Kamis, 20 Oktober 2011

Peluang Usaha Pertanian : Aneka olahan lidah buaya diekspor ke mancanegara









Selain mempunyai banyak khasiat, lidah buaya alias aloevera juga bisa diolah menjadi berbagai macam produk. Mulai dari produk perawatan wajah dan tubuh, hingga produk makanan. Bahkan, pemasaran produk olahan lidah buaya ini sudah merambah pasar ekspor. Seorang pengusaha asal Pontianak, bisa meraup omzet hingga ratusan juta sebulan dari beragam produk lidah buaya.

Di Pontianak, Sunani mengembangkan berbagai produk dari lidah buaya. Mulanya, ia hanya memproduksi jeli dan dodol dari bahan ini. Kini, perempuan 38 tahun ini juga memproduksi stik, keripik, pilus, cokelat, hingga sabun mandi. Semuanya dari lidah buaya.

Bahkan untuk kulit lidah buaya yang tadinya tidak digunakan, ia kembangkan menjadi berbagai macam kerajinan untuk suvenir. "Saya menggunakan merek usaha I Sun Vera untuk berjualan," ujar Sunani.

Untuk memproduksi berbagai produk tersebut, ia butuh dua ton lidah buaya dalam sehari. Sunani mendapat pasokan bahan baku itu dari Pontianak. Maklum, kota di ujung barat Pulau Kalimantan ini memang terkenal sebagai penghasil lidah buaya berukuran jumbo.

Selain kota-kota besar di Indonesia, kini Sunani telah mengirim produknya ke luar negeri, seperti Malaysia, Brunei, dan Jepang. "Saya harus mengirimkan sabun sebanyak 200 kotak setiap minggu untuk pasar ekspor," ujar Sunani. Dari beragam produk tersebut, ia pun bisa meraup omzet lebih dari Rp 100 juta per bulan.

Selain Sunani di Pontianak, Pranadipa di Semarang, Jawa Tengah, juga memanfaatkan khasiat yang terkandung dalam lidah buaya, Apoteker dan produsen krim perawatan wajah dan tubuh ini juga membuat krim berbahan lidah buaya. "Lidah buaya bisa mempercepat penyembuhan luka karena merangsang pembentukan kulit baru," ujarnya.

Dengan mengusung merek Healby, Pranadipa membuat krim dari lidah buaya untuk kulit kering, bekas luka, dan krim bekas jerawat. Ia menjual produknya itu dengan harga mulai Rp 25.000 hingga Rp 70.000 per pot berukuran 10 gram hingga 15 gram. Soal pasokan lidah buaya, Pranadipa juga tak kesulitan. Beberapa pemasokselalu siap memasok.

Pranadipa memang hanya memproduksi krim. Ia tak membuat sabun, karena berbeda dengan krim yang bisa digunakan sepanjang malam, sabun hanya melekat beberapa detik.

Krim Healby pun telah dipasarkan di beberapa kota besar di Indonesia. "Permintaan selalu ada, karena orang sudah mengetahui khasiat dari lidah buaya," ujar Pranadipa. Sayang, ia enggan menyebutkan omzet yang diperoleh dari penjualannya krim lidah buaya ini.

Seperti Sunani, mengolah lidah buaya menjadi produk makanan juga dilakukan oleh Betty Nur Anisa. Ia memproduksi stick lidah buaya.

Dalam satu hari, Betty sanggup mengolah 20 kilogram (kg) lidah buaya untuk pembuatan stik. Dari bahan sebanyak itu, perempuan yang juga asal Pontianak ini bisa menghasilkan 20 kg stik per hari. Sebulan, produksi stik mencapai 480 kilogram. Ia pun bisa meraup omzet hingga Rp 24 juta tiap bulan. "Omzet dari stik memang besar," tutur Betty.

Maklum, masyarakat Pontianak sangat menggemari camilan lidah buaya ini. Namun, tak hanya terbatas di Pontianak, Betty juga memasarkan produk olahan lidah buaya ini hingga Malaysia, Belanda, dan Australia. "Setiap dua hari sekali, pelanggan saya dari Malaysia datang," katanya senang.(KONTAN)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar