Minggu, 09 Oktober 2011

Berita Pertanian : 90% Padi di Indonesia Riset IRRI

Jakarta. Lembaga Penelitian Padi Internasional (International Rice Research Institute/IRRI) menyatakan, 90 persen dari luas total padi yang ditanam di Indonesia merupakan hasil riset institusi tersebut. Dewan Penyantun IRRI Achmad Suryana di Jakarta, Kamis (6/10) mengatakan, luas areal pertanaman padi di Indonesia saat ini sekitar 13 juta hektare yang mana ditanami padi varietas Ciherang, IR64, Cigeulis ataupun Mekongga.
"Pengembangan varietas padi tersebut tidak bisa dilepaskan dari kontribusi IRRI," katanya di sela-sela sidang ke-33 Menteri Pertanian dan Kehutanan Asean (AMAF).

Menurut dia, saat ini luas penanaman padi varietas Ciherang mencapai 41% dari areal tanam padi nasional, kemudian IR64 sekitar 19%. Sedangkan areal pertanaman yang memanfaatkan padi benar-benar dari lokal sangat kecil seperti Siam Unus di Kalimantan. Kontribusi IRRI dalam pengembangan padi di Indonesia, tambah Achmad yang juga Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian itu, antara lain dalam penyediaan material genetik untuk disilangkan guna menghasilkan varietas baru.

Selain itu juga menyiapkan tenaga-tenaga peneliti dalam menghasilkan padi varietas baru tersebut. "Namun demikian peneliti Indonesia juga aktif dalam kegiatan riset di IRRI yang berpusat di Los Banos, Filipina, itu," katanya.

Sementara itu seorang pemulia padi yang juga mantan peneliti IRRI, Buang Abdullah menyatakan, kerja sama IRRI dengan Indonesia dalam menghasilkan varietas padi unggul sudah terjalin puluhan tahun. Bahkan sejak 1996, tambahnya, Indonesia telah mengembangkan benih padi hasil penelitian lembaga riset tersebut yakni padi PB atau IR yang antara lain IR 36 dan IR 64.

Kepala Balai Besar Penelitian Padi Sukamandi Made Jana Mejaya mengatakan, jenis padi INPARA yang digunakan saat ini untuk mengantisipasi genangan juga hasil IRRI.

Siapkan Dana
Terkait kontribusi IRRI yang besar terhadap pertanian di tanah air tersebut maka mulai tahun ini Indonesia menyediakan dana iuran kepada lembaga riset internasional tersebut sebesar US$ 45.000 per tahun.

Menurut Achmad Suryana, pada masa Presiden Suharto sebenarnya Indonesia pernah secara rutin memberikan sumbangan iuran kepada IRRI, namun kemudian terhenti. "Kini kita kembali akan menyumbangkan dana kepada IRRI sebagai kontribusi sekaligus apresiasi Indonesia kepada lembaga tersebut," katanya.

Menyinggung besaran donasi yang diberikan Indonesia tersebut, Suryana menyatakan, nilai tersebut belum terlalu besar apalagi dibandingkan negara-negara maju yang menyisihkan dana hingga jutaan dolar.

Direktur Jenderal IRRI Robert S Zeigle, mengatakan pihaknya sangat membutuhkan kerja sama dengan semua negara, termasuk anggota ASEAN.

Menyinggung pendanaan dari anggota untuk kegiatan riset lembaga tersebut, dia menyatakan, hal itu bersifat sukarela, bahkan saat ini yang dana terbesar masih ditanggung oleh yayasan-yayasan sosial dunia. (ant)
0

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar