Minggu, 28 Agustus 2011

Berita Pertanian : Gudang Bulog Didominasi Beras Impor











Jakarta
. Perum Bulog seharusnya menyerap beras-beras dari petani lokal. Namun kenyataannya hampir seluruh beras yang terdapat di salah satu gudang besar Bulog di Sidoarjo, Jawa Timur dipenuhi oleh beras impor. Sebanyak 289.000 ton beras yang ada di gudang tersebut merupakan beras impor.

Anggota DPR RI Komisi IV F-PKS, Rofi Munawar menyebutkan, ketika dirinya mengunjungi gudang beras Bulog Sidoarjo, Jawa Timur ditemukan 290.000 ton beras. Dari jumlah itu, hanya 1.000 ton yang berasal dari petani lokal.

"Temuan ini cukup ironis, impor beras yang dilakukan oleh Bulog ternyata dilakukan hanya untuk memenuhi gudang-gudang dengan beras dari negara lain. Ini semakin menegaskan bahwa keamanan dan ketahanan pangan kita bergantung dari impor," katanya seperti yang dikutip dari siaran pers yang diterima detikFinance, Sabtu (27/8).

Menurut Rofi, Perum Bulog seharusnya menjadi bantalan stok beras nasional dengan menyerap beras dari petani lokal. Namun, dengan lebih dominannya beras impor yang ada di gudang Bulog ini membuat beras-beras lokal menjadi tidak berharga.

"Seharusnya gudang Bulog dipenuhi dengan beras dari petani lokal, adapun beras impor hanya pelengkap. Namun, apa yang terjadi justru berbeda 180 derajat, beras lokal terpuruk sedangkan beras impor mendominasi," tuturnya.

Rofi menyangka, temuan diri membanjirnya beras impor di gudang Bulog Sidoarjo, Jawa Timur, ini bukan tidak mungkin dapat ditemui di gudang-gudang Bulog lainnya. Apabila hal tersebut memang benar adanya, Rofi menilai perum Bulog tidak sungguh-sungguh dalam menyerap beras petani dalam negeri.

Gambaran Rendahnya Kesungguhan

"Temuan ini bukan tidak mungkin terjadi di gudang-gudang Bulog lainnya di seluruh Indonesia. Jika ini terjadi tentu menjadi sebuah gambaran rendahnya kesungguhan Bulog dalam menyerap beras dari petani lokal.

Seharusnya dengan infrastruktur yang dimiliki Bulog tidak sulit untuk menyerap gabah dari petani," imbuhnya.

Padahal Bulog memiliki Inpers No.8 tahun 2011 yang dapat membeli gabah dan beras petani sesuai dengan harga pasar dengan pantauan BPS. "Tetapi kenyataan di lapangan sebaliknya, ini menunjukkan pelaksanaan Inpres tersebut tidak efektif," tandasnya.

Dari catatan Rofi, pemerintah telah memastikan penghentian impor beras per 31 Maret 2011 dengan alasan masa panen raya padi sedang berlangsung dan dipastikan stok beras secara nasional cukup untuk 5-6 bulan ke depan. Namun, pemerintah tetap saja melakukan impor beras pada pertengahan Agustus lalu dari Vietnam.

"Kondisi itu tidak bertahan lama, empat bulan berselang ternyata pertengahan Agustus Bulog telah melakukan impor beras dari Vietnam sebesar 500.000 ton beras yang masuk dari 20 pelabuhan di seluruh indonesia.

Rofi juga mengtakan, pemerintah telah siap kembali memasukan beras dari Thailand pada September 2011 mendatang sebesar 300.000 ton. "Kemudian dilanjutkan di bulan September direncanakan impor beras dari Thailand sebesar 300.000 ton," tambahnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat selama Januari-Juni 2011 impor pangan Indonesia senilai US$ 5,36 miliar (kurang lebih Rp 45 triliun). Di 2011 Pemerintah memberikan kuota impor beras sekitar 1,5 juta ton. Realisasi impor beras ini akan dilakukan hingga Februari 2012. Saat ini sekitar 3.850 ton beras telah masuk, jika di total 800.000 ton beras diproyeksikan masuk selama 2011. (dtc/ant)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar