Senin, 12 September 2011

Penyuluh Pertanian Swadaya Bisnis Ternak Ayam Organik dan Ekspor Lobak


Membayangkan masuk ke Istana Presiden dan ketemu orang nomor satu di Indonesia, mungkin tak pernah dimimpikan Gosner Sitanggang. Bapak tiga orang ini memang sangat pantas untuk mendapat penghargaan hingga bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dengan pengabdiannya sebagai penyuluh swadaya sejak 1995 dan ikut serta mengembangkan sektor pertanian di Kabupaten Simalungun.

Pria berusia 53 tahun ini banyak mengabdikan diri memajukan peternakan ayam yang dimulai tahun 1977 di Kabupaten Simalungun. Selain sebagai penyuluh pertanian swadaya, Gosner juga sehari-hari bertugas sebagai guru jemaat Huria Kristen Indonesia (HKI).

"Menjadi penyuluh pertanian memang pilihan saya. Dilahirkan dari keluarga petani, membuat saya mencintai dunia pertanian yang memang prospeknya besar tapi kurang perhatian," ujarnya kepada MedanBisnis yang menjumpainya bersama Kepala Bidang Kerjasama Penyluhan Badan Koordinasi Penyuluh (Bakorluh) Sumut, Ellen Nova beserta staf Bakorluh, Robinson Tampubolon di kediamannnya Desa Bandar Dolok Kecamatan Dolok Panribuan Kabupaten Simalungun.

Menurutnya, perkembangan pertanian di Sumut khusus daerahnya tidak ada dan ini sangat miris padahal banyak potensi alam yang dapat dikembangkan sehingga menghasilkan pendapatan masyarakat. Melihat kondisi inilah, awalnya Gosner melakukan pendekatan kepada petani sekitar di suasana tidak resmi seperti di warung-warung agar petani lebih semangat.

"Sebenarnya semangat petani kita masih ada, tapi etos dan kepercayaan diri itu masih kurang. Mungkin saja ini karena terhambat oleh pengetahuan yang mereka miliki sangat minim dan tradisional," katanya.

Dengan semangat tanpa pamrih, Gosner juga ikut membentuk kelompok tani dan terus bertanggung jawab serta membimbing petani yang membutuhkan pengetahuannya. Apalagi ia lebih serius mempelajari pertanian setelah mendapat arahan dari pendetanya yang pergi ke Jepang tahun 2002. Kemudian ilmu tersebut pun disalurkannya kepada petani khususnya pertanian organik.

Saat ini dengan ilmu yang ditularkan pendeta tersebut, Gosner yang juga Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Dolok Panribuan telah membangun kemitraan pemasaran ayam organik dengan UD Gizi Ternak di Pematangsiantar. Selain itu juga membangun kemitraan pemasaran day old chicken (DOC) dengan UD Gizi Ternak di Pematangsiantar.

"Pengembangan ayam kampung punya pasar dan prospek cerah. Apalagi dengan pemeliharaan melalui organik baik dari pakan hingga pestisida yang diperlukan. Kecenduran back to nature ini sebagai momen yang pas untuk mengembangkan pasar ayam kampung ini," katanya.

Gosner yang juga pernah meraih piala Gubernur Sumatera Utara 2010 tentang penyuluh swadaya tingkat propinsi dan Harapan III tingkat Nasional ini, memang sangat serius mengembangkan pertanian dan peternakan organik. Tanaman padi dan kakao masing-masing seluas dua hektar ini semuanya menggunakan bahan organik.

"Sudah saatnya kita mengembangkan pertanian yang ramah lingkungan dengan back to nature sehingga mempercepat produktivitas tanaman yang berkualitas," ucapnya dengan tegas.

Untuk perkembangan peternak ayam kampung organik ini tidaklah sulit, ke depan tidak sulit selain memang sudah mampu membuat mesin tetas ayam kampung dengan tingkat keberhasilannya 85-90%.

Sama halnya dengan tenaga penyuluh pertanian lainnya, Opat Parulian Purba. Meski sebagai penyuluh pertanian Pegawai Negeri Sipil (PNS), dengan tekad dan semangatnya mengembangkan sektor pertanian akhirnya membawa bapak berusia 44 tahun ini berangkat ke Istana Presiden saat merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia ke 66 tahun pada 17 Agustus 2011.

"Sulit memang menjadi penyuluh pertanian karena masyarakat masih terkukung dengan adat istiadat. Lagian sampai sekarang pun masih sulit mengembangkan kelompok tani yang sudah ada agar dapat lebih berkembang," akunya yang menjadi PNS dari tahun 1996 di Desa Silando Kecamatan Muara Kabupaten Tapanuli Utara.

Diungkapkannya, memang masih mendapat kesulitan dalam memberikan penyuluhan kepada petani karena ada saja yang tidak menyukai tapi sebaliknya juga ada yang menyambut positif.

Dengan melakukan pendekatan pertemanan melalui adat, Opat tidak lupa memberikan ilmunya tentang pertanian sehingga petani kembali memiliki semangat dalam meningkatkan produktivitas tanaman sehingga target swasemabada pangan berkelanjutan dapat tercapai.

"Jika pertanaman dapat baik, pastinya akan membawa peningkatan pendapatan kepada petani. Jadi saya akan terus melakukan dampingan dan memberikan ilmu bagi setiap siapa saja yang membutuhkan," tegasnya.


Bagi Gosner Sitanggang, penyuluh pertanian swadaya ini, mengembangkan sektor pertanian itu tidak rumit asal ada semangat dan kemauan untuk maju. Saat ini dengan beternak ayam kampung sebanyak 700 ekor dengan keuntungan sekitar Rp 10 jutaan.
Kalau dihitung pemeliharaan 1.000 ekor ayam, dikatakan Gosner, bisa mendapatkan keuntungan sekitar 14 juta dengan hanya menunggu 90 hari pemeliharaan ayam setelah dipotong dengan biaya pengeluaran untuk fermentasi, biaya tetap dan tak tetap.

"Pendapatan dari 1.000 ekor ayam dengan harga rata-rata Rp 35.000/ekor bisa mencapai Rp 35 juta dan ini ditambahlagi dengan penjualan kompos ayam atau pupuk kandang sebanyak 5.000kg dengan harga Rp 500/kg," rincinya.

Untuk anak ayam kampung ini, katanya, diperoleh dengan membeli dari pengusaha pembibitan dan pembesarannya dilakukan dengan pemeliharaan secara intensif dengan kandang fermentasi.

Ayam yang dipasarkan dengan bobot 1 kilogram karena ini yang snagat diminati oleh masyarakat untuk konsumsi seperti pasar, rumah makan dan restoran. "Harga ayam kampung selalu stabil pada bobot ini dan harga jualnya yang tinggi sehingga menguntungkan," ucapnya.

Dijelaskan Gosner, tertariknya ia mengembangkan peternakan ayam kampung organik ini karena setelah belajar dari Pendeta yang telah belajar tentang pertanian di Jepang. Selanjutnya melihat keuntungan dan peluang pasar yang masih besar, membuatnya bersemangat mengembangkan usaha tersebut. Apalagi ayam kampung atau buras ini banyak dikenal masyarakat Indonesia dan pemeliharaannya sudah sampai ke kota-kota.

Ayam kampung ini juga mempunyai sumber gizi yang bermanfaat bagi kesehatan, pertumbuhan dan kecerdasan. Keunggulan ini didukung pula dari fermentasi kandang ayam buras yang ramah lingkungan, tidak mengandung bau, menjauhi bakteri yang menganggu kesehatan pada yam, menghasilkan makanan pada yam hasil uraian mikroorganisme aktif pada kandang ayam dan lebih cepat pertumbuhannya.

"Tujuan memberlakukan sistem kandang ayam fermentasi ini kita dapat menghasilkan mikroorganisme yang bauk berasal dari nasi, buah, jerami dan serbuk gergaji. Dengan pemberlakuan ini, dapat bekerja dengan baik sehingga berbagai penyakit, virus, bakteri dan jenis penyakit lain bisa dihalau dengan baik," jelas Gosner.

Untuk itu, lanjutnya setiap masyarakat bisa mengembangkan peternakan ayam kampung ini dengan cara yang benar dan sehat sehingga dapat bermanfaat bagi manusia yang mengkonsumsinya. Peluang ayam kampung yang sehat untuk dikonsumsi ini masih terbuka lebar dengan semakin maraknya rumah makan yang khusus menyediakan daging ayam.

"Ini pertanda sudah saatnya memberi perhatian khusus untuk pemeliharaan ayam kampung yang bobot seragam dan juga beternak dengan mengarah spesialisasi yakni secara organik. Tidak hanya menunjang kesehatan tapi juga menambah penghasilan keluarga," tutur Gosner.

Ekspor Lobak
Lain halnya dengan Opat Parulian Purba, penyuluh pertanian PNS yang juga berhasil mengembangkan sektor pertania di Tapanuli Utara. Dengan keyakinan dan semangatnya, kini sudah banyak petani yang mengembangkan beberapa komoditi untuk dipasarkan hingga ke luar negeri.

"Kalau dulu masyarakat ini penghasilannya dari menjual kayu-kayu yang ditebang di hutan. Tapi kini sudah berbeda, mereka bertani dan bahkan mengembangkannya hingga menembus pasar ekspor melalui kerja sama dengan perusahaan eksportir lain," jelasnya.

Bapak dari empat orang anak ini sendirinya sudah mengembangkan tanaman komoditas lobak seluas 20 rante dengan hasil sebnayak 75 ton dan telah diekspor ke Jepang melalui kerjasama dengan PT TAM. Dari MoU tersebut, Opat dapat memperoleh keuntungan sekitar Rp 22 juta dalam waktu dua bulan memasuki masa panen tanaman.

"Untuk modal yang dikeluarkan dengan lahan seluas tersebut sekitar Rp 8 juta termasuk pembelian bibit Rp 100 ribu/ bungkus untuk luas satu hektar," katanya yang juga Koordinator BPP Siborong-borong ini.

Kerja sama ini memang sangat membantu petani dalam mendapatkan tambahan penghasilan. Namun begitupun tetap diharapkan harga jual kepada petani dapat ditingkatkan dan pemerintah dapat membantu petani dalam pemasaran dan sarana serta prasarana pertanian lainnya sehingga produktivitasnya tetap tinggi.

"Tanaman lobak ini juga ada serangan hama dan penyakitnya, tapi karena kita menggunakan agen hayati maka itu semua dapat teratasi. Apalagi Jepang sangat mensyaratkan komoditas itu organik atau bebas dari bahan pestisida yang tinggi," pungkas Gosner.


Bagi bangsa Indonesia yang merupakan negara agraris ini, pertanian bukan hanya sekedar bercocok tanam untuk menghasilkan bahan pangan. Pertanian sudah menjadi bagian budaya, sekaligus nadi kehidupan sebagian besar masyarakat. Bahkan, maju mundurnya bangsa Indonesia sangat bergantung pada keberhasilan membangun sektor pertanian.
Mengembangkan sektor yang sangat tergantung dengan sumber daya alam (SDA) ini, pastinya bukan pekerjaan mudah dan dilakukan oleh satu orang atau pihak saja apakah itu pemerintah pusat, propinsi, daerah dan bahkan hanya petani. Masih rendahnya tingkat pendidikan petani, menjadi kenyataan pahit yang harus dihadapi dalam ikut serta meningkatkan sektor pertanian yang merupakan salah satu tulang punggung pendapatan masyarakat Indonesia.

Hadirnya tenaga penyuluh pertanian, perkebunan dan kehutanan menjadi sangat penting dan tombak utama dalam membimbing petani agar melakukan pengelolahan yang benar dan berkualitas, sehingga pendapatan perekonomiannya ikut meningkat. Tapi kembali lagi, dengan kenyataan masih kurangnya tenaga penyuluh di lapangan, membuat kinerja target sedikit terhambat.

Dikatakan Kepala Bakorluh Sumut, Kepala Badan Koordinasi Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (Bakorlu) Sumut, Pulung Hutabarat melalui Kabid Kerjasama Penyuluhan Bakorluh Sumut, Ellen Nova didampingi Robinson Tampubolon, penyuluh pertanian bukanlah suatu hal yang bisa ditangai secara mandiri namun memerlukan keterkaitan dan kerja sama antarlembaga. Bahkan kehadiran penyuluh swadaya sangat membantu perkembangan sektor pertanian.

"Kita memang sangat membutuhkan banyak hadirnya tenaga penyuluh swadaya yang dengan ikhlas membantu kemajuan pertanian di Sumut. Terbukti seperti bapak Gosner Sitanggang yang kini telah sukses dan tinggal mencicipi hasil dari kerjanya yang ikhlas membantu petani tanpa meminta bayaran. Sekarang malah bapak ini disuruh sebagai pembicara yang banyak dibutuhkan tidak hanya di daerahnya tapi sampai se Sumut," katanya dengan bangga.

Penyuluhan pertanian, merupakan salah satu pilar utama pembangunan pertanian di Indonesia. Meski saat ini jumlah tenaga penyuluh di Sumut masih kurang yakni sekitar tenaga penyuluh pertanian baru sebanyak 2.987 orang terdiri dari 1.143 Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan 1.844 orang Tenaga Harian Lepas Tenaga Bantu (THLTB). Ini berarti Sumut masih kurang sekitar 2.493 orang bila dibandingkan jumlah desa sebanyak 5.434 desa se Sumut.

"Secara efektif seharusnya memang satu orang penyuluh mendampingi satu desa, tapi dengan kondisi ini tidak bisa dilakukan," katanya.

Petani, kata dia, memang sangat membutuhkan hadirnya tenaga penyuluh guna memberi bimbingan, pengawasan dan latihan untuk meningkatkan produktivitas tanamannya. Dengan kondisi tenaga penyuluh yang dimiliki saat ini, pihaknya pun terus melakukan peningkatan kinerja penyuluh berupa pemantapan latihan, kunjungan, supervisi dan evaluasi (Lakususi). "Selain itu, Bakorlu tetap mempersiapkan peningkatan sumber daya manusia (SDM) pada seluruh penyuluh pertanian di Sumut, khususnya dalam menguasai teknologi perubahan iklim atau anomali agar dapat mengatur pola tanam lebih baik sehingga produksi tidak terganggu," katanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar