Senin, 03 Oktober 2011

Berita Pertanian : Dirjen Peternakan akan Merevisi Rekomendasi Impor Unggas

Kendalikan Oversuplai

Medan. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementrian Pertanian Indonesia akan segera merevisi surat rekomendasi impor unggas pada awal tahun 2012. Hal ini sebagai antisipasi terjadinya oversuplai bibit di Indonesia. Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Prabowo Respatiyo mengatakan, Indonesia saat ini sudah mencapai swasembada unggas yakni telur dan daging.

Namun sayangnya, tingginya produksi tidak diikuti dengan penyediaan bibit dan pakan unggas.
"Untuk itu kita berjanji akan mengendalikan impor bibit unggas atau pakan unggas tersebut. Ini perlu dilakukan supaya tidak terjadi oversuplai bibit di Indonesia," ujarnya kepada wartawan di Medan, Kamis (29/9).

Menurutnya, konsumsi daging unggas Indonesia sekarang ini adalah 7,1 kg/kapita/tahun, sedangkan konsumsi telur berjumlah 10,2 kg/kapita/tahun. Pencapaian swasembada ini jangan sampai negara kita yang sudah swasembada mengimpor produk tersebut.

Memang, lanjutnya, sampai kini belum terlihat penyimpangan impor bibit unggas. Namun begitu pihaknya akan tetap turun ke lapangan untuk melihat langsung dan mengantisipasi, jangan sampai impor bibit unggas ini tidak terkendali.

Cara lain yang dilakukan Dirjen Peternakan, katanya, adalah dengan mensederhanakan surat rekomendasi ekspor menjadi per 3 bulan, agar tidak terjadi pelanggaran-pelanggaran dalam impor bibit unggas.

"Pemerintah selama ini membolehkan impor, namun surat rekomendasinya harus diurus dahulu setiap akan impor. Untuk memudahkan pengusaha, sedang dibahas rencana pembuatan surat rekomendasi baru yang dapat dipakai, paling lama Januari 2012 mendatang," ucap Prabowo.

Surat rekomendasi disederhanakan bertujuan untuk mendorong peternak dalam meningkatkan kapasitas skala usahanya. Mendukung rencana ini, Dirjen Peternakan juga mendorong pemerintah daerah untuk memberikan kemudahan-kemudahan perizinan kepada stockholder. "Jalur birokrasi yang terlalu panjang yang selama ini terjadi, menyebabkan harga semakin tinggi. Inilah yang coba kita kurangi," katanya.

Staf Ahli Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Mastur Aeny Rachman Noor mengungkapkan, agar Indonesia dapat terlepas dari impor pakan ternak, terutama unggas, Dirjen Peternakan mendorong kabupaten/kota untuk meningkatkan produksi jagung untuk ternak.

"Ayam atau unggas kan tidak terlepas dari pakan. Selama ini, kita masih banyak mengimpor pakan ternak, padahal masih banyak lahan kita yang potensial untuk ditanami jagung untuk pakan," urainya.

Katanya, selama ini yang menjadi kendala dalam mendistribusikan produk unggas di Indonesia adalah infrastruktur yang tidak bagus dan perizinan yang berbelit. "Diminta kepada pemerintah daerah agar memberikan kemudahan bagi stockholder, dan kita juga meminta agar pemerintah daerah agar tidak memberikan hambatan-hambatan yang tidak jelas pada stockholder," tandasnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar