Kamis, 20 Oktober 2011

Berita Pertanian : Petani Diminta Waspadai Penyakit Hawar Daun Bakteri

Medan. Memasuki musim penghujan, petani di Sumatera Utara (Sumut) diminta mewaspadai serangan penyakit hawar daun bakteri (HDB) pada tanaman padi.
"Penyakit HBD ini merupakan penyakit yang tersebar di berbagai ekosistem padi di negara-negara penghasil padi, termasuk di Indonesia," kata Kasie Bidang Data dan Perumusan Program Dinas Pertanian Sumut, Lusyantini ketika ditemui di kantornya di Medan, Rabu (19/10).

Dikatakannya, penyakit ini disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv.oryzae (Xoo). Patogen ini dapat menginfeksi tanaman padi pada semua fase pertumbuhan tanaman mulai dari persemaian sampai menjelang panen.

Penyebab penyakit (patogen) ini menginfeksi tanaman padi pada bagian daun melalui luka daun atau lubang alami berupa stomata yang merusak klorofil daun. Hal tersebut menyebabkan menurunnya kemampuan tanaman untuk melakukan fotosintesis. "Bila serangan terjadi pada awal pertumbuhan, tanaman menjadi layu dan mati, gejala ini disebut kresek," kata Lusi.

Sedangkan pada tanaman dewasa, lanjut dia, akan menimbulkan gejala hawar. Gejala ini mulai terlihat dari tepi daun, berwarna keabu-abuan dan lama-lama daun akan menjadi kering. Bila serangan terjadi saat berbunga, proses pengisian gabah menjadi tidak sempurna sehingga menyebabkan gabah tidak terisi penuh atau hampa. Pada kondisi seperti ini petani akan kehilangan hasil (pada proses pengisian gabah-red) antara 50 hingga 70 persen, jelas Lusi
Lebih lanjut dikatakannya, penyakit HBD sering timbul, terutama pada musim hujan. Selain itu, pertanaman yang dipupuk nitrogen (urea-red) dengan dosis tinggi tanpa diimbangi dengan pupuk Kalium (Kcl) menyebabkan tanaman lebih rentan terhadap penyakit ini. "Faktor lingkungan juga sangat berpengaruh terutama kelembaban yang tinggi sangat memacu perkembangan penyakit ini," tambahnya.

Untuk itu, katanya, guna menekan perkembangan penyakit ini, petani disarankan tidak memupuk tanaman dengan nitrogen secara berlebihan dan menggunakan pupuk Kalium. Selain itu, perlu diperhatikan agar lahan tidak tergenang terus menerus, sebaiknya pengairan dilakukan secara intermiten (berselang-red). "Kalau hal ini benar-benar diterapkan petani, hasil yang akan diperoleh lebih maksimal dan produksi padi petani akan meningkat," ungkapnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar