Senin, 03 Oktober 2011

Untung Manis Pepaya California















Bukan hanya buahnya saja yang terasa manis, tapi keuntungan dari membudidayakan pepaya california ini pun sama manisnya. Inilah yang dirasakan Min, petani pepaya di Dusun II, Desa Bandar Labuhan, Tanjungmorawa. Di lahannya seluas satu hektare, ia menanam pepaya sebanyak 1.050 batang. Dengan produksi sekitar 5 ton sebulan, Min pun bisa mengantongi uang Rp 10 juta per bulan.

Sebelumnya, ia menanami lahannya itu dengan sayuran, namun karena hasilnya kurang memuaskannya, ia pun kemudian mengganti tanamannya dengan pepaya. Hasilnya sungguh tidak mengecewakan. Dengan modal awal sebesar Rp 6 juta, pepaya yang ia tanam kini telah berproduksi sekitar 5 ton setiap bulannya.

"Modal awal yang Rp 6 juta itu untuk keperluan membeli bibit, pupuk, dan ongkos penggemburan serta penanaman. Pengeluaran paling besar memang pada awal penanaman. Tapi selanjutnya, pengeluaran jauh berkurang sebab penggunaan pupuk juga bisa terus dikurangi, namun perawatan tetap harus dilakukan dengan baik," katanya kepada MedanBisnis, beberapa waktu yang lalu.

Dikatakannya, pada tahap awal ia melakukan penggemburan lahan dan pemupukan sebelum mulai ditanami dengan bibit yang baik. Dicontohkannya, jumlah pupuk kandang yang digunakan pada awal penanaman ini membutuhkan sebanyak 500 karung ukuran 50 kg yang harga setiap karungnya Rp 6.000. "Itu hanya untuk waktu pertama saja, selanjutnya jumlah pupuknya bisa dikurangi," katanya. Pemupukan hanya dilakukan 2,5 bulan sekali. Pada pemupukan berikutnya cukup menggunakan sebanyak 300 goni pupuk kandang.

Pemupukan secara teratur bisa memacu buah yang tumbuh menjadi lebih baik. Menurutnya, pada panen pertama, yaitu ketika tanaman berumur 6 bulan dengan tinggi pohon sekitar 2 meter, buah bisa tumbuh pada batang 40 cm dari tanah.




Pepaya california merupakan buah yang cukup digemari masyarakat lantaran rasanya yang manis dan harga yang sangat terjangkau. Buah tersebut bisa ditemukan di supermarket besar maupun di pasar tradisional di Sibolga, Nias, Batam, Pekanbaru, Palembang, Jambi dan tentu saja di Medan.
Masyarakat sudah bisa mendapatkan manfaat besar dari kandungan gizi di dalamnya, antara lain vitamin, betakaroten (anti oksidan), protein, lemak dan berbagai enzim dan senyawa yang sangat berguna bagi tubuh manusia dengan hanya mengeluarkan uang sedikit karena harganya yang murah. Meski namanya "Pepaya California" namun buah ini bukanlah buah impor yang didatangkan dari benua Amerika, melainkan buah lokal yang berasal dari Dusun II, Desa Bandar Labuhan, Tanjungmorawa, Deliserdang, Sumatera Utara.

Menuju rumah salah seorang petani pepaya california bernama Min di Dusun II Desa Bandar Labuhan, terlihat di kanan dan kiri jalan berderet-deret pohon pepaya dengan buahnya yang masih menggantung dan siap dipetik. Berseling-seling dengan pepohonan kelapa, pohon pisang dan rumah warga. Oleh masyarakat sekitar, Pak Min lebih populer disapa dengan panggilan Min Cabai atau Min Pepaya.

Untuk menemukan rumahnya, dapat ditandai dengan lapangan bola di ujung sebelah kanan jalan. Lahan luas dengan tegakan pohon pepaya yang ditanam dengan jarak dua setengah kali dua meter dan di tengah-tengahnya terdapat satu rumah, di sana Min tinggal dengan keluarganya. Di sebelah kanan rumahnya terdapat tenda tempat pembibitan pepaya. Sedangkan sebelah kiri terdapat kebun cabai. Rumah tersebut dikelilingi dengan tanaman yang menghasilkan jutaan rupiah setiap bulannya, pepaya california.

Di teras rumahnya, Min menyuguhkan pepaya yang warna dagingnya merah menyala dengan rasa yang manis. Ukurannya tidak begitu besar. Menurutnya, karakter pepaya california memang demikian. Yaitu berkulit tebal dan permukaannya rata, dagingnya kenyal, tebal, dan manis rasanya, biji yang tidak terlalu banyak. Bobotnya berkisar antara 600 gram sampai dengan 2 kg. "Buahnya tidak begitu besar dan agak lonjong, panjangnya tak lebih dari 30 cm," ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa pohon pepaya california sudah bisa berbuah sejak tanaman berusia 6 bulan. Pada usia tersebut, tingginya tidak sampai 2 meter namun buah yang muncul sangat banyak. "Buahnya muncul di batang jaraknya dari tanah 40 cm- 50 cm sampai ke ujungnya," katanya. Menurutnya, pohon pepaya akan terus berbuah sampai usia lebih dari 5 tahun jika dengan perawatan yang baik. Sementara dengan perawatan seadanya, masa berbuah terjadi selama 2,5 tahun.

Dari tiap pohonnya, buah yang bisa dipetik sebanyak 3-4 buah. "Yang lainnya dipetik waktu berikutnya, sembari menunggunya lebih besar lagi," tambahnya. Menurutnya, selama 2,5 tahun setiap pohonnya bisa menghasilkan 600 - 700 buah. Ia berpendapat, pada umumnya pohon pepaya bisa mengalami masa trek yang mana pertumbuhan buah hanya sedikit pada waktu tertentu, namun hal itu bisa disiasati dengan perawatan yang baik. Untuk itu, ia melakukan pemupukan dengan menggunakan pupuk kandang dan pupuk ramah lingkungan (ramling).

"Saya tidak mau menggunakan pupuk kimia, karena pasti nanti akibatnya akan merusak tanaman dan tanahnya. Selain itu, masa untuk perbaikan tanahnya akan memakan waktu lama," ujarnya. Untuk pemupukan, dilakukan setiap 2,5 bulan sekali sebanyak 300 goni untuk lahan seluas 1 hektare dengan pohon sebanyak 1.050 batang.

Perawatan tersebut, selain untuk memompa produksi menjadi lebih besar, juga bisa mencegah dan mengurangi hama pepaya berupa kutu putih yang menyebabkan buah dan daun berkapur serta lalat buah yang bisa menyebabkan buah tidak bagus atau berjamur. Beberapa kendala yang biasa dialami tanaman pepaya adalah jika sudah terserang penyakit, daunnya mudah rontok, dan buah pepaya yang terserang jamur biasanya warnanya menjadi putih pucat, kulit buah tampak tidak segar.

Namun begitu, menurutnya, cara mengatasi hama tersebut tidaklah sukar. "Hama itu bisa diatasi dengan mudah," ujarnya.

Ia mengaku sudah sejak muda menjadi petani dan mengerti mengenai perawatan tanaman. Khusus mengenai pepaya california, ia mengaku bersedia membantu dan berbagi pengalaman untuk membudidayakannya.

Ia berpendapat, permintaan pepaya dari kebunnya sangat tinggi. Tidak hanya memenuhi permintaan dari Medan dan sekitarnya, pepaya dari kebunnya bahkan didistribusikan hingga Sibolga, Nias, Pekanbaru, Batam, Jambi dan Palembang. "Permintaan pepaya sangat tinggi, bahkan kadang kewalahan menerima pesanan," katanya.

Ia menjelaskan, pemesan dari Batam, setiap seminggu sekali datang mengambil pesanan sebanyak 1 ton. Sementara itu, pemesan dari beberapa toko buah di Medan dengan tempo yang sama, mengambil sebanyak rata-rata 0,5 ton. Dengan banyaknya permintaan pepaya, menurutnya, budidaya pepaya California sangat menjanjikan.
"Untungnya lebih banyak daripada tanaman sayuran, karena itu tidak salah pilihan beralih ke pepaya," katanya.

Di teras rumah Min sendiri juga terdapat ratusan buah pepaya yang baru dipetik dan dibungkus dengan kertas koran. Berat setiap buahnya rata-rata 1,2 kg dengan kulit buahnya masih berwarna hijau dan segar. Menurutnya, dalam beberapa hari, buah pepaya tersebut sudah matang dan siap untuk dinikmati. Pepaya tersebut sudah ada pemiliknya, yaitu pemesan dari salah satu toko buah di Medan. Buah tersebut dijualnya dengan harga Rp2.000/kg.

"Pepaya dari Dusun II, Bandar Labuhan ini nantinya masuk ke mal-mal di Medan dan daerah lain, tapi dengan merek lain yang bukan dari sini, dan harga jualnya jauh lebih tinggi," ujarnya.
Di Desa Bandar Labuhan, kata Min, paling tidak terdapat 10 hektare lahan pepaya milik warga yang buahnya didistribusikan keluar daerah. Karena itu, menurutnya, Bandar Labuhan sudah terkenal sebagai pusat budidaya pepaya.

Diakuinya, banyaknya permintaan buah pepaya california lantaran kualitas rasa yang baik. Selain rasa yang manis, pepaya California memiliki keunggulan yang lebih jika dibandingkan dengan beberapa varietas pepaya lainnya, yaitu tidak lembek meskipun sudah matang dan tidak berbau. "Buahnya merah, padat dan cita rasa yang segar," tambahnya.

Untuk memetik buah yang nama latinnya "Carica papaya" itu dari begitu banyak pohon, ia mengaku hanya dibantu oleh keluarganya. Ia tidak menggunakan tenaga pemetik dari luar karena ia dan keluarganya bisa melakukannya sendiri. Selain itu, bisa menghemat pengeluaran.
"Kita melakukan pemetikan hampir setiap hari, karena pesanan yang selalu datang dan kita tidak mau mengecewakan pelanggan," ujarnya.

Meskipun dari tiap pohonnya hanya bisa dipetik 3 - 4 buah saja dalam sebulan, namun ia dan keluarganya sudah bisa mendulang keuntungan manis dari membudidayakan pepaya california.


Ikut Menyediakan Bibit
Di pekarangan seluas satu hektare yang ditanami pepaya california, Min tidak hanya menerima pesanan pembelian buah pepaya. Di samping rumahnya, ia membuat pembibitan pepaya california dengan dibantu oleh anak dan istrinya.
"Sekarang ini, semakin banyak masyarakat yang berminat menanam pepaya california karena nilai jualnya yang tinggi," ujarnya kepada MedanBisnis beberapa waktu lalu di rumahnya di Dusun II, Desa Bandar Labuhan, Tanjungmorawa. Karena itu, menurutnya, peluang mendapatkan keuntungan juga bisa didapatkan dari menjual bibit.

Namun begitu, katanya, yang lebih utama dari menjual bibit adalah untuk berbagi pengalaman dalam membudidayakan buah yang berasal dari Amerika Tengah dan banyak tumbuh di Meksiko dan Costa Rica itu. Tanaman yang merupakan famili caricaceae ini, menurutnya, dapat dengan mudah tumbuh di daerah tropis maupun subtropis. Selain itu, tanaman buah ini bisa tumbuh dan berkembang di daerah-daerah basah dan kering, dataran rendah maupun dataran tinggi, seperti daerah pegunungan dengan ketinggian lebih dari 1.000 meter dari permukaan laut.

"Di sini siapapun bisa saja bertanya-tanya soal bagaimana membudidayakan pepaya california ini, mulai dari penyiapan lahan, pemilihan bibit, penanaman sampai bisa berbuah," tambahnya. Hal tersebut dilakukannya agar hubungan antara pembeli dan penyedia bibit tidak terputus. "Agar bisa terus komunikasi dan saling tukar informasi yang berkembang," katanya.

Ia menjelaskan selama ini pemesan bibit pepaya darinya berasal dari Batang Kuis, Tembung, Binjai, Pangkalan Brandan, sampai Aceh. "Khususnya Aceh, saat ini memang baru bibitnya yang masuk, sementara buahnya belum, tapi kalau daerah lainnya sudah," lanjutnya menambahi.

Pemesanan tersebut biasanya dalam jumlah ribuan. Namun ia juga menerima pesanan dalam jumlah yang lebih sedikit karena tidak semua orang yang berkeinginan menanam pepaya memiliki lahan yang luas. "Tapi kalau pesan, kasih tempo 1,5 bulan baru bisa ambil," ujarnya.

Hal tersebut, menurutnya, dikarenakan pembibitan mulai dari biji, di dalam polybag sampai tumbuh kecambah dan siap untuk dipindahkan ke tanah membutuhkan waktu sekitar 1,5 bulan. "Perlakuan semacam itu harus dilakukan agar bibit memiliki kualitas yang baik, dan produksi buah di tiap batangnya bisa lebih banyak," lanjutnya. Menurutnya, bibit yang baik juga didapatkan dari biji buah pilihan yang sudah matang.

Ratusan bibit yang berada di samping rumahnya, menurutnya, baru tumbuh kecambah dan dalam beberapa hari kemudian sudah bisa dipindahkan ke tanah. Pembibitan juga hanya dilakukan oleh dirinya dengan anak dan istrinya. Bibit-bibit tersebut dijualnya dengan harga yang cukup murah, yakni Rp 2.000/polybag. Bibit tersebut baru bisa dipindahkan ke tanah ketika berusia 15 hari. Pada usia itu, tingginya sudah mencapai 20 cm - 50 cm. "Baru setelah itu bisa ditanam ke tanah yang sebelumnya sudah digemburkan dan diberi pupuk kandang terlebih dahulu," katanya.

Penggunaan pupuk kandang, menurutnya, sangat dianjurkan karena dengan itu hasil produksi pertumbuhan buah dari tiap pohonnya bisa maksimal. "Kalau tanah di mana bibitnya tumbuh itu baik, niscaya hasilnya tidak akan mengecewakan, karena yang paling penting setelah kualitas bibit adalah perawatan yang juga telaten," tambahnya.

Perawatan yang baik dan mesti dilakukan itu antara lain dengan menjaga kebersihan lahan dari tumbuhnya rumput liar, menjaga drainase agar tidak ada genangan air, pemupukan dan penyiraman secara teratur ketika musim kemarau. "Perlakuan yang baik akan menghasilkan buah yang baik pula," pungkasnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar