Rabu, 03 Agustus 2011

Gerakan Makan Ikan Berkontribusi Positif pada Nelayan

Jakarta. Program pemerintah agar semakin banyak warga yang memakan ikan akan berkontribusi positif bagi nelayan, apalagi jika gerakan itu diimbangi dengan peningkatan program pemberdayaan dan perlindungan nelayan.

“Inisiatif Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk menyosialisasikan program Gemarikan (gerakan memasyarakatkan makan ikan) itu relevan dengan kondisi Indonesia sebagai negara kepulauan,” kata Koordinator Program Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) Abdul Halim ketika dihubungi di Jakarta, Rabu (3/8).

Menurut Abdul Halim, relevansi program Gemarikan dapat dilihat dari daging ikan sebagai salah satu produk pangan yang diminati di banyak wilayah di Indonesia, seperti di daerah-daerah yang terletak di kawasan Indonesia bagian Timur.

Selain itu, masih menurut dia, program tersebut juga akan berkontribusi positif bila tidak terkesan tumpang tindih dan juga diselaraskan dengan program perlindungan nelayan.

Ia mencontohkan, program Gemarikan akan berkontribusi positif bila pemerintah juga tidak mengizinkan praktik-praktik “water grabbing” atau penyerobotan lahan kawasan perairan.

Hal tersebut, lanjutnya, akan kontraproduktif terhadap gerakan untuk memasyarakatkan makan ikan karena penyerobotan kawasan perairan itu akan mempersulit nelayan untuk mencari ikan akibat dari praktik pengkavlingan laut.

Apalagi, ujar dia, Mahkamah Konstitusi telah membatalkan pasal-pasal terkait HP3 (Hak Pengusahaan Perairan Pesisir) dalam UU No 27/2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. “Program gemar makan ikan akan berkontribusi positif jika pembatalan pasal-pasal HP3 dalam UU 27/2007 dijalankan dengan sebenar-benarnya,” katanya.

Kiara sejak tahun 2008 juga ikut mempopulerkan gerakan makan ikan yang diselaraskan dengan kampanye terhadap perlindungan nelayan tradisional.

Sebelumnya, KKP telah mengalokasikan sekitar Rp10 miliar pada 2011 untuk menyosialisasikan program Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) di berbagai daerah di Tanah Air. “KKP telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp10 miliar untuk melakukan kegiatan sosialisasi Gemarikan secara nasional,” kata Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad dalam acara Safari Gemarikan di Jakarta, 13 Juli.

Fadel memaparkan, sebagai salah satu protein hewani, ikan memiliki banyak keunggulan dibanding protein hewani lainnya dan memiliki kandungan nutrisi yang relatif aman untuk balita hingga manula.

Berdasarkan data KKP, tingkat konsumsi ikan di Indonesia pada 2010 sebanyak 30,47 kilogram per kapita per tahun. Angka tersebut masih jauh dibanding Malaysia yang mencapai 30,47 kilogram per kapita tahun dan Singapura yang sebesar 37,9 kilogram per kapita per tahun. (ant)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar