Senin, 10 Oktober 2011

Gerakan Sejuta Gambir

Masih bersama Bupati Pakpak Bharat Remigo Yolanda. Dalam obrolannya dengan MedanBisnis, pekan lalu, Remigo mengatakan untuk mendukung pengembangan gambir di daerah itu, pihaknya telah membuat suatu gerakan, yakni Gerakan Sejuta Gambir.
Di mana gerakan yang dicanangkan tahun 2011 ini akan dilakukan secara massal khususnya di daerah-daerah yang memiliki kecocokan agroklimat untuk pengembangan tanaman gambir.

Gerakan sejuta gambir telah dimulai dengan melakukan pengembangan pembibitan gambir.
“Untuk mendukung gerakan sejuta gambir kami telah mengalokasikan dana sekitar Rp 1,3 miliar yang dialokasikan dari Dinas Pertanian. Sementara dari Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) mulai tahun 2006 sampai dengan 2011 jumlahnya sudah mencapai Rp 2,7 miliar,” jelasnya.

Untuk tahun 2011, dana yang dialokasikan sebesar Rp 1,3 miliar tersebut digunakan untuk pengadaan bibit tanaman gambir, perawatan benih serta sarana dan prasarana pembibitan.
Sedangkan dana yang dari Perindagkop digunakan untuk membeli alat pemroses gambir.

Alat ini menurut Remigo telah dibagikan ke masyarakat tani. Namun sejauh ini petani belum tertarik untuk memanfaat alat tersebut karena dianggap rumit. Padahal alat tersebut mampu menekan kehilangan getah gambir disbanding dengan menggunakan alat tradisional yang tingkat kehilangannya lumayan tinggi.

Begitupun, untuk sementara ini, pihaknya tidak akan memaksa petani untuk menggunakan alat modern tersebut. “Secara perlahan-lahan kami akan memberi pembelajaran kepada petani lewat penyulun-penyuluh pertanian bahwa penggunaan alat modern tersebut sangat penting,” jelasnya.

Dari perbincangannya dengan MedanBisnis, Bupati mengatakan, pengembangan gambir ini sudah dirancang sedemikian rupa. Di mana untuk tahun 2011, program yang dijalankan adalah menanam sejuta gambir secara massal dengan lahan seluas 500 hektare. Dan, untuk tahun 2015 diharapkan telah terbangun industri gambir.

“Kami berharap pembangunan industri olahan gambir bisa terlaksana mengingat getah gambir digunakan untuk industri obat-obatan, industri kosmetik, sebagai zat pewarna pada batik dan lain sebagainya,” katanya.

Bahkan pihaknya kata Bupati dengan Badan Litbang telah membahas olahan yang bisa dibuat dari bahan baku gambir. Dan, ternyata gambir bisa dibuat menjadi teh celup dan vitamin yang berbentuk tablet. “Untuk teh celup sendiri kami sudah cobakan dan hasilnya cukup baik. Dan, untuk industri pengolahan ini kami sudah menjalin kerja sama dengan beberapa pengusaha lokal,” jelasnya.

Tingginya semangat Bupati untuk mengembangkan tanaman gambir ini menurut Remigo dilatarbelakangi beberapa faktor, yakni karena gambir tanaman khas atau spesifik Kabupaten Pakpak Bharat, tanaman mudah dibudidayakan dan relatif tidak ada penyakit, tanaman yang komparatif dan kompetitif. Kemudian, gambir termasuk tanaman bernilai ekonomi tinggi, serta termasuk komoditas ekspor.

“Namun, hal yang paling utama karena gambir merupakan tanaman yang sudah membudaya di masyarakat bahkan sudah turun termurun atau regenerasi,” paparnya.

Tujuan pengembangan tanaman gambir ini menurutnya sangat sederhana, yakni meningkatkan pendapatan masyarakat, membuka lapangan pekerjaan serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi Pakpak Bharat.

Mengenai luas dan produksi gambir yang dihasilkan oleh Kabupaten Pakpak Bharat, menurut Remigo tiap tahun mengalami peningkatan meskipun tidak signifikan. Seperti tahun 2009, berdasarkan data yang dihimpun Dinas Pertanian dan Perkebunan Pakpak Bharat, luas tanaman gambir berkisar 1.050 hektare dengan total propduksi 1.523 ton atau rata-rata produktivitas berkisar 1.675,47 kg per hektare per tahun.

Sementara tahun 2010, luasnya bertambah menjadi 1.051 hektare dengan total perolehan produksi mencapai 1.524,50 ton atau rata-rata produktivitas yang diperoleh berkisar 1.677,12 kg per hektare per tahun. “Dengan adanya gerakan sejuta gambir ini dan rencana pembentukan Badan Usaha Milik Daerah yang akan menampung hasil-hasil pertanian unggulan, kami berharap masyarakat semakin tertarik untuk membudidayakannya, apalagi saat ini pasar gambir semakin terbuka,” kata Remigo penuh semangat.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Pakpak Bharat Mukhtar AW, sentra pengembangan tanaman gambir berada di Kecamatan Sitellu Tali Urang (STU) Jehe seluas 582 hektare diikuti Kecamatan Kerajaan seluas 117 hektare dan Kecamatan Tinada seluas 114 hektare. “Sedangakan kecamatan lainnya luasannya kecil-kecil,” terang Mukhtar.

Namun, untuk tahun ini, lanjut Mukhtar, pengembangan gambir akan dilakukan seluas 500 hektare. Akan tetapi, untuk tahun 2012 hingga tahun 2014, pengembangan tanaman gambir akan dilakukan seluas 200 hektare per tahun.


“Dalam sehari saya hanya bisa menghasilkan empat kilogram getah gambir,” ucap Ros Boru Boangmanalu ketika ditemui di lokasi pengolahan berikut tananaman gambir miliknya di Desa Bandar Baru Kecamatan STU Jehe.
Dengan harga jual berkisar Rp 17.000 per kg, ibu anak enam ini bisa mengantongi uang sekitar Rp 68.000 dalam sehari. Jumlah itu jauh menurun dibanding bulan Januari hingga April lalu di mana harga gambir mencapai antara Rp 25.000 sampai Rp 27.000 per kg. “Turunnya harga gambir ini sudah berlangsung empat atau lima bulan yang lalu, dan kami tidak tahu penyebab turunnya harga gambir ini,” katanya lagi.

Begitupun, kalau berbicara untung Ros boru Boangmanalu mengaku cukup lumayan mengingat tanaman gambir ini tidak memerlukan perawatan intensif. Bahkan dari serangan hama dan penyakit tanaman gambir nyaris tidak ada. Begitu juga dengan pemupukan yang dilakukan hanya sekali dalam lima bulan dengan menaburkan pupuk urea dan sekali dalam tiga bulan dilakukan penyemprotan gulma (rumput).

Jadi, lanjutnya, biaya untuk perawatan tanaman gambir sangat sedikit. Di samping itu tanaman gambir dapat dipanen saat tanaman berusia dua tahun. Itu juga yang menjadi alasan bagi wanita berusia 35 tahun ini untuk menanam gambir sekitar tujuh tahun yang lalu “Tanaman gambir kami tidak luas hanya berkisar setengah hektare,” akunya.

Bincang-bincang mengenai teknik pengolahan gambir menurut Ros sangat sederhana dan dirinya sendiri masih melakukan dengan cara manual atau tradisional. Untuk mengambil getah gambir, daun yang dipanen dan dilepas dari ranting-ranting daun direbus sekitar satu jam atau sampai mendidih. Kemudian dimasukkan ke dalam karung atau goni lalu dipress. Getah hasil pressan tadi didinginkan sekitar satu malam hingga menjadi bubur.

Setelah itu dicetak sesuai ukuran yang diinginkan untuk selanjutnya dikeringkan di bawah sinar matahari hingga gambir benar-benar kering. “Biasanya warna gambir yang baik berwarna coklat kemerah-merahan,” kata Ros.

Dalam sehari, Ros mengaku bisa melakukan perebusan hingga dua kali dengan masing-masing kapasitas olahan 20 kg daun gambir. “Dari 20 kg daun gambir yang kita rebus akan menghasilkan bubur gambir sekitar 10 kg. Nah, bubur gambir ini setelah dicetak dan dikeringkan akan menghasilkan gambir kering sekitar 2 kg,” ucap Ros.

Ros sendiri mengaku rendemen yang dihasilkan dengan menggunakan alat tradisional cukup sedikit. Namun, dirinya belum terbiasa menggunakan alat modern seperti yang telah dibagikan pemerintah daerah kepada para petani gambir.

“Memang dengan alat pengepresan yang modern tingkat kehilangan getahnya sangat sedikit namun petani kurang tertarik untuk menggunakannya karena terasa sulit di samping warna yang dihasilkan kurang menarik. Beda dengan menggunakan alat tradisional, gambir yang dihasilkan warnanya jauh lebih menarik dan toke pun senang membelinya,” akunya.

Dikatakan Ros, untuk memperoleh untung yang lumayan harga jual gambir harus di atas Rp 20.000 per kg. Karena itu, selaku petani, Ros berharap kepada pemerintah agar harga gambir ini bisa tetap di atas Rp 20.000 per kg.

“Kalau harga di atas Rp 20.000 per kg, saya yakin banyak petani yang tertarik untuk mengembangkan tanaman gambir ini,” ujar Ros sembari mengatakan gambir yang mereka produksi dijual kepada agen-agen yang datang ke kampung mereka. Dan, harga gambir menurutnya ditentukan oleh pasar luar negeri.


Tidak salah jika Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pakpak Bharat ingin menjadikan gambir sebagai ikon daerah yang baru dimekarkan itu. Alasannya sangat sederhana, karena Pakpak Bharat memiliki potensi yang luar biasa dalam menghasilkan gambir bermutu tinggi.
Bahkan di Indonesia, hanya dua propinsi yang dapat ditumbuhi tanaman gambir yakni Propinsi Sumiatera Utara (Sumut) tepatnya di Kabupaten Pakpak Bharat dan Solok, Propinsi Sumatera Barat (Sumbar). Kedua propinsi inilah yang memberi andil dalam memenuhi pasar gambir di tanah air termasuk pasar internasional.

Pekan lalu kami mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Salak, ibukotanya Kabupaten Pakpak Bharat. Di sana, hampir semua daerah atau kecamatan ditumbuhi dengan tanaman gambir meski skalanya tidak terlalu luas. Namun, secara rata-rata, gambir adalah salah satu sumber penghasilan utama masyarakat setempat di samping kopi.

Meski belum dikelola secara modern namun masyarakat Kabupaten Pakpak Bharat tetap mempertahankan tanaman gambir sebagai penopang kebutuhan hidup keluarganya. Betapa tidak, tanaman gambir yang selama ini dikelola secara regenerasi atau turun temurun memberikan keuntungan yang luar biasa bagi masyarakat setempat. Itu karena dalam budidaya tanaman gambir tidak memerlukan perawatan intensif sementara harga jual relatif tinggi.

“Saat ini harga gambir memang sedang turun berkisar Rp 17.000 per kilogram (kg) dibanding bulan-bulan sebelumnya yang sempat mencapai antara Rp 25.000 hingga Rp 27.000 per kg.
Namun, karena perawatannya sangat mudah dan sederhana, petani tidak akan terlalu dirugikan bila harga turun menjadi Rp 17.000 per kg,” kata Bupati Pakpak Bharat Remigo Yolanda Berutu memulai obrolannya, di ruang kerjanya, Kantor Bupati Pakpak Bharat.

Begitupun bukan berarti Bupati lepas tangan terhadap turunnya harga gambir tersebut. Saat ini, Bupati bersama satuan kerja perangkat daerah (SKPD) terkait tengah merencanakan adanya suatu lembaga untuk menampung seluruh hasil-hasil pertanian unggulan daerah tersebut khususnya getah gambir.

Bahkan menurut Bupati yang saat itu didampingi Asisten II bidang Administrasi dan Pembangunan Sustra Ginting, peraturan daerah (Perda) untuk pendirian semacam Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) bidang usaha menampung hasil-hasil pertanian khususnya komoditas unggulan telah disahkan. “Ini strategi atau solusi yang akan kami realisasikan untuk mengatasi persoalan harga produk pertanian petani yang kerap anjlok saat panen raya tiba,” katanya.

Dengan adanya lembaga tersebut, lanjut Remigo, petani akan diuntungkan karena harga yang ditawarkan selalu tinggi. Misalnya, bila harga gambir turun seperti sekarang ini yakni Rp 17.000 per kg, sementara harga kontrak yang telah disepakati sebelumnya dengan pihak perusahaan Rp 18.000 per kg maka lembaga tersebut akan membeli gambir sesuai harga kontrak.

Namun, bila harga pasar lebih tinggi dari harga kontrak yang disepakati katakanlah hingga mencapai Rp 27.000 per kg (harga pasar-red) maka petani boleh menjual getah gambirnya ke pasar meski diawal sebelumnya sudah ada kontrak antara lembaga dengan petani.

Artinya, kontrak atau kesepakatan yang telah disusun sebelumnya tidak berlaku permanen atau bisa berubah jika harga pasar memang lebih tinggi. “Jadi, sebelumnya antara lembaga dengan petani dalam hal ini kelompok tani akan membuat perjanjian terhadap harga getah gambir,” terang bapak tiga anak ini.

Karena hargalah yang selama ini menjadi kekhawatiran petani dalam mengembangkan tanaman gambir secara komersil. “Nah, dengan adanya lembaga ini, harga gambir bisa meningkat dari sekarang, hingga akhirnya petani terpacu untuk memanfaatkan lahannya untuk menanam gambir dan merawatnya dengan baik,” kata Remigo.

Dengan adanya lembaga BUMD tersebut selain dapat meningkatkan pendapatan petani juga mempermudah petani mengakses pasar luar negeri. Apalagi selama ini, getah gambir yang diproduksi petani di Pakpak Bharat tidak hanya mengisi pasar dalam negeri saja tapi juga pasar luar negeri seperti India, yang permintaan akan getah gambir cukup tinggi.

Bahkan 80% dari total kebutuhan gambir India dipasok dari Indonesia termasuk Pakpak Bharat. “Jangankan India, pasar dalam negeri kita saja hingga kini masih kurang apalagi untuk ke depannya, permintaan gambir akan jauh lebih besar mengingat manfaat gambir yang begitu luar biasa,” terang Bupati.

Alasan itu juga yang membuat Bupati Remigo Yolanda menjadikan gambir sebagai salah satu produk unggulan Pakpak Bharat yang siap mengisi pasar internasional. “Pasar sudah ada, tinggal bagaimana kita memanfaatkan pasar tersebut. Karena itu kita harus mempersiapkan sektor hulunya dalam hal ini budidaya tanaman gambir. Sehingga permintaan gambir bisa terpenuhi engan baik,” kata Bupati optimis. (MB)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar