat sulit, karena kesadaran masyrakat akan hidup sehat masih kurang dan pemerintah tidak ikut membantunya," katanya.

Kalau pemasarannya jelas, tambahnya, petani pasti banyak yang mengembangkan tanaman organik ini khususnya padi. "Seharusnya pemerintah membantu pemasarannya dengan mempromosikan produk organik yang kami hasilkan," ucapnya.

Banyak petani yang masih bingung pasar untuk menjual beras tersebut, padahal kesadaran mereka mengembangkan pertanian organik sudah tumbuh. Meski pun petani sadar, dengan organik unsur tanah akan subur dan hasil produk pertanian akan lebih berkualitas.

Konsultan dan Peneliti Pestisida dan Pupuk Sumut, Elianor Sembiring, mengatakan, pertanian organik mencegah hilangnya nutrisi dan air melalui tingginya kandungan bahan organik dan perlindungan tanah, sehingga tanah lebih tahan terhadap banjir, kekeringan dan proses degradasi tanah.

Menurut Elianor, hanya sekitar 5% saja petani dari total petani di Sumut yang baru menggunakan pupuk organik. Itupun karena telah mendapatkan dukungan dari pihak LSM atau organisasi pencinta organik serta perusahaan yang mengekspor hasil tanaman organik. Memang untuk pemakaian pertama keberhasilan pupuk organik hanya mencapai 25% saja, namun setelah pemakaian kedua dan selanjutnya akan dapat menggantikan 50% pupuk kimia.

"Kalau inisiatif dari petani sendiri itu belum ada. Lagipula arah konsumen kita masih memikirkan kuantitas dibandingkan kualitas," imbuh Elianor.


Pengembangan mina padi ini sangat lah membutuhkan perhatian dari pemerintah baik propinsi dan kabupaten/kota, baik dari sosialisasi dan bantuan lainnya. Sistem mina padi sudah seharusnya digalakkan dan berkembang karena terbukti meningkatkan produktivitas lahan, memacu kesuburan tanah dan air, sekaligus mengurangi hama penyakit pada tanaman padi. Menurut Legino, para petani tinggal memilih jenis ikan budidaya yang tepat untuk diintegrasikan dengan lahan padinya.
"Tapi ini juga perlu dukungan dari pemerintah. Karena petani tidak hanya menghandalkan dari produksi padi tapi juga dari ikan nya. Pemerintah bisa membantu sosialisasi, pembinaan dan juga pemberian bibit ikan kepada petani," katanya.

Mina padi ini, sangat baik dan solusi untuk petani dalam meningkatkan pendapatannya. Dari ikan-ikan yang dipelihara menghasilkan kotoran humus sehingga lahan menjadi lebih subur. Tapi pemerintah juga harus tahu, kata Legino, petani masih banyak yang ragu dalam melakukan usaha mina padi karena dikhawatirkan menggangu tanaman padi. Untuk itulah, perlu nya sosialisasi karena mina padi justru bisa bermanfaat mencegah hama wereng dan lahan bertambah subur.

Di Pulau Jawa, teknik budi daya ikan air tawar yang ditumpangkan dengan pertanian padi di sawah sudah dipraktikkan lebih dari seabad dan diandalkan untuk meningkatkan pendapatan dengan hasil ganda yang diperoleh disatu kali musim tanam. Namun di Sumut sendiri, program usaha mina padi masih sedikit sekali dilakukan, apalagi pada tanaman bibit padi.

Teknik budidaya minapadi ini sebenarnya tidak sulit. Yang perlu diperhatikan dalam pembudidayaan ikan dengan teknik budidaya minapadi ini adalah jenis padi dari varietas unggul dan jenis ikan yang mempunyai daya serap dan nilai ekonomis tinggi. Pemilihan jenis ikan juga perlu memperhatikan ketersedian air, benih, pakan dan pangsa pasar dari ikan yang dipelihara.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar